Pelangi Senja di Bukit Pelangi

 Untuk proyek amal yang unyu #27

 

“ Ini masih butuh revisi lagi, masa’ teori panjang – panjang ngga ada reaksi atau kalkulasi nya”, ujar Pak Agam, mengoceh sambil terus sibuk menghisap rokoknya.

“ Baik, Pak”, Tali menganggukkan kepalanya pelan, tapi otaknya mulai berpikir keras, dari situs mana lagi ia harus mencari bahan ilmiah acuan untuk skripsinya.

“ Tapi ini bagus..”, Pak Agam terdiam, menghisap dalam rokoknya, matanya tetap tertahan pada draf skripsi yang sudah mengalami belasan revisi.

“ Iya, ini bagus. Kamu bisa menambahkan bahan acuan secara visual, tapi tolong kalkulasi fisika nya, kamu anak sains kan, Tali?”, Pak Agam mengalihkan pandangan ke arah anak didiknya, matanya menatap tajam.

“Iya, Pak”, mata Tali tidak sanggup beradu pandang lama dengan dosen konservatif tersebut.

“Bagus, kalau kamu sadar. Jadi kamu sadar kalau skripsi ini tidak bisa dijelaskan dengan teori kan, tapi harus ada perhitungannya, jangan berpegang sama teori saja, kamu bukan anak sosial”, Pak Agam menyerahkan draf tersebut ke Tali.

“Iya, saya akan perbaiki segera, terima kasih,Pak. Permisi”, Tali meninggalkan ruangan. Nafasnya sesak. Sesak oleh asap rokok yang dihembuskan berkali – kali dengan santainya ke muka Tali, dan sesak mencari sumber tambahan lagi untuk skripsinya.

Tali menuruni tangga. Hari ini ia akan mulai merevisinya, di suatu tempat.

***

‘ Jam 3 sore, ngebut amat ya gue’

Tali melihat sekitar, dan menghirup dalam udara sejuk di tempat itu, dan Tali duduk di rerumputan lembab, dipersiapkan meja kecil yang selalu dibawanya sejak semester akhir ini, dan membuka laptopnya. Dan mulai sabar mengerjakan. Matanya sekali-kali melirik ke langit,  awan, menerka apakah akan ada pelangi atau tidak. Si pemburu pelangi menjalankan aksinya, kepalanya mendongak, mencari – cari, Tali yakin pasti akan ada pelangi, karena selama di tol tadi hujan rintik namun cerah.

‘Ngga ada’ , pencarian setengah jam mengelilingi area seperti sia-sia, mata Tali tidak menangkap sedikitpun gradasi warna di langit itu. Tali kembali membuka laptopnya, matanya menatap lama wallpaper, setidaknya 80-an foto pelangi yang sudah digabungkan menjadi satu menghiasi cantik laptopnya dapat menghibur dirinya atas kegagalan perburuannya.

Matanya kurang awas selama beberapa puluh menit, hingga akhirnya Tali sadar ia tidak sendiri, ada yang bergerak cepat di samping kanannya, berwarna gelap dan..

Tali menahan nafas, dan mencoba untuk tidak berteriak. Dirinya takut ia akan salah langkah kalau membuat kegaduhan, perlahan Tali menarik laptop nya dan mengarahkan ke arah kepala sosok tersebut. Dan..

“Tenang”, seorang lelaki mencegah Tali melakukan tindakan anarkis yang sudah ia niatkan. Seorang perempuan tersenyum ke Tali dan menuju sosok tersebut, sosok yang ingin dibunuh Tali. Gerakannya tenang, namun awas. Lelaki tadi menahan Tali maju dan tersenyum. Tali terdiam,memperhatikan perempuan kecil yang ada di depan nya. Melihat apa yang dilakukannya.

Perempuan tadi membawa ular tersebut, pelan dan berjalan menjauhi Tali. Tali tercekat, beribu decak kagum terhadap perempuan tadi. Dan dia kembali mendatangi Tali. Perempuan mungil dengan kaos besar,celana pendek dan sandal gunungnya.

“ Ngga perlu dibunuh, dia ngga mau bunuh elo kok”, dan perempuan tadi duduk menjauh dari Tali. Lelaki tadi mendatangi perempuan tadi, dan Tali mengikuti dari  belakang.

“Maaf,gue cuma..”, Tali salah tingkah.

“Ngga apa-apa, lo kayak gitu sebagai bentuk pertahanan kan?”, lelaki tadi berbicara ke Tali.

“Maaf ya”, Tali kembali ke mejanya, tangannya masih memeluk laptop yang tadi hampir menjadi korban tameng dia terhadap ular. Tali kembali duduk.

“Tadi namanya ular tikus,hem..dia ngga bahaya kok. Lagi cari makan aja sebelum masuk kandang”, lelaki dan perempuan tadi yang menolong dia menghampiri Tali.

“ Nama gue Diva, dan dia abang gue, Aga”, Tali bersalaman.

“Baru pertama kali kesini?”, Diva membuka percakapan

“Iya”

“Pasti baru pertama kali berhadapan sama ular”

“Hee..iya, makanya gue takut abis tadi”

“Yang berkunjung disini udah tau ular apa aja yang ada disini. Asal kita ngga ganggu, mereka ngga akan ganggu kok”

“Lebah aja nyengat kalo kita usik kan?”, sambung sang kakak.

Tali tersenyum, “Gue diajari juga aja skalian kalo kalian mau”

“Boleh – boleh aja”

Dan sore itu Tali terlibat percakapan seru dengan kakak – beradik pencinta ular itu. Mereka masih kuliah, Aga sepantar dengan Tali. Tapi satu hal yang membuat Tali kagum, adalah selain mahasiswa, mereka juga sebagai snake-handler. Salah satu profesi yang tidak pernah terfikirkan oleh Tali.

Aga mendatangi Tali ketika adiknya menjauh

“Besok lo  balik kesini?”

“Sepertinya, tempatnya bagus”, Tali tersenyum. Aga salah tingkah.

“Walaupun banyak ular?”, Aga bertanya penuh selidik

“Gue pemburu pelangi di senja hari. Saat gue lagi serius ngerjain skripsi di balik monitor laptop, terus gue lihat langit senja, sore hari, dan muncul pelangi. Gue ngerasa..tenang”, Tali menatap langit sekali lagi

Andai pelangi itu manusia, aku pasti harus bersiap patah hati. Walau indah, tapi tidak dapat digapai’

“Bener, gue akui kok, makanya gue sama adek gue sering lagi kesini. Besok kesini lagi aja ya,Tali”

Dan sore itu, dengan lembayung yang menghiasi langit Bogor, walau tanpa pelangi, Tali tetap menikmati hari itu , teman baru dengan profesi unik.

***

Tali pulang kembali ke Jakarta. Diva dan Aga kembali menuju rumah mereka, berangkulan.

“Besok mau ular apa Bang?”, Diva mengelus ular pelangi kesayangannya.

“Ular berbisa aja”

“Ngga takut dia ngga kesini lagi?”, Diva melihat abangnya khawatir, menurut gadis mungil tersebut menakuti Tali dengan ular adalah cara yang aneh untuk bisa berkenalan dengan Tali.

“Ngga, gue yakin dia akan terus kesini. Karena itu”, Aga menunjuk pelangi yang daritadi ditunggu Tali, yang secara perlahan muncul, menghiasi langit Bukit Pelangi senja itu.

4 Comments Add yours

  1. Ulaaaaar!!..hiiiiii lariii….. 😀
    nice story ray…

  2. idur says:

    hehe…lucu juga tentang ular yah .. jadi Ge-eR neh, karena mungkin saja inspirasinya dari saya yah 😀 .. Keep Writing 🙂

    1. @mas kohan, terima kasih, semoga bisa mendapat banyak inspirasi dari ular
      @mas idur, wahahah, at least i’ve finished ur challenge, but next time, I will make this story longer :p

      1. idur says:

        honestly, this is too long for me … hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s