Me and my heart are friends

My world is full of loveliness

But I focus on the stress

My heart says “Go” but my brain says

“No”

And it’s only in the quiet that I hear

myself breathe. Lenka – Heart skips a beat

Sang anak : Hatiku pengkhianat.Hatiku tidak ingin aku jalan terus
Sang alkemis : Masuk akal.
Wajar saja kalau hatimu takut kau kehilangan segala yang telah kau miliki dalam usaha meraih mimpimu itu
Sang anak : Kalau begitu buat apa aku mendengarkan hatiku?
Sang alkemis : Sebab kau tidak akan pernah menyuruhnya diam. Kalaupun kau pura – pura menulikan telingamu terhadapnya, dia akan selalu bersuara di dirimu, mengulangi fikiranmu tentang kehidupan dan dunia ini.( the Alchemist )

Dari cuplikan lirik dan beberapa tulisan dari Paulo Coelho tadi,mungkin bisa buat kita sadar sedikit bahwa kita jarang mengikuti kata hati kita,bahkan,kita membiarkan hati kita tergooores dalam yang padahal seharusnya ngga perlu sampe segitunya amat kok.
Otak kita memerintahkan ada rasa emosi marah pada saat kita dikecewakan,dipermalukan,diejek,dan hati pun merasa dilukai,tapi atas dasar emosi impulsif dari mana entahlah,kadang pelampiasannya menjadi kurang sehat dan tidak urung meledak-ledak,itu salah karna menurut gue hati ngga mau kita sampai berlaku seperti itu.

Kenal istilah ‘galau’? Istilah yang santer banget di kalangan mahasiswa *oke,terutama di kampus gue sih. Pada saat lo merasa sadar akan kesendirian lo dan merasa kesepian akan hal itu,kangen gebetan yang ngga pernah kasih sinyal *gimana mau kasih sinyal,dia tau lo aja ngga,pacar yang sibuk sama organisasi hingga terabaikan,istilah malam Minggu yang dengan pedihnya diganti Sabtu malam sama para jombloers karna ngga pernah ada yang ngapelin,atau deg degan baru nembak gebetan modal sms/telfon tapi ngga di jawab2.Hal simpel *oke,maaf maaf,ngga simpel emang* kayak gitu menimbulkan efek galau,yang anehnya,perasaan itu harusnya ngga dirasakan berlarut larut,tapi mereka biarkan,mereka menikmati perasaan ironi itu,guilty pleasure istilahnya.Apa/siapa yang kena?Hati lo
Bukan cari pengalihan,tapi lo malah membiarkan rasa itu datang,ouch kasihan hati lo,dia merasakan hal yang terlalu berlebihan,yang harusnya bisa dirasakan sebentar lalu cukup,cari pengalihan.

Gue dulu seperti itu,the Alchemist dan lagu Lenka yang menyadarkan segalanya,dan gue belajar banyak hal,2 bahan itu datang secara bersamaan dengan timing yang oh-really-good banget,disaat gue tahu segalanya jelas dan tersadar no wonder knapa banyak yang takut sama Friday the 13th,gue ngga heran.Disitu emosi gue memerintahkan untuk sedih,menangis mungkin,dan..menggalau.Atas pelajaran itu,gue hanya membiarkan emosi itu datang ke hati gue sebentar,dan hati hanya meng-adsorpsi *menyerap di permukaan*,bukan mengabsorpsi *menyerap sampai kedalam* emosi negatif itu,betapa sangat inginnya gue berteman dengan hati gue sendiri hingga enggan membuat dia terluka berlebihan,seperti Santiago sang anak gembala di the Alchemist yang sudah mendapat pencerahan tentang hatinya lalu berbicara kepada hatinya ‘Mulai saat itu si anak memahami hatinya.Dia meminta hatinya untuk jangan pernah berhenti berbicara padanya.Dia meminta agar saat dia menyimpang jauh dari impiannya,hatinya memperingatkan’.Mungkin beda term dengan topik galau tadi,tapi sejalan sama lirik Lenka kalau lo terus membiarkan hati lo terlalu suffering sama emosi berlebih yang lo rasakan ‘My heart is playing tricks on me
And it’s building bricks on me’.ngga mau kan dikerjain sama hati lo sendiri?

Atas rasa kecewa akan pekerjaan yang tidak pernah dihargai
Atas rasa sakit hati cinta yang urung terbalas
Atas rasa amarah karna pengkhianatan seorang sahabat
Atas rasa sedih kehilangan keluarga yang kita sayang
Atas rasa kalut karena tidak lulus ke universitas yang kita inginkan dari kecil
Atas semua emosi negatif yang pasti akan selalu kita rasakan di relung hati kita
Biar,rasakan,tapi jangan berlarut,biarkan mengadsorpsi,bukan absorpsi,then,we have to re-bounce

Gue masih belajar,dan kita harus belajar.Biar kita seperti diri kita pada saat masih kecil dulu,yang selalu mendengarkan hati kita,itu knapa dunia anak itu bebas,penuh imajinasi,dan..ceria 🙂

6-6-2011
77
07:31

7 Comments Add yours

  1. idur says:

    So lovely .. this is very you ..
    All thumbs in the world up .. !!!

  2. Nastiti Arti says:

    ini kok kena banget ya “Atas rasa kalut karena tidak lulus ke universitas yang kita inginkan dari kecil”? hahahaa kayanya kita musti ngebahas lagsung nih cun, ga bisa lewat tulisan begini. kuraang begitu nganu. hahaa pinjem doong alkemisnyaa..

    nicey writing, anyway! keep it up, man!

  3. Nastiti Arti says:

    oya, berati selaen mind set, kita juga musti ubah heart set kita yah?

  4. yang ini oke banget! *tenggak sulfat pekat panas*

  5. Pingback: chemistryofray
  6. Bayulogi says:

    He’eh.. Namanya jg semua udah termaktub, apapun yg gonjang-ganjing dlm hidup, biasa ajalah yaa. Semuanya udah skenario Tuhan, kt diminta utk sekedar akting dan gak brlebih-lebihan.. 🙂

    Trus, betul jg itu kyk anak kecil. Secara anak kecil kan gak brdaya, sikapnya “nrimo” kehendak org tua, keluarga, dst. Org dewasa cenderung brsikap menggugat hidupnya, krn udah kadung trtanem prinsip di dirinya sehingga mereka cm bisa “membaca” hal yg ia gugat/harepin aja.. Sedang anak kecil, dia “nrimo”, brsuka cita sama apa yg dikehendaki lingkungannya, sehingga bisa “membaca” apa yg org dewasa ga “baca.” Anak kecil mata hatinya trbuka, ngeliat hal2 yg justru sering trlewat, jd mereka penuh imajinasi.. *halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s