Terlalu Jauh

“Emang siapa?”, Afa mengiriskan daging steak lalu menyuapkan ke mulutnya, tapi matanya tetap tertuju ke Resha, penasaran yang berlebihan

“Yang pasti elo udah tau”, mata Resha melihat sekilas ke sahabatnya, lalu menatap ke langit malam yang sangat cerah di skydining restoran

“Serius?”, mata Afa membelalak, proses pengirisan makan malamnya pun terhenti sebentar

“Tahu, bukan berarti kenal, betul?”, Resha menatap Afa iseng

“Ih gitu sih”

“Kepo amat sih!”

“Lo kan frigid, susah suka sama cowok”

Resha bersiul – siul seakan tak peduli celetukan sahabatnya, daripada dibales lagi nanti Afa ngambeg, Resha terdiam, matanya kembali lagi menatap langit, tersenyum

“Nah, pake senyum – senyum!!”, Afa memergoki Resha tersenyum, pipi Resha bersemu merah

“Cakep,Fa”

“Terus?”

“Gagah”

“hmm…lalu?”, Afa mendekatkan lagi bangkunya ke depan Resha, berharap semakin dekat dengan jawabannya

“Ketemu dimana?”

“Disini”

“Disini?”

“Iya”, Resha membereskan poni depan panjangnya yang sudah menutupi mata, memasang bando

“Dia suka ngikutin gue,Fa”

“Woooow..kenalan ngga?!?!”

“Tanpa kenalan gue udah tahu nama dia kok”

Afa semakin penasaran, dahinya mengernyit, memikirkan siapa lelaki yang bisa membuat Resha bersemu. Resha lalu sibuk memainkan kamera SLR-nya, tangannya mulai lincah bermain dengan lensa tambahan dan sibuk mengabadikan malam dan wajah Afa.

“Gue lagi ngga mood difoto”

Resha tergelak

“Haha..model apa tuh?Ngga profesional. Dia kalo gue foto ngga pernah pake mood”

“Eh ada tuh disana?”, Afa merebut kamera Resha, tidak berhasil

“He eh,ada disini”

Afa menyilangkan tangannya di depan dada, bersender pada kursinya. Resha tahu, Afa paling tidak suka dibikin penasaran.

Kasian akh anak orang

“Oke”, Resha meletakkan kameranya, tapi tanpa menutup lensanya, menandakan bahwa  beberapa menit lagi dia masih akan mengabadikan suatu objek.

Afa bangun, antusiasnya kembali

“Dia..gue..sering ketemu sama dia. Biasa aja,awalnya yah. Sampe suatu malam, gue ngeliat dia, dia beda. Beda dari malam sebelumnya, disaat itu gue selalu berharap bertemu dia,Fa”

“Aseek nih sahabat gue,terus?”

“Lalu..gue pernah dalam perjalanan panjang gue naik bus itu tuh, yang ke Magelang. Nah..damn!Gue ketemu dia! Sumpah yah,gimana gue ngga  deg-degan, lagi tengah malem, kesepian, lihat jalan, ada dia. Dia seakan ngejaga gue, gue cuma bisa senyum sama dia..Gue aja ngga yakin dia mau kenal sama gue”
“Lo cantik kok,punya modal buat kenalan duluan”,muka Afa ditutupi oleh cangkir besar Ocha
“Terlalu jauh,Fa.Gue ngga berani..”
Iya,dia selalu menjaga gue
Dan bertemu dia itu seperti sebuah harapan satu sisi
Gue berharap lebih tapi gue tau jawabannya,ya..kita ngga bisa bersatu

Resha mengambil lagi kamera nya dan mulai sibuk mengulik kameranya, lalu dia berdiri di pinggir balkon,bermain navigasi,berbalik menuju satu arah mata angin,dan membidik sesuatu.
Klik.Flash.
“Kurang jelas”,keluh Resha
Resa kembali duduk di depan Afa,mengulik lagi kameranya sebelum dia memberikannya ke Afa. Angin malam mengacak-acak rambut mereka berdua.
“Bentar”,Afa mencepol rambutnya ketika Resha menyerahkan kameranya
“Mo gue tunjukin ngga?Nih”
,Afa langsung merebut kameranya,sebelum melihat Resha menambahkan
“Jauh,jarak kita terbentang 700an juta kilometer,ngga akan bersama”
“Ini?”,Afa menunjukkan satu obyek di layar kameranya
“He eh”
“Engh..Mars?”
“Bukan,Io, Europa, Ganymede,hmm..Galilean moons”
“Jupiter?!!?”
Afa tergelak,Resha pun juga
“Gue serius tapi,gue cinta sama Jupiter”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s