Melepas Kepingan Jigsaw Rutinitas ( part 2 )

This slideshow requires JavaScript.

 3. Dieng Plateau

Jam 5 kurang,sudah terbangun. Dan bersiap siap nyekar dulu bersama adik gue saja, kangen mengunjungi tempat peristirahatan nenek yang sudah 3 tahun tidak di datangi. Makam keluarga ini, adalah jenis makam yang nggak akan bikin lo bergidik walau masih gelap lo berkunjung kesana. Komplek makam ini,ah..subhanallah..berada di pinggir jurang, dengan 3 gunung berjejer di depannya. Lagi lagi lo bisa liat kabut berjalan, atau sunrise disana. Dan makam nenek gue persis d pinggir jurang dengan pemandangan 3 gunung tersebut, ah subhanallah mbah, mbah pasti seneng banget bisa istirahat disana 🙂

Dan setengah 7an kita berangkat menuju Dieng menggunakan microbus. Perjalanan, kalau dari longkrang ya, memakan waktu kira – kira 1 jam.Murah.Ongkosnya sangat murah.3rb/orang saja. Sebelum mencapai tujuan pun, mata kita sudah di sajikan pemandangan – pemandangan yang bikin hati lo sesak,sesak sekali, saking bingung kata apa dalam Bahasa atau English atau Urdu yang bisa mendeskripsikan indahnya pemandangan itu,gue nggak bohong,and this isn’t about the destination,this is about the journey,walau gue akui, perjalanan dan tujuannya pun untuk hal ini porsi keindahannya sama. Dan di tempat seperti ini,di puncak gunung, di dasar laut, di dalam gelapnya gua, tempat dimana elo ngga bisa berhenti mengucap syukur sama sang Khalik yang telah menciptakan keindahan misterius sedemikian rupa.

Sampai juga…

Karena kita ber3 pure ngeteng total, jadi semua dilakukan dengan berjaaalan kaki,kalo yang nggak suka jalan kaki jauh jauh sampe 10 km ya naik ojek,tapi apa nggak sayang sama pemandangan keren yang elo lewatin dengan cepat seiring laju motor? Apa lebih bijaknya kita berjalan,pada saat kaki sudah lelah mengayun, kita istirahat menghadap hamparan maha karya alam di sekeliling kita,lalu merasakan kekuatan entahlah darimana sampe elo sanggup untuk mulai berjalan lagi.Trust me, my last option is better than using ojek J

Disana dingin.Dingin sekali,dengan ketinggian 2093 m-an.Tapi gue tidak memakai jaket sama sekali,tidak,gue biarkan udara dingin yang baik untuk rongga badan gue yang udah bertahun tahun kena udara jelek ibu kota,biarkan udara pegunungan ini menyerap di seluruh organ,tulang sampai relung hati. Biarkan saja..

Jarak dari satu objek ke objek lain jauh. Jauh sekali. Jarak dari Candi Arjuna – Kawah Sikidang 2.5 km. Dari komplek Candi Arjuna – Kawah Sileri itu 4.0 km.Yah kira2 segituan lah. Dan selama 3.5 jam yang singkat itu kita berhasil mendatangi Seluruh Komplek Candi, Telaga Warna, Telaga Pangilon dan 3 goa, Dieng Theatre dan Kawah Sikidang,entahlah udah berapa kilometer kita berjalan. Kita udah nggak bisa ke kawah yang terjauh, kawah Candradimuka, karena terlalu jauh dan waktunya sempit sekali disana
😦

  1. Komplek Candi – Candi

Kita datang ke Komplek CANDI – CANDI. Seperti Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Bima,dll bahkan gue lupa.Letaknya cukup berjauhan yah,tapi masih di satu komplek. Tapi ada satu kesamaan di semua candi itu,next time kalo lo ke Dieng,please cariin dimanakah di antara komplek candi itu yang masih punya arca. Karena mnurut gue dan gue yakin benar, arca nya sudah tidak ada,hilang,lenyap,,,,raib.Raib? Yah,raib. Arca arca itu di ambil orang, di jual dengan harga kisaran 500 jt- milyaran rupiah. Sigh…

  1. Goa Semar, Goa Jaran,goa apalagi yah..haha,Telaga Warna, Telaga Pangilon ( cermin )

Nggak usah di hitung jarak yang udah kita tempuh, ntar ngos – ngosan sendiri mikirnya,hahah..

Objek berikutnya, kita melintasi perkampungan warga, dengan rute yang pastinya naik turun kayak roller coaster.

Telaga Warna itu indah sekali. Kata Om gue, dulu warnanya lebih cantik dari ini, lebih hijau, karena di dasar telaga ada banyaak permata berwarna hijau, yang meneruskan warna indahnya hingga ke permukaan air, ah pasti indah sekali. Tapi dulu, banyak turis asing yang menyewa penduduk sekitar dengan bayaran mahal untuk menyelam ke dasar telaga dan merampas permatanya satu – satu. Turis turis nakal minta di sentil. Alhamdulillah..telaga itu masih indah, apalagi kalau dilihat dari atas,dengan gradasi warna hijau dari pinggir ke tengah dengan sekelebat warna kuning dan kabut berjalan di atas permukaan airnya.

Yang cukup mengecewakan adalah Telaga Pangilon, gue nggak tau apa yang terjadi dengan telaga itu, telaga yang dulunya sebening cermin, sekarang bener – bener butek,coklat, no one go there  to take some pictures. I’m wondering why…

Goa – goe itu cantik. Kecantikan yang misterius. Gue sangat mau masuk ke 3 goa itu, tapi waktu ada warga yang kebetulan melintas di situ dan gue Tanya boleh nggak gue masuk kesitu, orang itu hanya nyengir, jadi gue Cuma yah mengurungkan niat gue untuk masuk kesana, dan foto di depannya aja. Tapi gue masih penasaran, sumpah maati aku jadi penasaraaaan *dangdut mode : on

  1. Last but not least, Kawah Sikidang

Kita jalan menuju Kawah Sikidang melewati Dieng Theatre dulu dan menaiki ratusan anak tangga yang bikin ngas nges ngos sejuta umat. Dari teater sana, kawah tersebut udah keliatan dari kejauhan, dari jauh ( attached ). Lagi – lagi harus berjalan super duper jauh,, saking seringnya jalan, kita malah jadi resisten untuk terus berjalan, karena kalau berhenti,kaki kita malah jadi sakit,hahah.

Setelah membayar tiket ( rp 6000/ Person ), kita berjalan menuju Kawah Sikidang. Disana, di dieng juga ada penglohan tenaga panas bumi,namanya PT Geo Dipa Energi if I’m not wrong yah.

Sesampainya disana

Bau telur busuk sudah menyambut kita,hahah. Sumpah yah, waktu gue kuliah itu,,kita paling anti-takut-jijik kalau udah mesti nambahin larutan H2S pekat di prosedur analis kualitatif kita waktu di lab. Kenapa? Karena H2S itulah yang bikin temen gue batal puasa karena saking busuk bau nya. Dan gue pun kayak masuk k lubang buaya yang bau mulutnya kayak bau H2S. Tapi sepertinya idung gue udah resisten sama bau sulfur itu, jadi gue ngga perlu pake masker. Yang nggak tahan bau gas sulfur disana di jual kok masker, Monggo di beli loh.

Perjalanan se-jam dan kita disana Cuma 10 menit,haha,soalnya tiba – tiba mendung dan nggak ada yang bawa payung, jadi kita kembali ke starting point kita, berjalan sekitar 3 km dengan medan yang yah..naik turun gitu

Waktu kita sempit, hanya 4 jam, dan tidak cukup menurut gue yah, kalau aja waktu lebiih panjang, mungkin gue akan nekat masuk ke goa nya, atau ambil jalur trekking yang ada disana. Pesan gue kalau kesana :

1)      Di objek wisata goa dan telaga warna itu ( jadi satu bayar tiketnya ), harusnya membeli tiket dengan harga  tertentu, tapi kalau loket tutup berarti ada penjaga yang nyuruh kita beli loket illegal, Awal2 dia minta 5rb/orang, tapi pas om gue kasih 10rb buat 3 orang,dia juga mingkem,haha,jadi kasihlah uang illegal itu secara bijak.

2)      Banyak yang nawarin ojek disana, dengan rute urutan objek yang mereka tawarkan , kerennya ada paket paketnya lah tuh abang ojek mau nganterin kemana aja urutannya dengan harga yang beragam, kalau tertarik cus lah di tawar harganya,syukur syukur bisa Bahasa Jawa, tapi kalau lo ngga make jasa ojeknya dan lo tanya2 jalan sama mereka,pasti di kasih tau kok,nggak kayak mayoritas tukang ojek di Jakarta,ngga make jasa nya nanya jalan nggak di kasih tau,hahah

3)      Take nothing but pictures, leave nothing but footprint

Dan kita pun pulang ke bawah, mata udah lelah,kaki udah cenat – cenut kayak SM*SH tapi sayang kalau panorama itu dilewatkan, karena mendung, kabut pun turun,dan yah..ini pemandangan yang paling gue suka selain pelangi dan kilat : kabut berjalan :p

Sesampai di bawah, kita makan bakso bakar dulu,mure loooh, 8500/7 tusuk,bakso nya gedi gedi temen loh *jawa ngaco. Lalu ke Magelang sehari,nothing special there,nothing to share.

4. Back to Tangerang,memasang kembali Jigsaw Rutinitas

Menggunakan transportasi bus lagi seat 2-2, dan bangku gue,haha seharusnya bukan yang deket jendela, tapi dengan pesona saya,mas mas nya mau menukar tempat duduknya. Maaf mas,makasih mas,tapi saya senang menikmati perjalanan panjang di sebelah kaca persis :p

Yah perjalanan yang melelahkan, dan gue pun banyak menulis, banyak tidur, banyak dengerin musik, banyak ngelindur * ngga deh. Tapi semakin mendekati area 021 semakin ingat dengan semua aktifitas yang akan di hadapi hari Senin itu, preparation test, bongkar bawaan,misah2in oleh oleh, nge charge handphone,Selasa kerja,huwaa….jigsaw nya udah banyak banget dan ruwet deh.

Yah..gonna back to Wonosobo soon, I will, I should

Aduh gue speechless mau cerita apalagi, enjoy the photos aja yah, foto yang ada gue nya ngga gue upload, tapi kalo mau request sok via inbox FB, DM Twitter, komen blog, sms , chat y!m, chat What’sApp,chat LivePro,Gtalk,dll,gue SIAP mengirim ke alamat email anda,hahahah!!!

Thanks for reading sistah and bradah

Keindahan panorama yang gue lihat selama lebih dari 24 jam banyak yang tidak bisa di torehkan dengan kata – kata, mencoba mencari tingkat kata dari Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggris, entahlah gue merasa itu belum cukup untuk represent semua nya, tapi satu hal, Subhanallah ada kalimat yang paling keras dan ber ulang – ulang terucap. Maha Besar ciptaanNya yang indah tidak hanya di daerah ini, tapi di seluruh daerah, Negara, belahan dunia, galaksi Bimasakti,semuanya…Subhanallah…

Wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s