Soto Koya

15 tahun yang lalu..
Mataku sibuk menatap keluar,acuh dengan keberadaanmu di sampingku,di balik kemudi.
Satu…dua..tiga..empat..aku sibuk menghitung pepohonan di pinggir jalan raya. Entahlah,tapi aku heran kenapa di Jakarta pohon mudah sekali aku hitung,beda dengan rumahku di Jepara,rumah kita di Ungaran.
“Kamu ngapain?”,kamu membuka pembicaraan
“Menghitung pohon”,aku menjawab,polos.
Aku menatapmu sekilas,melihatmu tersenyum melihat aku
“Begini ya Jakarta..”,aku terkesima menatap gedung yang begitu tinggi,menantang langit,menutup sinar matahari yang harusnya mengarah langsung ke mukaku.
“Makan disini ya,kamu paati suka”.Kamu membukakan pintu untukku,lalu menggandeng lembut.
Aku mengernyit menatap tempat makan tersebut,dan melihat plang nama tempat makan itu.

Soto Koya bu Kasmi.ASLI

“Pasti beda rasanya”,aku mencibir
“Kamu belum coba aja”,kamu melirikku,memberikan seringai khasmu

“Enak?”
Aku tersipu,aku menyapu mulutku lembut,membersihkan noda kuah soto koya dimulutku.Aku memberikan tisu ke kamu.
“Enak banget”
“Naaah kan!!!”kamu mengacak-acak rambutku.Aku merengut,dan sibuk membenarkan kuncir kuda dan poniku. Kamu membantuku,lembut,dan menggandengku keluar. Aku suka soto koya bu Kasmi,makanan pertama di Jakarta yang aku suka,sangat suka.

***

5 tahun yang lalu…
Tempat makan ini sudah menjadi agenda kita berdua. Bahkan walau kita sudah makan di tempat lain di daerah Simprug ini,kita tetap bertandang kesini dan membawa pulang 2 porsi besar Soto Koya,dan kita makan di rumah.
Kamu membukakan pintu untukku, kamu sudah mulai canggung menggandeng tanganku, tapi aku tetap merindukan momen itu. Aku,saat ini selalu menggandengmu pertama,erat.
Kamu masih menyantap lahap.
Dan aku sudah mulai hitung-hitungan kalori terhadap soto ini.
Kamu menyantap kuah terakhirmu,dan menatapku dengan pandangan kurang suka.
“Lupakan diet kamu,sayang”
Aku canggung,dan mulai menghabiskan seporsi besar soto koya ini.
‘Abis ini aku ke sasana’,niatku untuk membakar kalori dari soto koya tersebut.
Semua masih sama
Aku berdua,bersamamu
Bergandengan erat
Kamu rapuh,namun aku tak mau menjauh
Aku semakin mencintai kamu

***

Setahun yang lalu
Kita masih sama.Seperti 15 tahun yang lalu.Bersama.Menyantap soto koya porsi besar.
Pertama kalinya aku menemui dan ditemani Bu Kasmi,pemilik asli tempat makan ini.
Bercengkrama akrab dengan bahasa Jawa halus.
Kamu acuh,tetap menyuapkan kuah demi kuah ke mulutmu,padahal aku tahu kamu yang memperjuangkan ini semua.
Mempertemukan aku dengan sang pemilik,Bu Kasmi.

***
Sekarang
Aku menyuapkan soto koya porsi besar ini,pelan,kunikmati setiap suapannya,berusaha menikmati. Bu Kasmi menemaniku,lagi
Tapi tanpa kamu
Bu Kasmi menatapku,dalam.Aku berusaha mengalihkan tatapannya. Aku tersenyum padanya.
“Bapakmu gimana,Nduk?”,Bu Kasmi membuka percakapan,pelan
“Minta doanya aja,Bu..Biar Bapak bisa kesini lagi,makan sama saya,Bu”,aku menahan nafas,hatiku tercekat mengingatmu.
Ruangan itu.
Dengan makanan yang diberikan menggunakan selang khusus. Aku menangis pelan. Dan berdoa agar kamu bisa menemaniku makan soto koya porsi besar bersama lagi,Bapak..

Bus 117,gelap,kenyang

3 Comments Add yours

  1. dan says:

    hiks, terharu :’)

    1. @dan, terima kasih ya sudah menyimak 🙂
      @laksmi,tidak,alhamdulillah beliau masih sehat dan ganteng,FF ini pure hanya inspirasi yang muncul abis tidur d bus,hehe

  2. lakzmie says:

    Bapaknya udah meninggal apa lagi jauh ray? Menyenntuh deh ceritanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s