Semua Berubah

Aku menyesap kopi sekali lagi,merasakan campuran krimer dan gula yang tidak membuat eneg. Aku menatapmu,memerhatikan perubahanmu.Ada,banyak.
Yang pasti perbedaannya kita disini untuk hal yang berbeda

“Ngga diminum kopinya?”
Kamu yang daritadi menunduk,hanya memutar-mutar gelas kecil berisi kopi tubruk. Kopi yang bisa lahap kamu minum. Kopi yang bisa membuat aku tertawa terbahak-bahak, karena kamu selalu menyesap sampai ampasnya,dan tertinggal di sela gigimu.
Kamu menggeserkan gelasmu ke arah kirimu.
“Aku udah ngga minum kopi lagi”
“Bisa gitu?”,aku mengernyitkan alisku. Merasa ragu, kita dulu besar bersama, berbagi bersama, dan hidup bersama selama beberapa tahun. Bahkan kita baru beberapa bulan berpisah, mengapa sudah banyak perubahan yang aku temui darimu?
Kamu kedinginan dan mengeratkan jaket parasutmu.
“Kamu ngga kedinginan ya?”,telapak tangan kamu bergesekan satu sama lain,mencari kehangatan.
Kalau aku masih bersamamu, akan kupeluk dirimu, erat.Aku berikan kehangatan
Aku menggelengkan kepala,”Sudah terbiasa dengan udara disini
Suasana kedai kopi terasa begitu sepi. Hanya dua orang bapak-bapak yang sedang bercengkrama, dan satu anak muda yang sedang membaca koran lokal sambil menyesap kopi hitam di depannya.
Mataku kembali memandangimu, banyak sunyi dibandingkan percakapan hangat. Padahal harusnya selama ini kita tidak bertemu, ada banyak cerita yang dapat ditukar.
Ada banyak tawa yang harusnya bisa dibagi.
Ada banyak tangis yang seharusnya dihindari,tapi kita pernah menangis bersama disini.
Di kedai kopi sederhana ini.

“Aku udah liat kok secara online”,aku membuka percakapan lagi.
Kamu tersenyum tipis, “Tapi aku juga mau bertemu kamu. Apa kabarmu?”
“Baik. Kamu?”
“Selalu baik”, kamu mengambil gorengan dan memakannya perlahan,mata kamu memandang keluar. Menghindari tatap mata denganku?
“Desa ini indah ya..selalu”
“Makanya aku mengajakmu kesini.Ngga ada yang berubah disini”,aku memandang Sindoro-Sumbing dari kedai kopi sederhana ini. Pemandangan Posong yang indah,yang harusnya bisa kita nikmati bersama.
“Aku boleh pergi?Harus kembali ke Semarang sekarang”,kamu membereskan tasmu.
“Ngga apa-apa,aku masih mau disini soalnya”
Pergi sana cepat,semakin lama kami disini dan hanya diam,semakin terbuka luka laluku
Kamu berdiri lalu langkahmu tertahan.
“Kamu taruh aja disitu”,mataku menunjuk meja. Kamu menaruh sesuatu, lalu pamit.
‘Bahkan aku sudah tau sebelum kau memaksaku ingin langsung memberikan ini padaku’
Aku menatap undangan itu, tidak menyentuhnya
Harusnya inisial aku disana
Selama 5 tahun bersama
Harusnya kamu tidak membatalkannya

Aku meminum kopi susu keduaku

Perjalanan ke kantor,hahai..7:33

2 Comments Add yours

  1. Santi says:

    Mantaplah Ray… Wherever.. whenever, in the spirit of writing, 2 thumbs up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s