Fix A Heart

“Ngga,gue cuma patah hati”, elak Isha

“Cuma, Sha?Lo ngga bisa menghibur diri sendiri dengan bilang semua itu ‘Cuma’”, Tania menambahkan

“Pengakuan itu,atau pengelakan gue itu,ngga akan ngurangin atau nambahin rasa sakit gue kok”, Isha menyesap rokoknya dalam-dalam, merasakan aroma manis-pedas-tar berat dari rokoknya.

“Lo kira tuh rokok bisa bantu lo ngurangin rasa sakit lo sekarang?”, sinis Tania

“Ngga,gue cuma mau ngerokok aja”

Mata Isha tidak lepas dari jendela, dihitung nya tetes air hujan yang memenuhi pintu kacanya. Udara di luar terasa begitu menusuk, ke pori – pori kulit, menyelusup ke daging dan terasa linu di tulangnya. Isha mengeratkan selimut tebal ke tubuhnya dan mengambil satu batang rokok lagi.

“Tinggalin gue sebentar bisa,Tan?”

Tania meninggalkan ruangan itu, Isha merasakan tatapan empati sahabatnya dan paling membenci tatapan itu, Isha semakin memalingkan mukanya ke pintu kacanya, menghindari kontak mata sahabatnya.

And I just ran out of band-aids
I don’t even know where to start
‘Cause you can’t bandage the damage
You never really can fix a heart

 

Di  akhir penghujung musim hujan,

Vitamin D. Isha memejamkan mata, menikmati sinar matahari dan kulit yang menyerap maksimal vitamin D di hutan kampus yang masih sangat asri. Lichenes tebal yang masih menempel erat pada pohon – pohon, hingga Isha lebih suka bertelanjang kaki bila ke tempat itu, dan Angga lebih memilih dengan sandal gunungnya. Tempat ini, tempat Isha dan Angga menyerap vitamin D dari sinar matahari, tempat alternatif Isha dan Angga bila mendaki gunung bukan waktu yang tepat saat ini, tempat Isha dan Angga merenung, berbagi cerita.

“Lo lulus kapan sih?”

“Engh..3 tahun lagi”

“Anjrit lama banget!!”

“Gue anak teknik,lulus tepat waktu ngga asik kali”

“Tapi itu lama banget Ngga”

“Daripada elo,udah aksel mulu,lulus 3,5 tahun,Sha. Ngga betah amat di kampus”

“Ih nyebelin banget”, Isha merenggut

“Asli,muka kamu kalo  kayak gini lucu banget,lucu  banget”, Angga tertawa keras

Isha,Angga, persahabatan yang sudah terjalin selama lebih dari 10 tahun. Isha menyimpan rasa dengan Angga, dan Angga tahu. Dan Isha merasa Angga juga mempunyai rasa yang sama. Hanya mereka berdua lebih memilih untuk diam, menyimpan rapat, dan meneruskan persahabatan apa adanya. Mungkin sampai saatnya nanti, perasaan mereka perlahan hilang, atau malah semakin kuat. Isha, Angga, tidak akan pernah tahu ada apa nanti di depannya.

Even though I know what’s wrong
How could I be so sure
If you never say what you feel, feel
I must have held your hand so tight

Angga berlari jauh menuju Barat. ‘Pasti mau ke…’,Isha berlari menyusul Angga.

Edelweiss javanica Greenhouse. Yang dibuat oleh sekelompok mahasiswa Biologi yang mempunyai kepedulian besar terhadap bunga Edelweis dan berjuang keras melobby rektorat agar dikucurkan dana untuk pembangunan greenhouse ini, rasa kekecewaan atas dekanat yang hanya bisa membisu dan menolak tanpa alasan.’Emang mantep nih junior gue’, bangga Isha

Angga tidak masuk ke ruangan itu, di dalam sedang banyak mahasiswa baru yang sangat antusias berada disana. Angga duduk di bangku kayu. Isha sejenak ragu, namun memutuskan untuk duduk di sampingnya. Deg…’akh si kupu-kupu datang lagi’, Isha tidak dapat mencegah kupu – kupu yang bertebangan dengan semangat di perutnya.

“Gue lagi males kuliah Sha,nanti aja jam 11”, di lepaskan ranselnya dan dihempaskan ke tanah

“Sha, lo percaya ngga kalo feeling bisa di setting?”, Angga bertanya begitu acaknya

“Percaya”

“Sama,gue juga”

“Eh bentar,dalam term apa dulu Ngga?”

“Dalam term lo mendam perasaan sama seseorang”

“Jadi, lo bisa nentuin berapa kadar perasaan lo sama ini, terus kadar perasaan lo sama dia, terus sama ini,sama itu?Gitu?”

“Hmmm”, Angga jawab singkat

“Iya,gue juga yakin kok,perasaan ini bisa di setting”

“Gimana?”

Isha terdiam. Tatapannya berpaling dari muka Angga. Isha sibuk menggerakkan kaki telanjangnya ke tanah,membentuk lingkaran kecil pada setiap kakinya. Bimbang.

“Gue..ngga tau Ngga, gue belum pernah ngerasain itu, jadi gue ngga tau”

“Bisa. Kalo lo yakin dia bukan milik lo nanti,bukan masa depan lo nanti. Lo bisa ilangin itu, lo bisa kurangin kadar itu,sampe ngga ada sama sekali”

“Ngga segampang itu kali Ngga”

Isha menatap Angga. Angga menatap ke depan, ke arah Greenhouse. ‘You’re so unpredictable’, Isha tidak dapat mengartikan tatapan itu

“Iya,emang ngga segampang itu”

Isha menyesap rokoknya yang kesekian. Pelan, dalam. Bulir air mata mengalir, seiring turunnya rintik air hujan yang berada pada pintu kaca kamarnya. Di hari itu, Angga bercerita semua, betapa besarnya perasaan dia ke sosok yang mengalihkan dunianya. Angga yang terlalu tinggi  hati untuk merasakan apa yang disebut cinta, perlahan luluh melihat sosok tersebut.

“Yang gue yakini di diri gue, gue akan mengubah persahabatan ini menjadi sebuah cerita antar gue dan elo,saat itu. Gue belajar untuk..membalas perasaan lo, tapi rasa sayang gue ke elo sebagai sahabat terlalu besar dan tulus. Dan gue bertemu dia, Sha”, Angga berkata pelan, tapi yang Isha dengar adalah kalimat yang terlalu menggaung, yang membuat telinganya sakit, lalu otak dan hatinya berkerja sama secara singkat untuk merasakan satu emosi, satu rasa : sakit hati. Angga yakin perasaan itu akan hilang, namun ternyata tidak. Di hari itu, Angga bercerita. Seluruhnya. .Isha menahan diri, menunjukkan rasa simpati dan dukungan. Dukungan Angga untuk mengejar cintanya, sampai sekarang, dukungan selalu ada untuk Angga. Hingga sampai di penghujung perjuangan selama 2 tahun, mereka akan segera melangsungkan pernikahan Minggu ini.

Edelweiss, bunga abadi., melambangkan pengorbanan, di satu sisi, juga melambangkan keabadian. Pengorbanan Isha adalah mendukung dan berdoa untuk Angga, agar bila sosok itu adalah masa depannya, maka dekatkanlah, yang akan abadi mungkin perasaan Isha saat ini, dan rasa sakit hati Isha saat ini.

‘Perasaan itu ngga bisa di setting,Ngga’, gumam Isha

It’s probably what’s best for you
I only want the best for you
And if I’m not the best then you’re stuck

 

‘Cause you can’t bandage the damage
You never really can fix a heart

Selasa, 8-11-2011

17:14, mpe nunda2 ashar,maaf ya ALLAH…

2 Comments Add yours

  1. idur says:

    Ahh..You are so great … i’ve been so in love with this story, its like my melancholic side coming up and getting bigger … 🙂

    keep writing,
    so do you think i can set my feeling for you .. (haha..kidding)

    goodluck ..

    1. Hi..I feel so honored to get positive input from you, regarding this story and my other story as well
      So can I ask you also?Is it possible to set your biggest feeling with snakes? From love to hate?It almost impossible,right? 😉

      Thank you for reading mas, and let me read your blog also,perhaps one of your post will be my inspiration to create flash fiction 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s