Siap Melupakanmu

Aku melangkahkan kakiku pelan mengampirimu,menjejakkan kakiku dalam-dalam ke pasir yang halus.
Malam ini masih seperti malam Minggu sebelumnya,anak muda bermain volley pantai, eksekutif muda yang berkumpul,melepas penat dan bertukar cerita sambil ber- barbecue ria. Sungguh cara efektif untuk kehidupan mobilitas tinggi seperti mereka,seperti aku.
Aku datang bersama rombongan mereka, barbecue an,dengan sedikit minum-minum,lalu apa?Mungkin akan bermain kartu bersama, tidak ada mata yang terpejam. Biasanya aku akan mabuk tapi masih sadar,lalu menarik salah satu dari mereka. Yah..aku mau sekali-kali bercinta dengan kolega ku sendiri,dengan anak buahku.

Tapi malam ini,tidak.
Kamu menarikku menjauhi hingar-bingar malam itu.
Kamu berdiri tegak di atas karang besar,dan aku hanya menyenderkan diriku pada pohon kelapa di belakang. Aku hanya menatapmu,lekat. Harusnya aku sudah lincah mengambil buku sketsaku lalu menggambarkan dirimu,wajahmu yang selalu aku kagumi. Tidak ada cela dalam setiap garis wajahmu.
“Kita tidak perlu bertemu di tempat ini,bukan?”, aku menatapmu tajam,kamu menghampiriku, setelah lama menikmati angin malam itu.
“Tidak apa-apa”,aku mengalihkan pandanganku,enggan menatapmu lama.
Kamu menyibakkan rambut yang menutupi mataku, lembut.
Tolong jangan ada satu bagian dari tubuh kita bersentuhan,aku tersiksa
“Tolong jangan ganggu aku, Nola”
Aku menatap punggungmu yang menjauhiku,menjaga jarak
“..jangan ganggu aku atau istriku”
Nafasku tercekat. Iya,aku memang pernah meneror istrimu, menghubungi nomer rumahmu, berujar kata-kata kasar ke istrimu. Tapi percayalah,hari ini aku sudah siap melupakanmu, aku sanggup menghapus patah hati ini.
Kamu memejamkan matamu.

Kenapa?Mengingat luka itu?Saat kau menemukanku tidur dengan orang lain?
Aku mencoba menerka fikiranmu malam itu
“Sudah,kita selesaikan malam ini.Maafkan aku”,aku merebahkan diri di pasir halus ini. Gemerisik nyiur, teriakan riuh rendah orang-orang disana.
Merebahkan diri bagimu adalah ritual. Bahkan walau kita sudah terpisah, aku masih bisa menjadi magnet buatmu, seperti dulu,selama lima tahun. Kamu ikut merebahkan dirimu.
Aku menyelipkan tanganku ke belakang punggungku, membiarkan tergencet badanku dan ditahan lembut oleh pasir halus.
Kau ikut merebahkan diri,tapi menjaga diri,membuat jarak.
“Lupakan aku,berjalanlah dengan kehidupanmu,lembaran barumu”,kamu berkata pelan,suaramu melunak.
“Dengan cara apapun?”
“Iya,dengan cara apapun”
Aku terbangun, mendekatimu perlahan. Iya,aku ikhlas melepasmu, melupakanmu
Dengan cara apapun

Kamu terbangun perlahan,dan bangkit.
Aku ikut berdiri dan menatap langit,gelap.
Aku memelukmu
“Iya,aku sudah siap melupakanmu. Dan ini tidak sakit…”,kuhujamkan cepat pisau ini ke dada kirimu,cepat,berharap kamu tidak lama merasakan sakit ini.
Dan kamu tersungkur
Dan melempar pisau dan sarung tangan vinyl jauh ke laut
Iya,aku siap melupakanmu

2 Comments Add yours

  1. Santi says:

    Waduh endingnya kejem amat ray.. hahaha
    good….tetep semangat untuk FF nya

    1. Ngga apa apa sister,skali kali kita matiin tokohnya,hahahah #ketawaiblis #kejem
      Hehe,tapi terima kasih ya masih betah kunjung,cenneng dueeeech *jadi ilfil*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s