Mendung di Bukit Ankila

Proyek #20HariNulisDuet bersama @thikaherlani, aaa..ini cerpen pertama yang membuat saya mau nangiiiiis T_T

Pagi itu ramai.

Layaknya iring-iringan, segalanya seperti turut di belakang, bahkan alam pun seperti tak mau kalah ingin ambil bagian.

Arak-arakan awan kelabu..

Desis-desis angin yang kadang datang bersamaan dengan dedaunan layu..

Gelegar petir di kejauhan yang tak pernah ragu..

Dan tak ketinggalan,

 

Teriakan Mama

 

“Afikaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! Jangan lupa bawa payung, sayaaaaaaaaaang! Jas hujannya juga! Udah mendung bangett! Nanti kalo di jalan kehujanan gimanaaa???”

 

Afika sedang mendamba Petrichor saat itu, sembari berjalan perlahan ke pojokan rumah, ke tempat di mana si Biki, sepeda kesayanganya, selalu ditenggerkan. Afika selalu suka dengan momen sebelum dan setelah hujan dan……….oiya, Afika belum menyahuti Mama..!

 

“Iya momskiiiiiiiiiiiii! Payung dan jasnya udah di dalem taass!”

 

“Okeeeee…Take care ya, sunshiiiiiiiiiiiiiiiiine!”, sahut..err, bukan, teriak Mama kembali.

 

Setelah long-far-away-kiss-bye yang biasa Afika lakukan dengan Mama sebelum keluar gerbang rumah, Afika pun mengayuh si Biki ke sekolah, tentu dengan riang, karna hujan sebentar lagi akan datang! Yeiy!

 

Afika, Mama dan Ka Bara, sudah 7 tahun ini hanya tinggal bertiga. Sedangkan Papa pastinya sudah terlalu nyaman di rumah abadinya. Afika sangat menyayangi Mama. Apapun akan dia lakukan untuk menyenanginya. Karena didirinya, tempat hatinya berteduh. Afika juga menyayangi Ka Bara. Juga sangat! Dia sekarang sedang berada di Amersfoort menyelesaikan studi S-2nya. Afika berharap, bertiga dapat secepatnya kembali berkumpul lagi. Kalau sudah begitu, Afika akan merasa segalanya cukup.

 

Afika tidak berangkat sekolah pagi itu, kaki kecilnya mengayuh sepedanya menuju perbukitan Ankila yang masih asri, tempat ia dan kakanya menumpuk mimpi dan berkhayal.

Maaf mama, Afika bolos sekolah, batin Afika berontak, namun ada yang lebih berontak lagi, rasa rindu Afika.

Biki setia menemani perjalanan Afika. Bukit Ankila masih jauh dan Afika mengayuh dengan semangat.

Matahari telah terkesiap saat itu. Sadar bahwa sudah lewat waktunya untuk dia unjuk diri. Dengan cepat, matahari menyingkap gumpalan awan-awan abu dan memendarkan gelombang hangat.

Barisan pepohonan rimbun yang membuat batas lembut antar langit, dan awan bergantung indah, dengan hawa dingin, walaupun terik.

Sepertinya Sang Khalik membatasi matahari memberi panas ke bukit ini, biar hanya ketenangan dalam hawa dingin di bukit Ankila ini.

**

Afika kembali ke hari itu,sebelum kaka Bara berangkat.

“Liat De,awannya”
Afika tidak perlu mendongak tajam untuk melihat awan yang ditunjuk Ka Bara.
Ka Bara duduk di sebelah adiknya,dan merebahkan diri.
“Kaka selalu menyimpan impian kaka di setiap awan yang lewat,kaka berharap awan itu membawa impian kaka dan diri kaka nanti. Sesuai di tempat yang kaka impikan”
Afika melihat kakanya yang sedang menatap satu awan besar,Afika tahu,ia sedang menyimpan satu impian besar disana.
“Jadi kaka,pernah bilang sama sang awan,impian kaka mau sekolah di Amersfoort dan..”
“Sang awan membawa impian kaka..”
“Ke Amersfoort..”
“Dan membawa diri kaka juga..”
“Ke Amersfoort”

**

Singkat. Namun sarat akan makna tujuan hidupnya. Ya..begitulah Bara, kaka yang selalu Afika kagumi.

Di email terakhirnya, Bara mengatakan akan kembali selama beberapa hari sebelum sibuk kembali dengan tugas akhirnya. Rindu lah alibinya.

“Besok.. aku, mama, dan ka Bara akan berkumpul lagi! Ya Tuhaaaan.. cepetin waktunya dooong! Afika ga sabaaaaar mau ngumpul lagiii”

Awalnya samar, namun akhirnya jelas terdengar, gaung lagu salah satu boyband negeri ginseng, Put Your Hands Up memecah kesunyian bukit Ankila. Afika merogoh saku rok seragamnya, dan..

“Ya Ma?”

“Sayang….” Sahut mama dengan suara pedih.

Afika tercekat. Firasatnya menyatakan ada sesuatu yang ga baik.

“Ma, ada apa???”

“Sayang.. Kakakmu..”

“Ka Bara??? Ka Bara udah pulang???” berondong Tanya  Afika menutupi kekhawatirannya

“Bukan, Afika…, Bara..” tangis mama pecah. Tak dapat menahan kuasa firasat, Afika terduduk lemas.

“MAMA! Ka Bara kenapaaa????” Desak Afika tak sabar

“Kakakmu udah.., ga ada sayang.. kecelakaan..”

 ***

Satu…Dua…Tiga…dan banyak orang pergi dari pemakaman indah ini

“Pulang yuk”, Mama memegang  pundak Afika, lembut

Afika menggeleng dan menunjuk Biki yang setia diam di pohon besar itu

“Aku mau pulang sama Biki”

Mama meninggalkan Afika tanpa kata, Mama tahu, memeluk anak  bungsunya hanya mampu membuat keduanya semakin rapuh

Afika menatap kosong pemakaman itu, pada saat peti dimasukkan ke liang lahat Afika berbalik dan memeluk Mama, erat,Afika tidak mampu melihat bahwa Bara yang sangat ia cintai ada di dalam sana, menyusul Papa.

Afika menaiki Biki dan perjalanan pun dilanjutkan, ke Bukit Ankila

Tangan kecilnya meraih bunga, yang dulu selalu dipetik Bara yang posturnya tinggi.

Bukit Ankila siang itu, mendung, awan besar menggantung, tapi tidak menjatuhkan setetes air hujan pun di Bukit Ankila. Air mata Afika jatuh, melepaskan Bara ternyata lebih berat dari apa yang ia bayangkan. Kehilangan Bara ternyata lebih berat dari yang seharusnya ia rasakan.

Awan mendung itu, besar, berjalan menjauhi Bukit Ankila. Apa itu isinya semua impian Kaka yang belum terkejar? Yang menjadi gelap dan suram karena semua impian terhenti di usia?

Afika terdiam, pertanyaannya tidak berjawab. Afika menujuk satu awan cerah, memejamkan mata, mengirim doa, agar disana Bara dan Papa akan bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s