Grow Up,Tara!

Duet #20HariNulisDuet yang sangat maut dengan @DjarzMuhamad , settingannya ngga jauh jauh dari Kukel – Ayam Ortega – UI si almamater kita, enjoy!

 

Bug!!

Tara melemparkan diktat kuliahnya yang menumpuk. Terlalu banyak yang harus dibaca, dan terlalu sedikit waktu untuk mengerjakan. Apalagi kalau itu tugas kelompok, dan semua progres kelompok tertinggal hanya karena ada rapat dengan kepanitiaan.

Elo lagi rapat sama BEM,Tar. Kita ngga bisa lagi re-schedule waktu

Kita ngga bisa ngerjain di kosan elo kalau elonya aja ngga ada

Hand-outnya di kita aja, kalau elo ngga ada kita bisa back-up

 

‘Bullshit!!’, maki Tara. Semua tugas kelompok sudah selesai dan dia hanya tahu bagian awal dari pengerjaan.

‘Maaaan…ini kan semester tengah, elo semua harusnya ngerti ini lagi masa-masanya eksis, toh tuh dosen kan pengertian kalau kita ngumpulin telat’

Suasana hati Tara begitu suntuk, saat ini yang dia mau, mengganti kelompok untuk tugas berikutnya dan membuktikan ke teman kelompok lamanya kalau ia bisa mengerjakan semua tugas itu, tidak hanya numpang nama.

 

Ketika Tara lagi tidur-tiduran di kosan sambil iseng liat timeline twitternya, tiba-tiba layar Blackberrynya berubah muncul 1 nama dan foto yang tidak asing lagi buat Tara, sebenarnya Tara lagi malas untuk mengangkat telepon, tapi telepon tersebut terus berdering, seakan penelpon tidak hanya sekali mencoba menghubungi.

“Halo Tar, gw ganggu gak?” tanya Dimas..

“kenapa mas? Gw lagi di kosan kok baru beres rapat BEM tadi.. lo mau ngomongin masalah kelompok kita ya? Don’t bother de” jawab Tara setengah jutek, entah kenapa kalo ngobrol sama Dimas Tara susah sekali jutek.

“Lo pasti blon makan malem kan? Yauda, gw jemput lo ke kosan ya, kita makan di Ortega, gimana?” Tanya Dimas antusias

“gw ga laper! Mau langsung tidur aja” jawab Tara sekenanya,

“Coba lo buka jendela lo deh” kata Dimas.

Lalu Tara setengah malas membuka jendelanya, dan dia melihat Dimas di motor memegang bungkusan yang bertulis ayam bakar Ortega kesukaan Tara

“sayang ni udah gw beli, masa dibuang Tar,masih panas lagi, temenin gw ya” lanjut Dimas

Tara lalu menyibakkan tirai kamarnya,tersenyum sendiri,lalu bergegas turun sambil berkata pada Dimas sebelum menutup teleponnya “Iya deh gw turun!”

 

***

“Makannya yang lahap kek”, Dimas daritadi memerhatikan Tara

“Ngga bisa”, disingkirkannya nasi dan dada ayam ortega yang masih mengepul.

Dimas mengenyitkan dahi, sakit hati.

“Tara, jangan kayak gini terus. Grow up”, Dimas berkata sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, lalu terkejut dengan reaksi Tara.

“Maksud lo apa?!?!”

“Lah, Tar, santai..gue cuma bercanda tadi”, Dimas heran dengan reaksi Tara yang tidak biasa

Tara memiringkan kepalanya, tatapannya sengit.

“Mo ungkit masalah tadi? Kenapa? Nilai kelompok kita A tapi tanpa jerih payah gue? Iyee..gue yang salaaaah, gara – gara BEM kan?!?!?Iya kan?”, Tara tertawa sinis, dan beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa jadi kesana?”, Dimas semakin heran, rasa laparnya hilang saat itu juga.

Tara jengah dengan ketidaktahuan Dimas.

“Gue masuk ke dalam ya, maaf ngga bisa nemenin sampe kenyang,gue abis ini rapat!”

Dan Tara menutup pintu ruang tamu kosan, pembatas antara tamu lelaki dan ruang tengah.

‘Dewasa dong Tar..’, Dimas hanya bisa terdiam

 

***

Libur pasca UAS, begitu banyak rapat dan LPJ yang menunggu Tara, tapi ternyata hari itu Tara harus pulang ke rumah, karena ibunya yang meminta. Setelah berkali-kali diminta tolong, untuk yang ini, Tara mengalah.

Ketika sudah masuk libur pasca UAS Tara terpaksa balik ke rumahnya di Tangerang disuruh ibunya untuk membantu adiknya Adit yang mau ujian SNMPTN.

“Taraaaaaa, kamu jangan jalan2 lagi doong, itu Adit dibantuin Fisikanya dia masih banyak yang ga ngerti! kamu sekali-sekali jadi kakak yang baik dong buat adiknya!” ceramah mama Tara ketika melihat Tara mau keluar rumah pakai baju rapi.

“Aditnya ga mau diajarin sama aku maah!, katanya ngajarnya ga enak! lagian kan mama udah pake guru privat, dimanfaatin dong maa!” jawab Tara sambil ngeloyor keluar. Dan ketika Tara keluar, dia melihat Dimas yang baru dateng pake motor di depan rumah Tara. Tara langsung geram tiba-tiba

“ngapain lo kesini mas?! tau darimana lo rumah gue?!” bentak Tara

“Gw selalu kesini kok Tar 2 kali seminggu buat ngajar Fisika Adit”

“hah?! lo ke rumah gw 2 kali seminggu? dari depok ke tangerang? malem-malem gini?!” dan ketika Tara ingin melanjutkan pertanyaannya Adit dari lantai atas tiba-tiba teriak “Masuk mas Dimaaass! motornya masukin aja ke garasi!”

 

Keesokan harinya Tara baru tau dari sang mama kalau Dimas sudah mengajar Adit 2 kali seminggu sepanjang semester. Selain ngajar Adit, ternyata Dimas juga ngajar privat di Bogor di hari yang lain dan menjadi pengajar suka rela di sekolah anak-anak jalanan milik papa Tara setiap weekend. Dimas juga sebagai penyambung kabar Tara ketika sang mama tidak pernah bisa nanya kabar ke Tara langsung karena Tara jarang bales BBM, sms atau sekedar ngangkat telepon dari mamanya.  Yang paling bikin Tara berubah cara pandangnya terhadap Dimas adalah ketika sang mama bercerita kalau Dimas sering izin menginap di rumah Tara di kamar Adit karena tidak sempat balik ke Depok demi mengerjakan tugas kelompok bagian Tara. Jadi itu kenapa Dimas tiap hari rabu selalu datang telat fikir Tara.

 

Yang Tara tahu Dimas hanya mahasiswa PMDK dari Bondowoso, orang tuanya petani, dan dia kuliah dibeasiswakan pemerintah kota Bondowoso.  Tapi ternyata sudah 1 tahun Dimas uang beasiswanya tidak keluar, tapi dia tetap usaha dengan mengajar di Tangerang dan Bogor setiap hari, bahkan dia masih sempat untuk mengajar anak-anak jalanan hari Sabtu dan Minggu.  Tara merasa bersalah, dia kira Dimas cuma mahasiswa kuper yang mentingin nilai dan ga peduli sama organisasi, dan Tara menjadikan kehidupan organisasinya sebagai excuse terhadap tugas-tugasnya dan malah menyalahkan teman-temannya.  Tapi ternyata dirinya lah yang sangat tidak dewasa menjadikan organisasi sebagai alasan untuk ketidak mampuannya mengatur waktu.

 

Setelah mendengar apa yang mamanya jelaskan, Tara terenyuh, tidak bisa menahan semua rasa bersalah dan segala perbuatan kurang berkenan terhadap Dimas,  bahkan terhadap adiknya sendiri.

“Tara ke kamar dulu ya,Ma”, Tara beringsut dari kursi dan masuk ke kamar, keinginannya untuk rapat langsung hilang.

Ada sesal dihatinya, membodohi diri sendiri yang tidak peka dan tidak dewasa atas apa yang selama ini ia perbuat. Segera ia meraih Blackberrynya lalu..

“Halo,Dimas. Makan Ortega lagi yuk bareng gue. Gue yang traktir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s