Mengkritik Alokasi dalam Hati

“Bisa coba lagi?” Pintanya lagi. Sudah enam kali aku coba menyelesaikan transaksi tersebut, tapi tetap saja belum ada uang masuk di rekeningnya. “Hhhh..” Aku menahan napas dan mencoba mengeluarkan perlahan kekesalanku seiring karbondioksida yang kuhembuskan.  Bukan gimana, aku akan jauh lebih sabar jika transaksi gagal ini dicoba beberapa kali untuk hal yang baik untuk badannya….

Mimpiku Mati di Sydney

Selang bulan berada di Australia, aku bulatkan niat untuk bersaing dengan warga lokal, untuk mendapatkan lisensi dan siap bersaing di benua lain. Bukan biaya yang sama sekali sedikit, aku harus menabung jauh hari dan terbang ke Brisbane selama 2 minggu untuk melengkapi semua persyaratannya.   Semakin dekat dengan Sydney saat perjalanan panjang bersama sahabatku, Albane…

Mencerna Kata

Bila satu hari ini diciptakan untuk kamu, tentu saja aku mau menjadi bagian dari harimu. *** “Ngga ada yang sangka loh kamu kembali ke Australia,” tepian walking track Cairns Esplanade pemandangannya terlalu biasa, tapi cukup menyenangkan untuk menghabiskan percakapan sederhana dengan orang semenyenangkan Bastiaan. Dia hanya menyeringai, “aku menunggu adikku sampai umur 18 tahun dan…

Seni Meminta Oleh – oleh

Aku sudah pernah menerbitkan artikel yang sejenis di akun Hipwee, tetapi tidak ada salahnya menyajikan kembali di akun pribadiku. *** “Oleh – oleh yaaaa..” pinta seseorang yang baru aku kenal satu bulan. Baru.satu.bulan. “Tapi kan gue stay di sana, bukan liburan.” Belaku, masih sopan dan senyum. “Yaa pokoknya pas kembali ke sini langsung bawa oleh – oleh.”…

Kembali untuk Kembali

Cemas berlebihan, lebih parahnya lagi, berkepanjangan. Aku ingat satu zona gelap terjadi di tahun yang baru berjalan 4 bulan ini. Bulan dua, pertama kalinya aku merasakan terasingkan. Terasingkan karena aksara, budaya dan bahasa yang berbeda. Padahal ini sudah tahun kedua, harusnya semua perbedaan menjadi mudah. Aku sang minoritas. Ini juga bukan kali pertama terjadi. Aku…

Sekar yang Hilang

  Entah sudah berapa lama Sekar menghilang. Aku sudah mengincarnya dari tiga bulan lalu. Selalu berada di tempat yang sama.   Bergeming. Mengundang. Tanpa menggoda. Namanya Sekar. Perjalananku dari stasiun Homebush sampai sejengkal meter ke stasiun Newtown menjadi berbeda. Karena Sekar sudah menghilang. Sesalku tidak ada efek apa – apa. Aku sudah tahu aku harus…

Titik Kritis

“Ini nasi Padang terenak yang pernah aku coba!” Seru Niana. Di depannya tersaji nasi dengan ayam rendang, daging rendang dan sayur nangka. Tidak puas dengan menu dua daging, Niana menambahkan satu perkedel kentang. “Tamak,” seloroh Dirga. Niana tidak merespon, acuh tak acuh. Empat belas dolar dan lima puluh sen untuk satu porsi. Cukup mengobati kerinduan…

(Sudah) Lima Bulan di Mareeba

“I’m pretty sure someone will get fired today” “I will withdrawn my gift for you because you keep making mistakes” “Can you do faster, Ray?” Itu adalah ancaman sehari – hari dari sang Supervisor saat melihat cara kerjaku di minggu pertama berkerja di banana shed. Aku ingat setiap kata pengantar di email saat aku sibuk…

Scams di Australia

Menjadi WHV tidak melulu banyak senangnya. Kalau kamu berpikiran seperti itu, silakan pikir – pikir lagi untuk apply visa WHV di tahun ini atau tahun berikutnya. Seperti contoh sederhananya adalah scam. Scam ini mengincar backpacker yang sedang menetap di Australia sementara waktu. Karena kita sebagai pendatang, ada beberapa backpacker yang mudah merasa ketakutan saat mendapatkan scam seperti ini. Maka di posting ini, aku memberikan informasi yang aku…

462 Holder Story: Sunriset in Mareeba

Sunset at Walsh Street, Mareeba Akan selalu ada dua jawaban yang berbeda mengenai kota ini, tidak betah untuk berlama – lama atau kota yang bagus untuk menabung.   Aku selalu ingat bagaimana aku sampai di kota ini dan bagaimana caraku akhirnya mendapatkan pekerjaan. Nekat. Sunrise behind my working hostel, Mareeba Di Februari, aku menetap di…