Hangga

Untuk proyek #20HariNulisDuet dengan @rahmiaulina, kyaaa amiii!! Seneng banget bisa duet maut dengan Anda!!>_<

 

Shara kembali menyesap sedikit teh hitamnya. Pagi itu, seperti kemarin dan beberapa waktu yang lalu, Shara sibuk di depan layar laptopnya, mengejar deadline laporan yang tidak pernah berkurang setiap harinya, dan merangkai slide demi slide untuk presentasi minggu depan. Matanya kembali menatap jajaran bukit yang jauh dari tempat dirinya terduduk saat ini, bukit hijau yang indah terangkai dengan cerahnya langit biru tanpa awan. Tempat yang indah untuk mendulang  banyak insiprasi dan banyak energi positif. Tapi mungkin hari ini akan berbeda, hari ini akan menjadi batas atas suatu perasaan  yang harusnya bisa dialihkan oleh kegiatan lain, tapi saat ini, tidak ada lagi  batas kesabaran menahan rasa itu. Dan Shara hanya bisa menatap lembaran kosong yang belum berisi apapun untuk laporannya besok.

“Apa kabarnya, Shara?”, suara yang selalu ingin ditunggunya setiap hari

“Baik – baik saja. Kamu?”

“Haha..aku ngga nanya kabar kamu kok”, suara di seberang sana tergelak, Shara sudah membayangkan pemilik suara ini kalau sedang tertawa geli pasti matanya jadi seperti menghilang, sipit sekali

“Loh, terus nanya kabar siapa? Kan manggil nama aku tadi”

“Apa kabar-nya,Shara? Bukan apa kabar,Shara?Beda,kan?”
“….”
“Ah ngambeg. Apa kabar kamu, hei, cincin di jari manis kirimu, Shara?”

Kali ini Shara tidak bisa menahan senyumnya. Hangga selalu bisa merangkai katanya.
“Baik – baik aja katanya, tapi ada yang iri”

“Oh,siapa?”

“Engh..” Shara menimang cincin indah di jari manisnya, tersenyum membayangkan apakah Hangga sedang memakai cincin ini atau tidak. “Jari manis kananku masih kosong, Hangga“.

Hangga tersenyum kecil, tapi manis. Selalu semanis itu, salah satu senyum favorit Shara, senyum yang selalu membuat Shara rindu. Kerinduan yang selalu dia simpan sampai detik ini, saat dia memandang jauh, berharap dari kejauhan Hangga datang membawakan kabar gembira, membawa kotak kecil berisi cincin indah, berlutut di depannya dan bertanya apakah Shara bersedia jari manis kanannya dipakaikan cincin tersebut. Seperti cerita-cerita khayalan yang menjadi favorit banyak wanita.

Sudah hampir 6 bulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Hangga di sore itu, ketika Hangga menceritakan rencana masa depan mereka berdua yang begitu hebat, ketika Hangga memintanya untuk sabar menunggu hingga Hangga selesai pendidikan pascasarjana dan melanjutkan pekerjaannya. Ketika Hangga berjanji, tabungannya selama ini akan digunakan untuk rencana pernikahan mereka. Sudah selama itu pula, Shara merindu. Pekerjaan Hangga memang sangat menjanjikan, perusahaannya sangat baik, memberikan beasiswa untuk Hangga agar melanjutkan pendidikan. Tapi ini yang akhirnya membuat Shara menderita, menyimpan rindu begitu lama terpisah jauh dari Hangga.

Shara mengalihkan lembaran kerjanya ke account emailnya. Jemarinya sibuk menuliskan sesuatu dengan semangatnya.

Tak.Tek.Tak.Tek

Bahkan Shara pun heran mengapa semangat ini tidak bisa datang kalau di urusan pekerjaan. Matanya sedikit melirik ke layar kanan bawah, masih jam 7 pagi. Bukan saat yang tepat untuk memohon Hangga menghubunginya hanya untuk bertukar cerita dan membalas rasa rindu dengan kata-kata. Bertukar cerita via surel, menceritakan ada apa kemarin dan pagi ini, ini adalah hubungan satu arah yang paling Shara pilih kalau Hangga tidak  bisa menghubunginya pada malam hari ini.

Skype? Akh, Shara paling benci dengan kemajuan tekhnologi yang satu itu, dimana kita bisa bertatap wajah dengan orang jauh yang kita cintai. Menurut Shara, itu membuatnya semakin tersiksa melihat Hangga yang jauh disana.

Shara masih asik menuliskan surat untuk Hangga, kata-katanya dipilih, ia tidak ingin terlalu manja dengan berkali-kali mengetikkan kata ‘Rindu’ di satu surat yang sama. “Grow up,Shara, ini bukan pacaran ala anak sekolah”, Shara mengumpat pada dirinya sendiri, dan menekan tombol backspace pada saat ia mengetikkan lirik lagu untuk menunjukkan rindunya.

I’ll be your strength,

I’ll give you hope,

Keeping your faith when it’s gone

The one you should call,

Was standing here all along..

Shara mengalihkan rasa rindunya dengan lantunan lagu ‘This I Promise You’, baginya hal ini akan menyiksa Hangga disana jika ia menuliskan lirik itu untuknya.
Kita sedang sama-sama mengumpul rindu, lalu mengapa harus saling menyiksa dengan berkata secara verbal kalau kita merasakan hal itu? Bahkan, tanpa kita tautkan dengan kata, kita sudah sepaham dengan perasaan itu.

Kalau saja Hangga tidak bicara soal rencana masa depan mereka berdua yang begitu indah sebelum pergi, mungkin Shara sudah menerima lamaran Brama, mantan pacar Shara sewaktu SMA, yang sekarang sudah bekerja di perusahaan luar negeri. Brama begitu menjanjikan segalanya, begitu mencintai Shara. Bunda pun menyukai Brama. Usia sekarang ini bukan lagi usia untuk sekedar berpacaran tanpa ujung yang jelas. Tapi kalau bukan karena komitmen Shara pada perasaannya untuk Hangga, kalau bukan karena impian Shara untuk menghabiskan masa tua bersama Hangga, mungkin rasa rindu ini tak akan begitu menyiksa, mungkin Shara akan menuruti saran Bunda untuk menerima Brama.

Saved as draft. Shara tahu mengirimi surel untuk Hangga yang berisi keluhannya akan rasa rindu hanya akan membebani Hangga. Hangga, cowok yang sangat tough, jarang sekali mengeluh, jarang sekali terlihat sedih dan susah, dan sangat suka humor. Beda sekali dengan Shara yang lebih emosional. Tiba-tiba Shara teringat kata Bunda, “Sifat dan kepribadian kalian cocok. Jangan lama-lama ya pacarannya, menikah lah segera”. Shara sengaja mengulur waktu untuk bilang ke Bunda bahwa Hangga punya janji yang membuat dia menolak lamaran Brama. Shara mau membuktikan komitmennya untuk menunggu Hangga berbuah indah. Bunda akan lihat.

Hujan tanpa mendung. Pikiran Shara buyar. Bagaimana mungkin hujan di musim panas begini? Dia agak panik karena tidak membawa payung. Kafe ini tidak jauh dari komplek rumah Shara, tapi apa yang bisa dia lakukan kalau hujan? Bunda hari ini ulang tahun, pasti sedang kalang kabut di rumah karena mendapati anak perempuan bungsunya tidak ada di rumah sepagi itu. Shara memang suka diam-diam ke Kafe ini, tempatnya nyaman dan sepi, sudah mulai buka pukul 6.30 pagi, ketika banyak yang mulai mencari sarapan.

Shara melipat laptop nya, memasukkannya ke dalam softcase, kemudian ke dalam postman bag nya, berharap cukup aman di dalam sana, karena akhirnya dia memutuskan untuk pulang tanpa payung.  Hujan-hujanan.

Hari ini ulang tahun Bunda. Kalau rasa rindu pada Hangga ini tak luntur oleh hujan, maka Bunda akan tahu, hadiah ulang tahunnya akan sedikit terlambat, sampai Hangga kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s