Menari dengan Asha

Menari dengan Asha – Farah Soraya

Cerpen fiksi ini terinspirasi dari salah satu karya dan lirik terindah dari Luther Vandross – Dance with My Father

‘Selamat ya nak kamu juara lagi,kapan kamu ajarin papa,ayo dong..’
Pelukan mama dan papa erat,untuk kesekian kalinya aku memenangi kompetisi Sport Dance se-Nasional.
Evan sepupuku, yang sudah menjadi partner dance dari umur 7 tahun,sudah dianggap keluarga oleh Papa dan Mama,terlepas dari itu semua,Evan juga mendapatkan pelukan yang erat dari mereka.
Outfit kompetisi begitu ketat di badan buatku tidak lagi nyaman,dan heels sport 12 cm,aduuuh!!Aku memutuskan untuk melepasnya dan berjalan ke parkiran tanpa alas kaki.Evan,sepupu ku sudah daritadi melepas outfit dance dan pantofelnya.Rasa anti dengan kemeja tipis tembus pandang yang dirasa seperti gay mengalahkan rasa cintanya terhadap dance sport ini.

‘Kamu harus ajarin papa dance juga dong Asha..’,rajuk Papa di belakang setirnya,aku hanya terkikik dari belakang kursi nya,geli dengan nada memohon Papa yang seperti anak kecil.
‘Papa sport dance capek banget loh,high speed banget movementnya,kasian Papa’
‘Tapi papa mau,coba,kamu dansa sama Evan udah dari umur 7 tahun,kamu sama Papa,ayahnya sendiri belum ni. Papa mau dansa sama kamu,sama..he..mama juga ya’ Lirik Papa ke Mama,mesra,so sweet..Mama membalas dengan mendelik galak,sudah pasti,itu pura-pura,hanya Mama paling tidak suka keluar keringat,itu hal yang paling khas dari Mama.
Entah udah ke sekian kali Papa membujukku untuk mengajari menari,berkebalikan sama mama yang paling males keluar keringat.Tapi aku pikir semua hanya bercanda,Papa tidak begitu serius ingin belajar.Sungguh,aku hanya berfikir Papa hanya merajuk..
Studio kecil ini yang menjadi tempat latihanku sehari-hari.Hanya 3 x 3 meter.iya,3 x 3 meter saja,sungguh jauh dari ukuran ideal sebuah studio tari.Tapi disini tempat kujatuhkan seluruh usaha,keringat,bahkan sampai darah,luka terbuka di kaki karena berusaha menari iringan biola Victory dari Bond dengan heels 12 cm.Papa,yang selalu ada di tempat ini,mengawasi,mengkritik dan mengobati.Papa,yang sudah tidak berkerja lagi karena sudah pensiun,menemani tiap latihanku.Yang aku ingat perkataan beliau ‘Bakat tari kamu sudah terlihat dari kecil Asha,kamu selalu menari kecil dengan Papa dan mama tiap Papa setel lagu lagu ABBA”
Sungguh aku tidak ingat,mungkin terlalu kecil untuk mengingat.

Yang pasti aku selalu ingat,Papa hanya ingin satu,menari denganku.
Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then

1 bulan,2 bulan,mungkin 3 bulan,papa terbaring lemah tak berdaya di RS.Berawal dari rasa lumpuh dari bawah lalu merambat ke seluruh badan.Lalu lunglai,enggan bergerak.. Guillain-Barre Syndrome merenggut semangat Papa,lincahnya Papa,dan membunuh keinginan Papa untuk belajar menari. Aku masih di Dumai untuk karantina kejuaraan Asia,disaat aku berjanji pada diriku untuk mengajarkan gerakan tari sederhana ke Papa.Semua terlambat..
Gomunex yang rutin disuntikkan ke tubuh Papa untuk mempertahankan kondisi nya.Dibalik tangis doa Mama,sujud terakhir Evan,senyum lemah Papa masih ada disana.

Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear her, mama cryin’ for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me

‘Jangan berhenti menari Asha,walau mungkin kamu tidak akan pernah bisa menari dengan Papa’

If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love to dance with my father
again

22:35_17102011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s