12 Tahun

Untuk Preject Buku “Tentang Tangerang”


Aku hanya menunggu  hujan turun, deras. Agar aku bisa mempercepat laju lariku dan menjatuhkan air mata bersama dengan air hujan. Tidak ada yang tahu,hanya aku.

 

Tara menghentikan lajunya, tubuhnya membungkuk, tubuhnya kelelahan. Keringatnya mengucur deras. Tara mengusap keringat dengan wristband merahnya. Matanya menengadah ke timur, mencari matahari yang harusnya bisa membuat kucuran keringatnya semakin cepat. Namun hari itu begitu mendung, bahkan terlalu sedikit yang orang yang keluar untuk berolahraga di hari libur ini, di lapangan Ahmad Yani. Tara duduk di pinggir lapangan , menatap minat terhadap dinding panjang yang baru.

‘Sayang gue ngga bawa Safety Equipmentnya’.

Tara beranjak dari tempat itu, dan melihat ke sekeliling. Sekelompok anak muda yang sedang bermain futsal. Sekelompok lelaki yang sedang asyik bermain skateboard di podium, memang tempat yang tepat untuk beradu skill disana, sekilas Tara melihat ada satu orang melambaikan tangan ke Tara, tapi Tara merasa tidak mengenal, matanya beralih ke tempat lain. Dan barisan LBB yang sedang berlatih, dan Tara yakin walau hujan badai mereka pasti tetap latihan, tradisi lama. Tara menuju satu pohon besar di sisi lapangan tersebut, melihat ukiran 2 inisial tepat di bagian bawah pohon besar tersebut.

A & T

‘Alay banget deh’, cibirnya, Tara berjalan menuruni lapangan menuju Parlan.

Tara memesan minum, kebiasaan buruknya sesudah olahraga makan mi mulai dihilangkan. Matanya mengelilingi sekitar Ahmad Yani, lapangan, podium, mushalla, pohon – pohon yang daunnya sedang berguguran. Semuanya masih sama, bahkan setelah 12 tahun ia meninggalkan kota ini. Penjual makanan dan minumannya di Parlan, masih sama. Ujung Parlan yang menjadi tempat anak berseragam dengan bebas merokok. Tara tersenyum, semuanya masih sama ternyata. Hanya kurang Aga di sampingnya saat ini, dan selamanya. Tara menunduk, pikirannya ingin kembali ke masa itu. 12 tahun lalu, saat mereka di penghujung masa SMP mereka.

 

***

“Aga ngapain bawa Tara kesini?”, Tara SMP menatap heran ke Aga SMP

“Ukir nama yuk disini?”

“Dimana?”

“Disiniii”, Aga SMP mengelus pohon kecil di depan mereka

“Hehe..Ayoook. Aga yang ngukir ya”, Tara SMP menyambut ajakan Aga antusias

Dan Aga SMP mengukirkan inisial mereka di pohon kecil itu

“Pulang yuk. Aga anterin ya”

“Kan Aga angkotnya beda, kasihan Aga”, Tara merasa tidak enak

“Ngga apa-apa sekali-kali. Ya?”

Tara SMP tersenyum dan menggandeng tangan Aga SMP. Acuh dengan kehebohan teman-temannya di ujung Parlan, dunia hanya ada Aga SMP dan Tara SMP,saat itu.

“Aga yakin, Tara pasti nikahnya sama Aga”

“Ih apa sih Aga, kita masih kecil, masih jauh sama kayak gituan”, Tara SMP protes, tapi dalam hati mengamini apa yang diinginkan Aga SMP terhadap Tara SMP

“Amiiiin..”, Aga SMP mengedipkan matanya ke Tara SMP,dan tangan mereka menggenggam lebih erat

 

***

Parlan, di ujung Ahmad Yani, tidak jauh dari podium. Tempat kecil namun mempunyai kenangan penuh bagi yang pernah besar di kota ini. Sederhana, penjual gado-gado, mi ujang, minuman-minuman, dan sebagainya. Sederhana. Namun sejauh apapun sekolahnya, banyak pelajar datang kesini hanya untuk berbagi cerita, memcari gebetan, atau hanya untuk makan – makan. Bagaimanapun, di tempat sesederhana Parlan, terkumpul banyak cerita dan kenangan bagi yang pernah mengunjunginya, terutama bila kembali bertandang ke Parlan, setelah dalam hitungan tahun tidak pernah menjejakkan kakinya ke tempat ini.

 

12 tahun kemudian..

“ Tara?”, seorang lelaki menyapanya, dan duduk di depannya. Lelaki yang melambaikan tangan ke arahnya di podium Tangerang tadi.

“ Eh, Abel ya tadi, yang dadah dadah ke gue?”, Tara menyalami Abel

“ Tauk lo, sombong parah”, Abel tertawa

“ Maaf ye, minus gue nambah, tadi gue jogging ngga pake kacamata kan”, Tara berkilah

Tara dan Abel bercakap – cakap lama, sudah 12 tahun tidak pernah bertemu dan jarang bertegur sapa di jejaring sosial membuat percakapan semakin seru dan bertukar cerita.

“Gimana kabar Aga?”

Tara mengalihkan pandangan ke es kelapa yang sudah tinggal sedikit, meminumnya. ‘Pasti kan ini yang ditanya’, gerutu Tara

“Itu udah abis, pesen lagi deh, daripada kayak orang susah gitu”, canda Abel

Tara terdiam

“Tara?”

Hujan datang tiba-tiba tanpa gerimis, ingin rasanya saat itu juga Tara bermandikan hujan, menangis karena nama tersebut disebut lagi, lalu datang ke Abel dan berkilah bahwa tiba-tiba dirinya ingin bermain hujan.

Bulir kecil air mata Tara mengalir pelan.

“Ngga tau Bel, udah ngga ada harapan”

“Maaf. Gue ngga maksud…”, Abel salah tingkah, merasa tidak enak

“ Badannya udah makin kurus,asli..”

Tara bungkam, matanya memejam menahan air mata berikutnya yang akan keluar nanti.

Abel membetulkan letak skateboard nya, dan memangkunya. Menatap mata sendu Tara, teman kecilnya yang sangat mencintai Aga. Dalam hatinya ia menggeram ‘emang brengsek tuh narkoba’.

 

 

 

Kantor, 13:12,27-1-2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s