Dag Dig Dug

Untuk Proyek kedua #15HariNgeblogFF

 

 

“Aku menaaaang!!!”

 

“Idih, apaaan?Curang kamu!”

 

“Curang apaan?”, mata Disha membelalak,berpura – pura terkejut

 

“Tadi dadunya itu ngeluarin angka 7, berarti 6 langkah ke garis finish, terus mundur lagi satu,dan harusnya kamu turuuuuun kesiniiiii”, aku mengarahkan pion Hello Kitty pink Disha menuruni ular ke angka 76

 

“Ih,ngga mau..ngga mau!!!”, teriak Disha, kesal,mata dan pipinya merah,menahan malu

 

“Pokoknya kamu curang,kamu harus turun lagi ke 76”, ujarku, ngotot

 

“Mamaaaa…”, Disha berlari menuju dapur, menangis di pelukan mamanya

 

“Sekarang aku yang jalan ya Disha”, ujarku melanjutkan permainan, cuek

 

 

 

“Dia masih cengeng ngga ya?”, pikirku

 

Aku menyesap Double Espresso sekali lagi, pandanganku mengarah ke luar kaca, seorang ibu menggandeng anak perempuannya erat, anak perempuan kecil yang berlarian dan dikejar oleh susternya yang terlihat lelah. Aku mengecek seluler ku sekali lagi, ketidaksukaan ku terhadap kemajuan teknologi membuatku tetap bertahan dengan telepon seluler  lamaku ini, yang membuat semua rekan kerja dan teman cukup kerepotan karena harus menghubungi ku lewat telepon dan sms saja.

 

Deg deg deg deg deg deg deg, sungguh. Aku merasa degup jantungku begitu cepat  berpacu. Efek Double Shoot Espresso ini, batinku.

 

Pandanganku beralih ke Chocolate Overdose Pancake yang daritadi aku acuhkan. Dan mulai memakan perlahan. Aku masih menerka rasa ini, dag dig dug, rasa senang yang berlebihankah atau rasa bersalah dari masa lalu yang muncul kembali?

 

Disha belum datang. Aku semakin gelisah. Mataku  melirik ke jam dinding di atas kasir, satu jam, masih satu jam, tetapi menunggu seseorang yang sangat ingin ditemui membuat waktu berjalan dengan lambat. Aku meyakinkan diriku Disha tidak mengingkari janjinya. Tidak akan.

 

“Hufff…”, aku menghela nafas panjang, meyakinkan diri kalau Disha sudah memaafkanku, memaafkan dan melupakan kejadian itu. Setelah 10 tahun, aku akan melihat Disha si cengeng lagi.

 

 

 

Aku melihat Disha dan menghambur ke luar, aku yakin Disha akan masuk ke dalam, tapi aku terlalu senang melihat Disha. Bahkan saat aku memeluknya, aku masih merasa cemas dan takut, takut akan perasaan bersalah.

 

“Disha..aku kangen banget sama kamuuu”, aku tidak bisa menahan air mata berbulir pelan di pipiku

 

“ Kamu yang kelamaan di Amersfoort sana”, Disha membalas pelukanku, erat

 

Aku tetap berlutut di depan dia, melihat tidak ada lagi amarah di matanya, atau dendam. Disha sudah memaafkanku

 

“ Kamu masih cengeng?”, aku berkelakar

 

“Mamaaa..”, Disha menatap mamanya yang berada di belakangnya

 

“Haha..bercanda”

 

“Aku juga, sekarang kamu yang dorong kursi rodanya ya,mamaku mau istirahat dulu”

 

“Siap,bos”, aku membantu mendorong kursi rodanya menuju ke dalam. Tak sabar bertukar cerita setelah 10 tahun saling diam satu sama lain, tidak menyapa.

 

 

 

Aku memejamkan mata sesaat, melupakan masa itu, menerima kenyataan bahwa Disha sudah memaafkan kejadian itu. Kejadian saat Asha kecil memaksa Disha kecil yang menderita Acrophobia* memanjat pohon rambutan depan rumah. Asha kecil yang tidak tahu kalau Disha begitu takutnya dengan ketinggian tapi karena Asha kecil memaksa, Disha kecil tidak bisa menolak. Asha kecil yang tidak berdaya melihat Disha kecil jatuh dari pohon itu, dan Disha kecil pun lumpuh. Disha kecil yang saat itu berteriak ke Asha kecil, ke aku “ Aku  ngga akan mau lagi kenal sama kamu!!!”

 

 

 

 

 

* Acrophobia adalah fobia terhadap ketinggian

 

 

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s