Terlambat di Sesal

Proyek #20HariNulisDuet dengan @ferdiann , seru, karena lancar jali walau mulainya baru malem-malem. Nice to duet with you,bro!! 😉

 

 

“Elo  bisa ngga tepat waktu balikin mobilnya?!!?”, Vino berteriak dari atas, meneriaki adiknya yang memulangkan mobil jam 1 malam, mobil mereka.

“Kan gue bilang gue nge-band, gue juga udah bilang kemungkinan pulang larut, Bang”, Ega tidak mau kalah, disusul abangnya yang ada di atas, berusaha menjelaskan semuanya.

“Hari ini lo ngga make nih mobil sama sekali”, Vino membereskan tas dan seluruh hand-out kuliah yang masih berserakan di lantai.

“Dih, lo  ngga ada toleransi banget sih,Bang. Gue telat sebentar aja juga”, Ega menyilangkan kedua tangannya, kesal dengan keputusan abangnya.

“Gue bawa mobil sekarang, yang mau gue bawa hari ini banyak”

“Gue naik motor?”

“Iya!”

Ega berbalik dan membanting pintu kamar abangnya. Merasa terkejut dan kesal perlakuan adiknya, Vino keluar dari kamarnya dan berteriak

“Lo masih SMP aja udah bawa mobil!”

Dan Ega melengos lalu berangkat ke sekolah tanpa mengucapkan salam.

 

Pelajaran Ilmu Bumi sedang berlangsung, tapi pikiran Ega melayang kemana-mana. Dia kembali teringat dengan pertengkarannya dengan abangnya, Vino.

Iya sih emang gue yang salah, telat balikin mobil

Tapi yaelah, cuman telat dikit doang sampe segitunya

Iya tapi tetep aja telat. Mau 1 menit, mau 1 jam, mau 1 hari, namanya telat ya tetep telat

Ya tapi kan dia abang gue, harusnya bisa lah ngasih toleransi ke gue, adenya satu-satunya. Bisa lah maklumin gue harus nge-band

Coba lo pikirin deh, abang lo udah kuliah, lo masih SMP. Udah gitu juga dia lagi magang, pasti lebih butuh pake mobil dibanding lo. Lagian kecentilan banget sih lo masih SMP udah gaya-gayaan pake mobil

Hmmm, iya juga sih. Gue juga belom ada SIM juga…

Pergolakan batin terjadi dalam benak Ega. Ega baik dan Ega jahat bertengkar dalam pikirannya. Dalam hati, dia ngerasa nggak enak sendiri sama abangnya, udah bersikap kasar tadi pagi. Tapi sekali lagi, egoisme masih berkuasa di hati Ega, dan Ega jahat sementara masih menang.

 

***

‘Bang,berangkat kuliah jam berapa?’,

Ega mengirim pesan singkat ke abangnya,ia heran,di jaman serba canggih seperti ini Vino masih setia dengan ponsel standarnya.Iya,standar,buat wi-fi pun ngga bisa.
‘Jam 15.Kenapa?’
Mata Ega beralih ke jam dinding kelasnya, ia ingat hari itu ia mengajak jalan teman-temannya ke mall high-class yang cukup jauh dari sekolahnya. Tidak akan ada penundaan,Ega sudah kepalang janji ia akan membawa mobil.
‘Ngga bisa gini,gue harus ambil tuh mobil, ini harusnya giliran gue!’

Bel pulang berdentang,ia membawa motornya cepat menuju rumah, mengambil kunci mobil pada saat abangnya masih di kamar dan mengancam Mbok Asih agar tidak berteriak memanggil Vino,lalu pergi.

Ia tidak tahu akan ada kejadian besar yang dia alami,yang membuat ia merubah niatnya.

 

***

Jam di ponsel Vino menunjukkan angka 14.03, saatnya ia berangkat kuliah. Dengan segera ia menyambar tas yang sebelumnya sudah ia persiapkan dari pagi. Setengah berlari ia pergi ke dapur untuk mengambil kunci mobil.

Pandangannya terpaku ke atas lemari es, dimana biasanya dijadikan tempat penyimpanan kunci mobilnya.

“Lho, kemana kunci mobilnya?”, katanya dalam hati.

Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sekarang Vino benar-benar berlari menuju garasi, dan benar saja tebakannya benar, mobilnya tidak ada.

“MBOK ASIIIIHH, MOBILNYA DIBAWA EGA YA??!!”, teriak Vino. Kali ini benar-benar habis kesabarannya.

“Ii.. Iya Mas, tadi mas Ega yang bawa mobilnya.. Tadi mbok dilarang ngasitau ke Mas Vino”, takut-takut mbok Asih memberitahu Vino.

“Ah tai nih Ega!”. Kemarahan Vino benar-benar memuncak, tanpa sadar dia berkata kasar di depan mbok Asih, pembantu yang sudah mengasuh Vino dan Ega dari kecil.

Terpaksa Vino berangkat ke kampus dengan motor, walaupun hatinya masih benar-benar kesal kepada Ega.

“Sampe kampus gue sms tuh anak, gue maki-maki pokoknya”, pikir Vino dalam hati, tanpa tahu hari itu dia tidak pernah sampai ke kampusnya.

 

***

Di sinilah Ega termenung, menangis meratapi lubang pusara kakaknya, Vino, yang telah meninggal dunia kemarin sore. Vino tertabrak sebuah mobil ketika sedang mengendarai sepeda motor menuju kampus. Tanpa sadar, karena sedang emosi, Vino menerobos lampu merah. Dan terjadilah kecelakaan maut itu.

Di sanalah sekarang Vino terbaring, membujur kaku mencium tanah, perlahan-lahan ditimbuni tanah merah.

Tak pernah suatu penyesalan datang tepat waktu. Seandainya aja Ega lebih menerima ketidak toleransian abangnya hari itu, sekali saja

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s