Merindukanmu itu Seru

Untuk Project #15HariNgeblogFF

Kasmi sibuk menyeterika pakaian di ruang belakang, matanya melirik ke jam dinding di atasnya ‘Masih jam 7’, gumamnya.

‘Hhhh…’, Kasmi menghela nafas panjangnya, ekor matanya menarik paksa untuk melirik ke kiri, ke kalender dinding di sebelahnya,lagi, Kasmi menghitung hari seperti hari – hari sebelumnya. Kasmi mendekati kalender,  tangannya sibuk menunjuk tanggalan – tanggalan di bulan Januari 2012 ini, sudah tahun ketiga Kasmi tidak pulang ke rumahnya. Hatinya sesak oleh rindu, rindu akan rumah, rindu akan orangtuanya, rindu akan suaminya, dan rindu akan buah hatinya,Ardi. Kasmi kembali ke tempat duduknya. ‘ Harus kerja lagi, rumah ini sedang butuh jasaku di sini, kasihan Bu Retno kalau aku izin pulang di saat lagi seperti ini.’ Kasmi kembali melanjutkan pekerjaannya, resah.

“Nduk, bisa ke depan dulu? Ibu mau ngobrol sebentar”, Bu Retno muncul dari dapur. Kasmi langsung segera mematikan setrika dan beranjak dari ruangan itu.

Kasmi mengambil posisi duduk di bawah, depan Bu Retno persis, posisinya di atur sesopan mungkin di depan majikan yang sangat Kasmi segani.

“Iya,Bu?”

“Kamu lagi ngapain? Ah nduk, kamu duduk disini aja, ndak usah di lantai gitu, masih dingin”, Bu Retno menepuk tempat duduk di sampingnya, menyilakan Kasmi duduk di sampingnya.

“I..iya Bu” Kasmi beringsut duduk ke atas dengan segan, hatinya masih merasa kurang nyaman duduk di sebelah tuannya.

Bu Retno menatap Kasmi, matanya berusaha menyelidiki sesuatu dari mata Kasmi

“ Kamu abis ini bisa pergi ke Cibarusah nduk? Ada barang yang harus diambil di sana, Ibu harus ke Jakarta hari ini, sampai Jumat “

“ Oh ya Bu, bisa, Tapi nanti Mbak Lia sopo sing pethuk?” ( Tapi nanti Mbak Lia siapa yang jemput?)

Bu Retno berfikir sekilas, memikirkan siapa yang nanti akan menjemput anak perempuannya yang masih kelas 2 SD. “ Abis ambil barang kamu..bisa jemput dia. Abis nyetrika wis rampung toh?”

“ Iya,Bu”

“ Ya sudah, Ibu mau siap – siap dulu ya. Bapak baru pulang Jumat juga bareng Ibu. Jagain Lia  ya Nduk”

Kasmi beringsut dari tempat duduknya

“Kasmi”

“Iya,Bu”

“Kamu kangen sama kampung?”

Deg. Kasmi langsung menunduk, hatinya ingin menjawab keras bahwa ia sangat rindu rumah, tapi Kasmi merasa bukan jawaban yang tepat di saat seperti ini.

“Saya kangen Bu sama Ardi, tapi semalem saya sudah tilpunan sama dia”, Kasmi tersenyum tipis, menyembunyikan kebohongan dari jawaban yang keluar dari mulutnya.

Bu Retno tersenyum halus, “ Terima kasih ya nduk, kamu mau berkorban ndak ketemu keluarga mu. Lia lagi butuh kamu nduk, dia sayang banget sama kamu”

Kasmi tersenyum lagi, sejenak rasa rindunya terhadap rumah berkurang sedikit, kebaikan Bu Retno membuat Kasmi luluh. “Nje Bu, Mba Lia juga udah saya anggap anak sendiri. Permisi,Bu”. Kasmi kembali ke ruang setrikanya. Berjuang menguras rindunya,nanti, Kasmi yakin, dirinya akan pulang. Tapi  nanti.

 

***

musim kini berlalu berbagai cerita merayu
berpijak di malam yang bertalu
masihku memikirkan dirimu

ku rasakan waktu berlalu tanpa senyummu
sepi yang tlah penuhi hariku

Sayup terdengar lirik lagu “Pulang” dari radio tua kecil Kasmi, yang mengalun merdu menimang tidur Kasmi malam itu. Di mimpinya ada dirinya, di tengah keluarga, di kaki gunung Sindoro, memeluk buah hatinya, bertukar cerita dengan ayah-ibunya, yang seru bercerita tentang perkembangan buah hatinya, bagaimana pertama kali dia merangkak, menyebut nama ‘Eyang’ dengan suara bayinya yang lucu, bagaimana ayah Kasmi kewalahan menjaga Ardi yang sedang sangat semangat melangkahkan kaki kecilnya ke penjuru rumah. Kasmi membuka mata dengan linangan air mata. Sejenak menatap ponselnya, berharap jangan ada telepon dari kampungnya, yang malah akan menambah rasa rindu Kasmi.

Kasmi terjaga dan beranjak ke kamar Lia, membangunkan perempuan kecil yang sangat disayanginya, dan menjaga dengan rasa sayang selama Bu Retno dan suaminya pergi.

***

Kasmi sibuk membawa tas besar Bu Retno dan suaminya dari bagasi mobil, Lia sudah Kasmi bacakan dongeng sampai tertidur lelap.

“Jam berapa ini nduk?”, Bu Retno merebahkan dirinya ke sofa, mukanya terlihat sangat lelah

“Jam sebelas,Bu”

“Capek saya,Nduk.Wis tuo”

Kasmi duduk di sebelah Bu Retno, memijit kaki Bu Retno. Setelah beberapa saat, Bu Retno bangun.

“Terima kasih ya,Nduk”

“Nje,Bu”

Bu Retno mengeluarkan sesuatu dari tasnya, selembar kertas, dan menyodorkannya ke Kasmi.

Kasmi tertegun, dan menangis lega. Rindunya terjawab.

“2 minggu aja ya,Nduk.Jangan lama – lama”, Bu Retno mengedipkan matanya.

Bibirnya tak henti mengucap syukur dan terima kasih

Air matanya berderai deras, lega

Langkahnya ringan, senyumnya mengembang

Tiga tahun merangkai rindu

Mencari rezeki berbekal ketelatenan

Menyambung silaturahmi melalui saluran telepon

Menumpuk harapan bertemu, menangis menatap foto di balik bantal

“ Ibu pulang, Nak”, Kasmi segera mengemasi barang-barangnya, bersiap perjalanan panjang Cikarang – Banjarnegara.

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s