Ini Bukan Judul Terakhir

Untuk Project #15HariNgeBlogFF

 

 

“You’re the sky that I fell through
And I remember the view
Whenever I’m holding you….you…you..youuu..”, Tari bersenandung dengan sumbang di mobil, matanya tetap fokus melihat 3 spion di kanan, kiri dan tengah. Kemudinya di arahkan ke rumah Sumbawa, matanya melirik ke jam, ‘Telat sejam ya.Bodo ah’, gumam Tari.

Berhenti di rumah Sumbawa, lelaki berpostur jangkung dan agak membungkuk sudah menunggu di depan rumahnya. Punggungnya sudah dibebani backpack Deuter 50 L warna kuning-hitam kesukaan Sumbawa, kado ulang tahun Sumbawa ke-25 dari Tari.

Sumbawa berjalan ke arah jendela kemudi, Tari menurunkan kacanya

“Gue yang bawa aja”

“Ngga, gue aja”, Tari bersikukuh membawa mobilnya

“Ya uuudah”, Sumbawa membuka pintu belakang dan menaruh backpack nya, lalu menuju ke bangku depan

Tari bersiap dan menyalakan mesin pendingin mobilnya

“Ngga usah, di luar dingin, pake udara dari alam aja”, Sumbawa menghalau tangan Tari, tangan mereka bersentuhan sesaat.

“Baiklah”, Tari membuka jendela mobilnya, kikuk.

“Tapi lagu ini harus kenceeeng nih”, Tari membesarkan volume tape iya, dan mulai memutarkan satu album “Ocean Eye” dari Owl City.

“Yaaa…terserah deh,yang penting gue selamat sampe tujuan”, mata Sumbawa berputar lalu mengalihkan pandangannya keluar.

Macet. Dan Tari sibuk bersenandung lagi “Strawberry Avalanche” yang sudah diulang lima kali. Pandangannya diarahkan ke Sumbawa, yang dari tadi terdiam dan terlihat merenung, matanya menerawang ke luar, tangannya bertumpu pada kaca di sebelahnya, dan dagunya bertumpu di tangannya. ‘Begini ya temen gue kalo lagi patah hati’

“Makan dulu aja yuk”, Sumbawa membuka percakapan

“DBC ya?Lagi mau Tuna Fritatta”, Tari mengecilkan volume iya, lega akhirnya Sumbawa mau berbicara.

“Oke”

***

“Jangan diem aja sih.Ngomong lah”, Tari membuka percakapan, matanya menatap sosok sahabat di depannya, sadar auranya terlihat beda sebulan ini.

“Nanti, gue ngomongnya”

“Sama siapa?

“Sama alam”

“Gue buat apa disini”

“Jadi supir gue aja”

Tari merenggut, lalu beranjak dari tempat duduknya dan menuju bangku taman. Dihirupnya udara ramah Bogor, memasuki rongga dadanya pelan, dalam. Sejenak Tari jadi rindu mengikuti kelas yoga yang sudah lama tidak dihadirinya.

Sumbawa duduk di sebelahnya.

“Bercanda gue,Tar”

“Tau kok,makanan belum dateng?”

“Belum,Sayang..”

Tari sontak menengok ke Sumbawa, “Hah?”, Tari pura-pura tidak mendengar, batinnya berharap Sumbawa mau  mengulang jawabannya tadi, terutama di bagian belakang.

“Belum,Tari..”, Sumbawa mengulang jawabannya. Tari memalingkan muka ‘Sial ngga diulang’.

“Udah jangan diem aja sih, kita mau jalan, menerjemahkan alam, berbagi waktu dengan malam. Kalo lo diem aja males banget gue”

“Lah gue ngga kenapa-kenapa. Tim advance udah sampe sana?”

“Udah katanya, tinggal nunggu kita sama dua tim lagi. Are you okay?Disana patah hati lo bakal ilang kok.Haha..”

“Gue ngga patah hati kok”, Sumbawa menatap Tari tajam. Tari terdiam. Yang Tari tahu, perjuangan Sumbawa menunggu seorang perempuan tandas di ujung penantiannya, ketika sosok itu menolak Sumbawa dan lebih memilih sendiri.

“Maaf. Ke dalem yuk, makan”

***

“Gue setel Owl City lagi yak.Haha”, Tari mulai membesarkan volume tape nya lagi.

“Gue ikut nyanyi deh”

“Haseeeeek…”

“Judul terakhir di album ini apa?”

“Hemm..Strawberry Avalanche”

“Bukan tau”

“Dih sok tau”, Tari terusik sama ke-soktahuan Sumbawa, jiwa fanatiknya terhadap Owl City terganggu

Sumbawa mengambil backpacknya dan mengeluarkan 1 lembar kertas A4 dan 1 CD, memberikannya ke Tari. “Nih, Strabwerry Avalanche bukan judul terakhinya”

Tari meminggirkan mobilnya dan berhenti. Lampu dinyalakan, Tari membaca kertas putih yang diberikan Sumbawa.

“Sumbawa, ini..apa?”

“Kenapa?”, Sumbawa terlihat acuh melihat Tari yang menengadahkan kepalanya, melihat isi kertas tersebut

“Ini ngga ada apa-apa,kosong gini nih kertas.Gue buang yak”

“Ngaco lo. Jangan.Ntar gue kasih tau cara bacanya di camp. Udah jalan lagi”

“CD ini apa?Gue puter sekarang boleh?”

“Boleeeh..”, cengir Sumbawa lalu pandangannya diarahkan keluar lagi.

“Wahahaha..Sumbawa..Iya, tadi bukan judul terakhir iya Owl City”, tawa Tari berderai

“Hehe..”

***

Tari tidak tahu. Sumbawa bukan patah hati karena sosok itu. Tapi Sumbawa yang berhenti. Hatinya satu, hatinya untuk Tari. Semalam sebelum berangkat, Sumbawa menyiapkan rekaman suara dia menyanyikan lagu Owl City, yang akan diberikan Tari keesokan harinya. Kertas itu? Yah, akan bisa dibaca di atas uap panas karena Sumbawa sudah menuliskan satu pesan dari larutan kobalt di klorida, yang baru bisa dibaca Tari di camp nanti. Isinya adalah

You’re the sky that I fell through
And I remember the view
Whenever I’m holding you

The sun hung from a string
Looking down on the world
As it warms over everything

 

I want you to be my lady,Tari”

3 Comments Add yours

  1. Melissa says:

    Tari memalingkan muka ‘Sial ngga diulang’. –> Lucuu 😀

    1. @melissa, hihi..
      @sweetdonath, terima kasih

      dan terima kasih sudah berkunjung ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s