Ini Mainanku

Sabtu,somewhere in 1997

Aku duduk di bangku kayu kecil,menghadap lima anak kecil yang sedang bermain taplak meja, tertawanya riang,senang. Salah satu dari mereka giliran melempar batu ke petak nomer 9,wah kadang bagian itu punya kesempatan paling besar,tapi kalo batunya ada di ujung dekat lengkungan,wah,susah sekali untuk mengambilnya.

Aku asik menonton anak-anak lucu tersebut
Boleh ikutan ngga ya?
Aku menggelengkan kepala,ah malu sama umur.
Aku melihat ke kiri,seorang gadis lucu, dengan pipi gembilnya mengawasi anak-anak itu. Lidahnya asik menjilati es krim yang ditumpuk dari 3 scopes. Aku bahkan sudah tau pasti akan ada noda hijau di hidung gadis tersebut,karena es krimnya tinggi sekali.
Salah satu anak yang sedang asik memakan gulali dari abang jualan yang tidak jauh darisana,berjalan mendekati gadis tersebut. Tatapannya mau tahu,tapi aku yakin dia cukup ramah.
“Main yuk sama kita?”,bahkan darisini aku bisa mendengar ajakannya yang setengah berteriak, atau terlalu bersemangat. Keempat temannya menghentikan permainan dan menatap gadis tersebut antusias, salah satu dari mereka berteriak sambil mengajak dengan isyarat tangannya
“Ayooo…!!!”
Aku melihat gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunduk,malu. Aku tidak melihat bibirnya bergerak, aku yakin ia hanya diam saja.
“Ayo Kala,giliran kamuu!!”,seorang memanggil anak kecil yang tadi mendekati gadis itu. Ya,mungkin namanya Kala,karena anak itu langsung melanjutkan permainan.
Gadis itu lalu pergi,dan aku mengikutinya.

****

Minggu,same place in 1997

Gadis itu datang lagi,dan aku juga. Aku hanya tidak sabar melihat permainan apalagi yang mereka mainkan. Kali ini ada sepuluh orang, banyak sekali. Mereka asyik bermain karet. Aku datang terlambat, yang jaga sudah menaruh karetnya di kepala,wah sudah mulai level tinggi. Aku melihat seorang anak mungkin yang paling muda dan jarang jalan,aku geli sendiri. Dia pasti anak bawang.

Aku melihat lagi gadis itu,menonton mereka. Aku duduk disebelah dia dan tersenyum, membelai rambut hitam sepundaknya.Cantik.
“Ngga ikut main aja?”
Kamu hanya melihatku, tapi diam saja. Lalu aku kembali menonton mereka. Ada yang sedang sibuk makan permen coklatnya, tapi masih mau berbagi dengan temannya. Ada yang asik memakan lidi-lidian dengan bumbu yang merah sekali.
Pedes banget tuh
Aku bergidig,aku kurang suka pedas.
Seseorang meneleponku dari seluler yang ia berikan untukku.
“Iya,Bu?”
Ia memerintahkan ku sesuatu,dan aku menyerahkan selulerku ke gadis itu.
“Mommy,aku ngga mau main sama mereka,Mommy. Mainan mereka aneh-aneh!!!”
Mommy berbicara sesuatu kepada anaknya,lalu
“Beneran Mommy?okkeh,aku pulang.Bye!!”
Kamu menggandeng tanganku dan mengajak pulang
“Mommy bawa boneka dan masak-masakan baru untuk aku,Mbak Suni.Ayo Mba,mari kita pulang saja”
“Kamu ngga main sama mereka?”
“Mommy bilang jangan main macem-macem yang bisa bikin aku kotor”
“Itu ngga bikin kotor,Sayang”
“Aku lebih suka main dirumah,boneka,masak-masakan,sega sama Mbak Suni”
Aku melihat lagi ke anak-anak itu yang masih asik bermain karet,bermain pada masanya.

Ah Halwa, sayang sekali kamu melewati masa bermainmu di luar rumah. Aku khawatir nanti ngga akan ada cerita seru yang bisa dikenang kalau kamu sudah remaja nanti.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s