Ketika Idealisme Mahasiswa Masih Tertahan Di Dunia Kerja

Masih salah?Ketika saya lebih memilih mundur?
Daripada tetap di sini tapi hati saya terus melawan?
Jangan salahkan kepribadian saya, jangan salahkan ego saya
Salahkan dunia kampus yang menempa habis mental selama bertahun-tahun
Itu kalau Anda berani –Farah Soraya-

 

 

Boleh ya gue tambahin nama gue disana, soalnya emang quotenya pure dari gue, dari pemikiran gue,hahah

 

Beberapa hari yang lalu, ada kejadian yang mendorong gue untuk mem-posting topik ini. Salah satunya yah..idealisme. Gue ngga coba menjelaskan tentang agent of change, iron stock atau moral force. Tenang, we just make it light share aja, mungkin untuk 3 hal ini masih ada senior-senior atau yunior gue yang bisa lebih ‘menyulut’ dan memberikan tulisan yang lebih ‘menyentil’ untuk topik ini. Kalo gue, ngga, saat ini, ngga dulu. Gue hanya mau bercerita tentang hal yang terjadi di kehidupan kerja gue, dimana gue mendapat penolakan dari dalam diri gue sendiri, karena apa?Mungkin karena apa yang ditempa selama ini.

 

Suatu event kampus ngga akan efektif kalau mengalami penundaan waktu pelaksanaan acara selama berkali – kali

 

 

Betul, gue sedikit banyak setuju sama hal itu. Dari zaman gue masih jadi kroco, harus mulai semuanya dengan ngisi form Open Recruitment sampe dipercaya jadi Steering Committee, gue selalu percaya sama hal itu. Bagi gue, lebih baik gue kerja keras walau harus nangis keluar darah campur keringat tapi acara sesuai yang sudah di-set dari awal. Iya, gue percaya.

Kalo gue nulis nama gue di Open Recruitment, artinya gue udah tau dan udah yakin kalo gue mau kontribusi disana, berjuang sampai akhir.

 

Nah..itu dunia kampus. Kalo dunia kantor?

 

Akan jadi beda, semunya. Bukan berarti gue ngga bisa jadi bunglon yang mudah beadaptasi sama gimana cara kantor mengadakan kegiatan dan menarik panitia nya, tapi ketika paham gue sudah terpatri dalam, gue akan terus percaya sama apa yang gue yakinkan. Egois? Iya, betul. Tapi apa betul akan jadi egois kalau demikian ceritanya?Hmm..coba kita simak.

 

Gue pernah beberapa kali diundang lewat email untuk ikut rapat panitia suatu acara kantor. Dari nama di CC email-nya pun, gue yakin itu semua selektif. Benar, hanya kaum mudanya saja yang diundang. Dari kantor gue yang lama, gue juga yakin akan seperti apa kepanitiaan acara kantor itu, hanya menuruti apa yang company mau, hanya berjalan satu arah, gue akan menjadi robot yang sudah di setting dari awal dan hanya mengerjakan kerjaan yang disuruh. Iya, betul. Mulut gue seperti sudah dibungkam dari awal.

 

Tapi gue salah

 

Di kantor ini, gue dapat banyak kebebasan berpendapat untuk konsep acara, cukup senang. Yah..walau hanya dipilih satu pihak, namun gue senang karena gue ditempatkan di posisi yang gue mau *baca : Dokumentasi, dimana gue bisa mengambil gambar dari angle manapun yang gue mau, bisa membuat orang cantik/ganteng menjadi 180 derajat lebih jelek*. Dan suasana meeting yang sangat santai mengingatkan gue dengan rapat pleno atau rapat BPH dan rapat lainnya di kampus lalu.

Sayang sekali

 

Gue tidak suka penundaan acara. Yang dilakukan berkali-kali pula. Jadi dari banyak meet up yang bagus di meeting itu, perlahan gue menciptakan postulat baru yang mungkin diamini sama kalian semua : Semangat berkerja menurun seiring dengan penundaan suatu acara.

 

Iya, walau ditunjuk, gue mencoba menyatukan visi secara satu arah, yang gue pelajari secara autodidak, ‘ oh oke, nih acara mau dibawa kesini?Paham gue, bolehlah’

Dan tiba-tiba, acara itu ditunda kesekian kalinya karena masalah sepele meye meye yang bikin gue cuma bisa rolling eyes.

Next meeting? I didn’t join, due to lotta job those day. Kita bisa analogikan pada saat lo ngadain rapat, ada temen-temen lo yang ngga dateng karena kuliah atau banyak tugas? Sekali?Pasti diizinkan lah. Dua kali?Hmm..bolehlah. Sampe sudah ke berkali-kali-kali baru lo nanya ada apa.

Dan gue tidak datang sekali, karena kerjaan banyak dan gue udah aga ngga set sama pengubahan acara pelaksanaan yang bikin skala prioritas terhadap acara ini menurun gratis. Toh jobdesc gue kan di lapangan, gue bisa dateng rapat berikutnya, lalu…

Dan next meeting, tidak diundang lagi.

Dan gue tetiba merenung sendiri, wah..memang bener ya, kita ngga bisa menyama-ratakan peraturan di dunia kampus kita dulu sama dunia kerja sekarang. Lo akan ditunjuk secara satu pihak, lo akan mempunyai sedikit suara untuk menyampaikan pendapat, dan sekali lo ngga datang, ya ngga akan di ajak lagi.

Really?

Kalo gitu, muna ngga kalo gue bilang gue malah bangga dengan paham yang udah gue anut dari kampus? Bahwa daripada menunda suatu acara, gue lebih baik mundur dan diam?

Bahwa daripada gue mengacaukan acara, mending gue duduk manis sebagai peserta?

 

Dunia kerja. Menyenangkan. Pada bagiannya.

Dunia kampus. Menyenangkan. Selalu.

 

 

No hard feeling, colleagues. Hey, you know why I created this blog, didn’t you? Because I’m writing for unspoken things in real life 😉

 

 

 Idealisme mulai tumbuh ketika pertama kali tubuh menyentuh jaket ini :’)

 

 

 

5 Comments Add yours

  1. Teguh Puja says:

    Ya, sometimes we tend to say: which one is better? being an idealistic person or being a realistic person? =))

    Dibandingkan berpura-pura senang dalam satu kondisi tertentu, memang lebih baik mengambil jalan untuk berputar, dan mendahulukan mana yang lebih utama. 😀

    1. yeah, being an idealistic or realistic person could be determined by its term as a well
      but for this thingy, I could feel proud to my self for what I’ve got in campus 😀

      Dibandingkan berpura-pura senang dalam satu kondisi tertentu, memang lebih baik mengambil jalan untuk berputar, dan mendahulukan mana yang lebih utama. 😀 —-> dan quotes yang ini, suka sekali 🙂

      @kang aimbiembot jangan di share ke email kantor ya blognya nyahaha

      1. Teguh Puja says:

        Just stand as yourself! That’s the real you. 😉

      2. aibiembot says:

        ‘aibiembot’ not aimbienbot (kayak ambeyen jadinyaa) 😦

  2. aibiembot says:

    nice stand…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s