Tentangmu yang selalu manis

Untuk Project #15HariNgeblogFF

 

“ning aku yakin, sing dodol mau arep nipu, wis ngono nyebeli sisan..” (Tapi aku yakin loh itu,penjual yang tadi itu mo nipu,udah gitu nyengit lagi jualnya) ,tante Manda tidak hentinya berceloteh tentang kejadian tadi.
“padahal ibuke mau luwih sopan lan sabar loh,Man” (Padahal ibunya itu jauh lebih sopan dan sabar loh,Man),Om Arif menimpali omelan adiknya.
“Sing penting wareg Tante,Om”,aku menimpali dari tempat duduk paling belakang
“Lha..kamu enak toh,tinggal makan aja,sing sibuk ya ini,tante-tante sama om-om mu”,tante Asih menjawab sambil memasang muka merengut ke aku,lucu sekali
“Hahaha..aku kan ndak bisa bahasa Jawa,ndak pinter”
Aku melirik Adi di sampingku,Adi pun membalas lirikanku,lalu kita tawa kita tergelak kencang.
“Nih Adi bisa bahasa Jawa malah diem aja!!”,aku menoyor sepupuku,pelan,takut kualat
“Sing penting wareg,nduk…”,Adi menimpaliku sambil melengoskan kepalanya ke kaca.
“Sepupu..nyebelin”,aku mendesis.
Dan sadar semua tante dan om ku di mobil ini hanya geleng-geleng kepala,maklum sama kelakuan kami,sepupu yang selalu berdebat.Sialnya,aku ngga bisa bahasa Jawa lancar,jadi Adi mempunyai cara ampuh untuk memenangi perdebatan,yaitu membalas dengan berbicara bahasa Jawa

***

“Dateng dari Bogor kapan tah?”
“Tadi pagi”,aku sibuk membawa koper ke kamar yang tersedia buatku di rumah Eyang
“Naik?”,Adi mengikuti langkahku
“Bus”
“Jam?”,Adi memperlambat langkahnya,membuatku menyesuaikan langkahnya,tapi membuat lorong semakin panjang dan koper semakin berat
“Bisa bantuin bawain ngga?Lo kan ketemu gue setahun sekali!”,aku ngga sabar.Bukannya gimana,pemandangan Merapi di luar mengalihkan perhatianku,dan aku mau menikmati tanpa mendengarkan ocehannya.
“Gue ngehargai emansipasi wanita”,sela Adi
“Bah,ngebiarin cewe bawa barang berat sendirian?!!?”,aku mulai sewot
“Lha iki, nek gawean njaluk dipadhakke, ning nek mbukak lawang njaluk dibukakke, nek blanja njaluk digawakke”(Gini nih.kalo di kerjaan maunya di setarain,tapi kalo buka pintu maunya dibukain,tas belanjaan maunya dibawain),cerocos Adi
Dan aku..hanya..bengong,menatapnya dengan mata terbelalak
“Asli..gue ngga ngerti.Masa’ mo gue bales pake bahasa sunda?”
“Ngga usah”,Adi membawa koperku
“Mai hiiiroooo,sini aku kecup sepupukuu”,aku menyeimbangkan langkah Adi yang cepat dan tegap membawa 2 koperku.

Iya,kami sepupu

***

“Keluar yuk”,Adi mengganggu waktu bermain kuartet ku dengan 3 bocah piyik ini
“Ngapain?”
“Wedang Ronde,dingin”,Adi sudah siap dengan jaket parasut birunya
“Nih bocah?”
“Wis lah,bocah saemprit iki,waktunya tidur”,galak Adi
“Mas Adi jahat,jodohnya seret!!”,teriak Nana,sepupuku yang berumur 7 tahun.Namun sepupu kecilku terpaksa mengalah,karena orangtua nya datang dan menyuruh tidur.
“Gue ambil jaket dulu ya,Di”
“Gue tunggu di luar”
“Oke..”
“Eh..”,Adi membalikkan badan ke aku,ragu-ragu
“Engga jadi”

***

Aku beranjak keluar dari rumah Eyang,Adi sudah menunggu dengan motornya
“Bandongan?”
“Romantis”,aku menyengir
Dan kita berdua menuju Bandongan,tempat yang indah untuk melihat Magelang dari atas.
Tangan kiri ku di genggam erat oleh Adi.
Sampai.
Dan tangan kita tidak berhenti menggenggam,erat,mungkin terlalu erat untuk seorang sepupu.Lebih.
“Aku pesenin wedang ya”
“Oke”,aku beranjak ke tempat duduk beton,aku selalu senang saat-saat tahunan seperti ini,kembali berkumpul dengan keluarga besar,kembali menghirup udara segar Magelang,menemui Adi.
Adi duduk di sebelahku dan menaruh wedang ronde di sebelahnya.
Senang,bisa bertemu dia lagi.Lima tahun aku merasakan ini,merasakan waktu berdua dengan Adi di tempat ini.Kabut yang menerpa wajah,lembut.Hangatnya wedang ronde,indahnya pemandangan kota Magelang dari Bondongan,dan teduhnya tatapan Adi.Kadang aku heran kenapa kita bisa berantem kalau bertemu dan betapa kita pandainya menyembunyikan hubungan ini di depan keluarga kita,selama ini.
Aku memeluknya,erat
“Kangen..”,aku mempererat pelukanku,memeras jaket parasutnya,Adi membalas erat pelukanku,lembut,dan mencium rambutku.
Dalam pelukannya
Aku mendengar detak jantungnya,deru nafasnya,dan bahkan aliran darahnya.
Aliran darahnya?Iya,mengalir begitu kental.Aku sontak melepaskan pelukannya,
“Kebelet pipis,bentar y”,aku menuju toilet umum,aku ke belakang bangunan tersebut
Aku menangis,air mataku menderu. Aku pejamkan mata dan tenangkan fikiranku.
Lima tahun merupakan kenangan yang manis,saat menunggu,saat berdua.
Aku merasakan aliran darah tadi,kental,kita masih saudara,dekat,sangat dekat
Aku menyenderkan punggungku,menenangkan diri,sekali lagi.
‘Tidak ada enam tahun,biarkan menjadi lima tahun saja.Biar ini jadi kenangan indah antara aku dan Adi.Tentangmu yang selalu manis,tapi..untuk sekarang,aku yang berhenti’,aku mendatangi Adi.

22012012,Purwanegara,di bus,galau,kelam,hujan

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s