Sepucuk Surat (bukan) Dariku

Untuk Project #15HariNgbelogFF

 

“Hai Akram,”

Aku tersenyum membaca kalimat pembuka itu, hatiku tergetar membayangkan betapa manis dan halusnya suara dia yang menyapaku.

 

“ Sungguh, sudah lama tidak bertemu denganmu. Perlukah aku mengulang lagi inti dari isi surat ini? Betapa aku merindukanmu. Merindu hujan yang akan turun di malam hari, dan aku berjalan pelan melewati hujan, membiarkan ada air mata yang jatuh bersama rintik hujan. Hanya untuk mencoba menahan rasa rindu yang berlebih terhadap kamu.

Seru juga ternyata mengirimkan surat lewat cara lama seperti ini. Bukan lewat internet, bukan aku kirim lewat e-mail, ataupun online message. Ayo mulai hari ini kamu balas surat ini dengan cara yang sama, dan serius, kamu akan tahu rasanya menunggu balasan. Rasa rindu yang tertahan dan berharap, namun….manis pada saat surat ini datang untukku dan melihat namaku pada salam pembuka.

 

Bagaimana kamu disana?Mama?Papa?Rika?”

 

‘Rika?’, aku mengernyit sejenak, memikirkan suatu hal, lalu aku melanjutkan membaca

 

Masihkah kamu melanjutkan kebiasaanmu? Berlari di pinggir pantai? Sedangkan aku mengimbangi langkahku di belakangmu, walau kita di tempat berbeda. Karena aku lebih suka melaju dengan treadmill daripada berlari jauh melawan angin yang menerjang tubuhku dari samping.

 

Tidak ada pantai di sini. Sungguh. Aku harus menempuh ratusan kilometer untuk bisa bertemu setitik air biru dan berlari menuju pasir yang..menurut aku tidak lebih bagus dari pantai kita. Pantai tempat kita dulu menerjemahkan bentuk awan. Tempat kita mengubur diri kita (dan aku selalu ingat kamu yang selalu meninggalkan aku dalam keadaan terkubur ).”

 

Aku tidak kuat menahan tawa. Aku melihat satu sudut dengan gundukan pasir yang sangat tinggi. Seorang anak perempuan tengah menguburkan kakaknya sampai ke leher dengan pasir. Aku membayangkan kejadian itu. Aku kembali ke posisi dudukku dari awal, bersila kaki dengan air laut yang menghampiri dan menjauhiku, membasahkan celanaku, tetapi tidak membuatku bergeming untuk tetap membaca surat ini.

 

Mengingat masa itu, membuat aku menyesal. Kenapa dari dulu aku ngga berlari di samping kamu, bukan menyendiri di kamar ku dengan treadmill ku. Kenapa ngga aku gunain waktu itu sebelum aku disini.

 

Akram, Sepucuk surat ini bukan Dariku, kalau kamu tahu. Aku yakin diri ini hanya berkutat dengan kegengsian aku, rasa malu untuk mengakui semua aku rasakan saat ini. Aku rasa surat ini dari hatiku, dan tangan kiriku (kalau kamu masih ingat, aku kidal) yang menjadi media penyeranta perasaanku. Semoga aku bisa menemui kamu, segera, di pantai itu, tempat kamu sekarang berdiri menghirup angin laut dan asinnya laut biru

 

Salam,

 

 

 

Adel”

 

‘Adel…’, gumamku. Aku memejamkan mataku. Membayangkan sosok Adel, sosok yang sedang menahan rindu bertemu dengan Akram. Aku memasukkan surat Adel ke botol indah dengan hiasan bunga dan daun kering di dalamnya. Aku melemparkan botol dengan surat Adel ke tengah laut, berharap surat Adel benar-benar sampai ke Akram, Akram yang dirindukan Adel. Bukan ke aku lagi, atau ke orang yang tidak sengaja menemukan surat botol Adel lagi.

 

 

 

6 Comments Add yours

  1. Orin says:

    Wow…kisah yg cantik 🙂

    1. terima kasih juga ya sudah berkunjung 🙂

  2. satrianayla says:

    wah, surat dalam botol. kapan nyampainya ya………
    kreatif banget!

    1. mungkin..gengsi seorang Adel masih tertahan di surat dalam botol itu 😀
      terima kasih telah berkunjung 🙂

  3. MasRay says:

    gak ngerti ahh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s