Sebuah Celah

Proyek #20HariNulisDuet dengan @TobiasHanggara, yang katanya tokoh utama merupakan perpaduan kepribadian gue dan dia, zzz..ngga terima!!! But nice story, I do like it >_<

 

 

“Gak bisa! ini gak mungkin aja di-publish! ukuran hurufnya aja gak sesuai sama yang saya minta! print lagi, Win!” Bentakku kepada Windi, asistenku.

“Tapi ini kan harus dipasang sekarang, mbak. Gak mungkin aja aku print ulang.. lagian kan ini cuma masalah ukuran huruf…” Tidak biasanya Windi membantahku, selama ini hanya Windi yang sabar menuruti idealismeku. Ya.. semua harus sesuai dengan rencanaku, idealku, dan standarku. Apa itu salah?

“Sejak kapan kamu ngeyel?”. “Kalo kamu gak mau print ulang, gulung, taruh di gudang, cancel aja proyeknya skalian.” Windi pun segera kembali ke meja kerjanya–tanpa berkata apa pun.

“Kenapa, Win?” Yola langsung mengalihkan perhatiannya ke Winda yang duduk dengan tergesa-gesa. “Tuh, biasa miss perfect…”. “Masa’, cuma karena ukuran huruf yang beda sedikit gue harus print ulang. Gak penting gitu… Gak mungkin kan tiba-tiba ada orang yang dateng ke kantor kita marah-marah karena dia liat ukuran huruf yang kebesaran?” Keluh Winda dengan bola mata berputar. “Yaaahh.. mau gimana lagi… She always perfect as we know it… Punya perusahaan periklanan sendiri di umur yang terbilang muda, cantik, pintar, gak pernah gagal gue rasa… Yaaa.. kecualiiii… cooww..” Ucapan Yola terhenti bersamaan dengan suara pintu ruangan miss perfect terbuka.

“Kalau mau ngobrol, sebaiknya besok kalian ajukan surat resign, nikah, jadi ibu rumah tangga biar bisa gosip tiap hari.” Lalu miss perfect berjalan kembali ke ruangannya, berhenti sebentar membetulkan bingkai lukisan yang sedikit miring. Windi dan Yola saling bertatapan sambil tersenyum. Pemandangan ini bukan yang pertama, begitulah caraku, miss perfect, menjalankan perusahaan. Stick to the plan. Semua orang menyebutku idealis, perfeksionis, detil, atau apa pun itu. Ya, aku menyukai kesempurnaan… hingga suatu peristiwa yang membuatku memelintir pemikiranku akan definisi kesempurnaan.

 

***

“Design yang seminggu yang lalu mana?”, Pak Nawang, salah satu jajaran komisaris yang juga adalah pamanku, datang tiba-tiba ke kantor untuk melihat revisi ulang desain yang hari ini aku janji mengirimkannya, yah..mengirimkan via e-mail, sampai akhirnya tidak kusangka beliau memilih untuk langsung datang. Bukan, bukan temu kangen yang aku harapkan jika beliau disini. Semuanya, murni bisnis.

“Itu..sudah saya revisi total, Pak. Karena banyak dari detil yang cacat dan fontnya terlalu  beragam, tidak seragam. Dan tidak..”

“sempurna”, ujar Pak Nawang sambil membolak-balik revisi desain tersebut.

“Iya,tidak sempurna,Om..”, aku duduk di ruanganku, ruangan ternyaman, yah..tidak ada gadis berumur 28 tahun yang sudah dipercaya menjadi CEO di perusahaan multinasional, tidak perlu aku banggakan dimana-mana dan di jejaring manapun, namaku sudah menumpuk di banyak media.

“Saya lebih suka design yang kemarin. Bukan revisi menuju sempurna seperti yang kamu pikirkan”

“Om, aku udah revisi sampai belasan kali untuk gambar ini”, aku bangkit dari kursiku.

“Saya  minta tema design ini adalah “Ketidaksempurnaan”, kamu sudah terlalu lihai dengan kesempurnaan yang kamu punya”

Dan Pak Nawang beranjak dan keluar, aku tahu, ketika ada penekanan di satu kata ‘Ketidaksempurnaan’, aku memang harus melakukan apa yang dia mau.

 

 

***

Aku duduk bersandar di kursi lounge ruanganku, buatan Eames, selalu memberi inspirasi walau hanya duduk bersandar dan memejamkan mata. Begitu caraku mencari ide dan mengobrak-abrik isi memori dan imajinasiku. Tapi kali ini… yang ada di pikiranku hanya kalimat ‘Ketidaksempurnaan’. Aku dapat menjabarkan makna ‘Sempurna’ dengan sempurna, aku dapat menjelaskan seluruh teoriku mengenai kesempurnaan, bahkan aku dapat menjelaskan teori kesempurnaan, keindahan, dan proporsi a la Plato, Aristoteles, maupun Phytagoras di luar kepala.

Kriiiingg…  Aku tersentak. Ponselku berdering. Alto.

“Heiii… lagi apa, Kal?” Semangat seperti biasa.

“Lagi pusiiing…” Dan seperti biasa pula, Alto menjadi ‘tempat sampah’-ku.

Your job, i guess?”

“Bingooo… ” Tentu saja Alto dapat menebak, ia tahu yang ada di pikiranku hanya satu, karirku. “Om Nawang minta aku ubah konsep, dia minta konsep ad yang baru ‘ketidaksempurnaan’, konyol kan,To? Kayak nyindir aku.”

“Yaa.. kamu kan desainer, designers suppose to design in any concept, kan?”

“Uh-huhh.. aku tahu, To. Tapi kamu kan tahu aku gak suka hal-hal berbau gak sempurna, di pikiranku gak sempurna itu ya berarti kontradiksinya sempurna..” Perdebatan idealisme pun dimulai. Sejak di bangku kuliah Alto menjadi teman dekatku… dan debatku. Kami seringkali berdebat mengenai desain, teori-teori, kehidupan, bahkan… cinta.

“Ya… Gak bisa segampang itu dipatokin sih,Kal. Menurut aku sempurna dan tidak-sempurna itu gak selalu harus kontradiktif kok, gak sempurna bagi kamu bisa aja sempurna lo buat aku.” Alto memiliki pemikiran yang lebih bebas dari aku, mungkin itu yang membuat dia terasa positif bagiku.

Yaudah, aku ke kantormu ya, Kal? aku lagi free kok. Mungkin aku bisa bantu kasih kamu pencerahan. Hehehe..” Alto pun menutup telepon. Selalu saja tergesa-gesa.

 

***

“Suatu design ngga perlu menuntut  Kesempurnaan”,Alto mulai membolak-balikkan design, gayanya persis seperti Om  Nawang.

Aku mengernyitkan dahiku, masih bingung, kenapa Alto dan Om Nawang bisa mempunyai pemikiran yang sama?

Alto ternyata membawa beberapa contoh ad untuk ditunjukkan kepadaku.

Aku mengambil posisi duduk di sofa tamu, berbeda dengan klien atau anak buahku yang selalu datang ke ruanganku, aku selalu angkuh di kursi direksiku, kecuali Alto. Dengan Alto, aku bahkan bisa berdiskusi di atas kursi bakso yang tinggal menunggu waktu untuk jatuh.

Alto menyodorkan beberapa design

“Ini, diambil dari staf kreatif yang ngga sengaja foto hujan besar di dekat motelnya di daerah Jogja”, Alto tersenyum padaku.

“Hmmm..”, aku mengamati dan benar, aku menemukan letak kesempurnaannya dari ad itu.

“Hujan, dimana-mana juga bisa hujan. Guess what, what the difference is?

Aku menunjuk satu gadis kecil, dengan payung merah mudanya, ceria menatap langit. Ceria,dan tulus.

Aku hanya diam dan tersenyum, Alto sudah tahu maksudnya.

“Design kayak gini, udah bisa dirobek – robek sama kamu, ngga menjual, Cuma hujan gede, tapi pas kamu lihat gadis ini dan ekspresi wajah ini, hanya butuh bermain efek untuk menegaskan ekspresi  gadis ini”

“Dan iklan ini menjadi advertising favorit di ajang kompetisi nasional belum lama ini”

Alto tergelak, dan  menunjuk satu design dengan konsep Ketidaksempurnaan  yang sama.

“Bukan nasional, internasional. Dan dia juara satu di kompetisi yang belum lama ini diadakan di Maldives”

What?!?!You must be kidding me”,jujur, aku terkejut, karena melihat design terakhir ada banyak kecacatan yang ingin sekali aku revisi, dan malah menjadi menang.

Alto tertawa, lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju kaca besar yang menghadap Selatan Jakarta. Yah, hanya aku yang bisa menyuruh staff building merombak habis ruangan ini, dimana seluruh kaca gedung menghadap Barat, dan aku secara khusus request pembongkaran ulang dengan kaca menghadap Selatan, agar setiap harinya aku bisa melihat jajaran Gede-Pangrango yang dapat melemaskan syarafku yang tertekan. Sempurna, memang, bahkan kondisi ruangan ini  harus sempurna, walau harus membayar mahal.

Aku memperhatikan design itu lagi, namun mataku tidak bisa lepas dari Alto yang berjalan pincang. Yah, Alto mempunyai kekurangan dari kecil dengan kaki yang asimetris, tapi aku yang akan maju untuk berkelahi menghadapi orang-orang yang melihat ia hanya sebagai seorang disabilitas. Dibalik fisiknya pemikiran dia luar biasa, ide, karya-karyanya, emosinya. Alto bahkan..

‘Kamu itu sempurna, dalam ketidaksempurnaan’, aku mendekatinya, dan memeluknya erat.

 

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s