Melangkah Sejajar, Lalu…

 

“Nanti keselek”, Raga menyikutku pelan, aku hanya melirik sekilas sambil mencibir.

‘Lo ngga ngerti sih. Dasar cowo’

Aku menghirup aroma teh aroma mint yang selalu menggoda, selalu minta dipesan, lalu ke seruput perlahan teh mint  tapi mataku tidak bisa beralih dari sosok itu. Menggoda, itu penilaian pertamaku, dan penilaianku selanjutnya.

Pernahkah kamu ikut tersenyum saat sosok yang kamu suka sedang tersenyum ke suatu benda? Hanya ke satu benda?Bukan kamu, tapi kamu merasa seluruh saraf kamu tenang, hanya karena melihat senyumnya. Aku mengalami itu, hari ini.

Damn, gini ya cewe kalo udah naksir orang”, aku melihat Raga ber-rolling eyes ria, aku diam saja. Iya, bukan hanya Raga yang cowo, teman perempuanku juga sampai speechless lihat kelakuan ku karena sosok itu.

“Gue suka sama dia, Raga, tapi ngga berani maju”

“Kalo gitu lo mundur”

Aku memandangnya sengit, “Gue bisa nunggu,kok”

Aku menyeruput lagi teh mint ini, dan mencomot 2 muffin yang sudah kita pesan.

“Kok ngga ke kelas-kelas sih?”, aku membisik ke Raga yang mulai menyalakan rokoknya.

“Ya ngga tahu, jam 14 kan?”, Raga melihat jam tangannya.

“Ini baru jam 13.30 tau”

“Oh iya, dia bukan tipe yang suka dateng cepet ya.Hahaha..”

“Elo juga”

Aku terdiam, menahan senyum. Melihat sosok itu yang sedang tersenyum di depan layar laptopnya.

‘Kamu lagi ngapain senyum-senyum? Chating? Apa jangan-jangan main games sebelum kelas? Penasaran deh..”

Tidak sadar kalau aku ikut tersenyum ketika Raga lagi-lagi menyikutku

“Senyum mulu kayak orang gila deh”

“Sirik aja kayak orang susah deh”, aku ikut membalas

“Gue ngerjain tugas nanti deh, daripada ngeliatin elo aneh gini”

Aku tersenyum menyeringai, “ Ngerjainnya tetep disini lah, gue lihat”

Raga merebut scientific calculator ku dan mulai asik membolak-balik hand-outnya.

“Gue nanti liat elo, kalo ngga percaya gue liat punya dia aja deh..”

“Kayak dia mo kasih aja ke elo”, Raga mulai tenggelam dalam tugasnya sendiri, aku semakin tenggelam dalam imajinasiku  bersama sosok itu.

 

 

15 menit aku sibuk minum, makan, melihat, menatap. Sekilas dia ngeh dan melihatku lalu tersenyum.

“Udah jam 14, ke kelas yuk ah”

Aku membereskan semuanya dan melihat sosok itu, “Tuh..tuh..dia mau ke kelas juga, ayo ah!!”, aku menarik kaos Raga.

Aku berjalan bersama Raga, di belakang sosok itu, lalu mempercepat langkahku, Raga bisa lebih cepat dari aku, tapi dia memilih untuk menyamakan langkah denganku. Aku mulai mendahului sosok itu, menyejajarkan agar bisa menyapanya.

Dan kita sejajar.

Dan aku hanya diam, diam di samping Raga. Aku, Raga, sosok itu.

Raga menyenggolku, aku hanya diam.

‘Kenapa otak ngga bisa berfungsi seperti yang diperintahkan sih?Sapa, sapaaa’

“Eh, kalian. Udah selesai tugasnya?”, sosok itu menyapa duluan ternyata, pengecuuuut ah elah, makiku ke diri sendiri.

“Sudah, he..sedikit”, Raga akhirnya yang menjawab

“Ngga apa-apa, nanti kita bahas sama-sama kok”, sosok itu tersenyum, aku tidak lagi berani melihatnya, kaku, menatap ke depan.

“Kamu udah selesai tugasnya, Fafa?”

“Engh..udah,Pak.seeedikit juga”

“Oke, kita bahas sama-sama saja nanti sama yang lainnya ya”

“Baik,Pak”

Raga memperlambat langkahnya, aku ikut berhenti

“Payah lo, berani dari jauh doang”

Aku meneruskan langkahku, tak acuh, dan memasuki mata kuliah Pak Hanif, sosok itu.

3 Comments Add yours

  1. adichal says:

    Comment ini dipersembahkan untuk membantu naikkin traffic.

    *disambit

    1. naikkin traffic hati saya dong kakaaaa… . . . . :3

      1. adichal says:

        Gimana mau naikkin traffic hati kamu, mata kuliah saya aja ga pernah masuk. *seritanya Pak Hanif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s