Satu Rahasia Umum

Proyek #20HariNulisDuet tema “Rahasia” dengan @adichal , nice story, nice plot. Great Story ^^

 

Sasha bosan.Sebagai mahasiswa tingkat akhir ia serasa digantungkan statusnya, mahasiswa? Bukan,karena sudah hampir tidak ada kuliah. Lulus?Bukan juga,karena dirinya masih sibuk mengumpulkan data untuk skripsinya nanti.

Sasha menyalakan televisi, tidak ada acara yang cukup bagus siang hari. Jempolnya secara acak menekan salah satu saluran swasta yang tengah meliput fenomena unik. Sasha mengambil cemilannya dan mulai menonton,berharap acara informasi siang itu meluruhkan rasa bosannya.
“Sukri, sang dukun tiban ajaib”
Sasha mengernyitkan dahi,tapi matanya tetap tidak bergeming dari acara tersebut. Dan liputan tentang Sukri pun akan diinformasikan sehabis jeda iklan berikut.

Masih ada aja yang percaya kayak gituan

Sasha ke kamar kecil sebelum acara tersebut dimulai.

Hap!

Ia loncat ke sofa yang lima menit yang lalu ditinggalinya. Ia meraih ponsel yang berada di meja samping singgasana. Sasha sempat membuka akun jaringan sosial 140 karakter. Dengan lihai jari-jemarinya menari di tuts ponsel, menginformasikan si Sukri kepada para pengikutnya.

“Guys.. DUKUN TIBAN Guys! Liat di tv deh..”

Status terbarunya di linimasa tesebut mengundang reaksi yang cukup menghebohkan dari teman-temannya. Sasha belum mau membalas reaksi teman-temannya.

“Hihihi.. bakal ada artis baru lagi nih..”
Matanya tidak lepas dari televisi, meliput seorang anak perempuan berumur tiga tahun yang dapat menyembuhkan gangguan tulang,encok, dan masalah tulang lainnya. Seperti Ponari si batu ajaib atau banyak pengobatan alternatif lainnya, pasiennya kebanyakan orang-orang yang sudah menyerah bergantung dengan medis dan sudah menghabiskan banyak biaya untuk itu,dilihatnya juga pasien yang datang kebanyakan adalah masyarakat golongan bawah. Sasha menggelengkan kepalanya pelan, berusaha skeptis sama apa yang dia lihat.

Coba yang ketawan sembuh diwawancara juga,ini ngga pernah kan?‘,skeptis Sasha.

Matanya memicing ke layar kiri bawah, badannya dicondongkan ke televisi itu.

“Desa…Kawilerang, Ci..ma..hi ..”,eja Sasha.

Jiwa penasaran Sasha terusik,dengan waktu yang sangat luang,bukan tidak mungkin Sasha berangkat kemana saja ia mau.

Gue langsung buktiin kesana ah!!‘,tekad Sasha

Ia segera meninggalkan tempat duduknya dan berlari ke arah kalender. Menunjuk-tunjuk tanggalan, kapan kira-kira dia bisa meluangkan waktu beberapa hari untuk pergi dan melihat secara langsung sosok sang ‘dukun sakti’ itu. Dan, tentu saja pasien-pasien yang telah berobat.

Dapat! 3 hari rasanya cukup. Jumat, Sabtu dan Minggu akhir bulan Februari ini. Yep!‘ batinnya. Itu berarti  hanya empat hari dari sekarang.

Tas ransel yang bertengger di samping lemari baju segera direngkuhnya. Ia jejalkan kaos ke dalam ransel tersebut bersama celana denim, perekam, dan..

“Kamera saku gue manaaaaa?..”

Teriakannya membelah keheningan siang yang terik itu.

***

Sasha tetap berangkat. Tangannya bersilang, masih kesal dengan kamera saku yang tidak ditemukan, mengandalkan kamera dari ponselnya yang tidak lebih dari 3 Megapiksel. Sasha sibuk membenarkan letak ranselnya, rasa penasarannya membuat ia rela berpanas-panasan, karena bus yang melalui Ciamis hanya yang NON-AC, dan hasil jelajah di internet Sasha menemukan bahwa butuh perjalanan 2 jam berjalan kaki untuk mencapai ke Dukun Tiban cilik tersebut.

***
Sasha mengusap peluhnya,dan siap melakukan perjalanan panjang. Uniknya, jalur menuju lokasi tersebut sudah ditentukan, tak heran tidak ada jasa ojek atau portir yang disediakan untuk membantu sang pasien sampai sana.

Medannya sangat sulit, jalanan dari bebatuan koral kecil-kecil, ada tanjakan dengan kemiringan sampai 60 derajat, di samping kiri-kanan terdapat sulur yg dapat membantu berpegangan, namun harus hati-hati, sesekali ia menemukan medan yang membuat punggungnya hampir melintir.

“Ibu..jalan sendiri aja?ngga digendong?”, Sasha bertanya kepada 2 orangtua dan 1 ibu muda yang sedang berjalan di depannya

“Iya Nak, syarat menuju kesana ada dua: mengikuti jalur ini, tanpa alas kaki dan harus berjalan  menggunakan kaki sendiri”, sang Ibu tersenyum.

Sontak Sasha melihat kaki-kaki tanpa alas ke teman seperjalanannya ini. Ia mengernyitkan dahi, heran, semuanya nurut dengan peraturan dukun cilik tersebut. Sesampainya di lokasi, semua rahasia kekuatan dukun itu harus tersingkap.

***
“Fyuuuuhh..”

Hembusan nafas kecil keluar dari lubang mulut dan hidung Sasha. Ia menjatuhkan badannya di sebelah pohon rindang. Hawa sejuk semilir-semilir mengusap rasa capai dari tubuh Sasha. Sahutan burung-burung berirama, sungguh suasana yang sangat menyenangkan.

Lima meter dari tempat peristirahatannya ini sudah terlihat kerumunan orang. Ya, mereka pasti para pasien yang ingin berkonsultasi kepada sang Dukun Tiban. Sasha hanya menggeleng-geleng kepala sambil sibuk mengambil telepon genggam di sakunya.

‘Cpret.. Cpret..’

Beberapa gambar diambil Sasha dari kamera ponsel. Ada kebingungan kecil di lubuk hatinya saat melihat hasil foto tersebut..

Muka semua pasiennya kenapa begini ya?

Sasha mendekati beberapa pasien disana, udara dingin sekali, tapi badan mereka berpeluh, muka mereka memerah. Bergantian Sasha menatap foto dan para pasien, juga sang dukun tiban cilik yang akhirnya bisa dilihat Sasha.

Jalur yang sudah ditentukan
Medan yang melelahkan tapi menyegarkan
Udara dingin
Pasien yang tidak boleh digendong, harus berangkat sendiri
Jalur batu tanpa alas kaki

Sasha tersenyum sendiri. Rahasia itu sudah terkuak bahkan tanpa Sasha harus bertanya pada dukun yang bersangkutan. Medan yang sulit malah mendorong  badan untuk bergerak dan menyembuhkan sendiri seiring perjalanan panjang, itu mengapa salah satu syarat si dukun adalah harus berjalan sendiri.
Sasha bersiap pulang. Biarlah ini menjadi rahasia dan rezeki Sukri sang dukun tiban cilik itu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s