Kopi Tubruk

Lia menaruh tas punggungnya ke bangku kerjanya
“Selamat pagi,Pak”,Lia menyapa seorang Bapak di depan kubikalnya, seseorang yang paling awas terhadap isu pertambangan di Indonesia
“Ke lapangan lagi kamu?”,matanya tidak lepas dari layar monitornya
“Iya,tapi masih lusa,Pak.Gimana isu sosial Melang?”, Lia paling enggan datang ke mining site yang lagi heboh dengan isu sosial dengan masyarakat lokal disana.
“Udah kondusif setau saya,Lia.Mudah-mudahan pas bulan depan kamu kesana semua masalah udah beres deh”
“Amin,Pak”,mata Lia melirik ke kiri
‘Oke,saatnya’,Lia berjalan ke arah pantry
“Pagi,Pak”,Lia menyapa ceria OB yang sedang duduk d bangku pantry
“Pagi,Nduk.Ngopi?”
“He..iya pak Asdi”
Pak Asdi menggelengkan kepalanya lalu mengantar kopi untuk head management di ujung.

‘1.5 sendok teh kopi, 0.5 sendok teh gula,100 cc air panas. Kopi tubruk yang sempurna tanpa terlalu manis’,Lia asik meracik kopinya. Beberapa rekan kerjanya menyapa dan Lia tersenyum ramah ke mereka.
‘Nah,itu dia’
Sosok pria dengan kaos polo biru tua dan jins warna senada datang, satu-satunya yang tidak menyapa Lia pagi itu,dan enam pagi yang lalu.Maklum, karyawan baru dan belum sempat dikenalkan oleh Lia yang  selalu pergi ke mining site setiap saat. Masih canggung lelaki itu datang ke pantry,melemparkan senyum sekilas ke Lia yang masih ada di pantry,lalu sibuk membuat kopi. Lia meninggalkan pantry,dan membawa kopinya,tersenyum sendiri.

*** 
Jam 15
Kopi kedua hari ini. Dan kopi kedua untuk sosok itu. Lia kembali lagi ke pantry,membuat kopi kedua. Dan lelaki tadi sudah membuat kopi kedua nya di pantry.
“Geothermal ya Mas?”,Lia membuka percakapan,enam hari hanya diam saja menurut Lia tidak lagi tepat,Lia harus memulainya,duluan.
“Iya.Kamu dari..”,lelaki tadi melihat kubikel Lia,menerka dari divisi mana perempuan ini
“Mining,Mas”,Lia menuang air panas ke cangkirnya,sambil tersenyum.
‘Haduh,gini nih pesona engineer, buluk tapi kyut’, Lia berusaha menyembunyikan grogi nya.
“Jarang cewe suka kopi item loh.Udah lama suka kopi?

Lama,Lia masih mencerna ucapan lelaki itu,itu pujian atau…, “Saya duluan ya”,lelaki tadi meninggalkan pantry dan mata Lia mengikuti sampai lelaki itu duduk,tenggelam di kubikalnya.
‘Belom kenal namanya,Mas.Udah pergi aja’,gerutu Lia,menghirup uap kopi yang wangi. Bersiap membawa kopi ke mejanya.
Pak Asdi datang dengan membawa banyak cangkir kotor di nampannya.
“Mbok kalo suka kopi jangan dibuat Mbak Lia, sampe dua kali sehari”,Pak Asdi meletakkan secangkir kopi tubruk penuh yang sudah dingin dekat Lia.
“Heee..bapak”,cengir Lia, malu,menatap dua cangkir kopi tubruk yang sudah dibuat pagi ini,selama seminggu ini,trik untuk bisa dekat dengan lelaki buluk tapi kyut tadi.

One Comment Add yours

  1. Rhein says:

    Aaaahh… aku juga suka kopi…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s