Hujan di Bayang Dirimu

Proyek #20HariNulisDuet dengan @Bayulogi dengan tema “Tangis”, yang sukses membuat ending cerita ini jlab-jleb-jlab-jleb-nyess!!!

Gue menyeruput lagi segelas kopi robusta yang sudah mulai mendingin.Kopi kedua dihari ini,dan mudah-mudahan ini yang terakhir. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, yah.. dini hari. Tapi gue tetap menyeduh kopi Robusta kedua, tidak peduli efek kafein yang bisa jadi membuat rasa kantuk gue tertahan sampai siang hari.

Hujan, deras.

Yah, hujan yang begitu deras malam ini, cuaca yang tepat untuk meringkuk erat dengan selimut dan berpelukan mesra dengan guling.Tapi gue masih nyaman di sini, bertengger pada daun jendela besar yang sengaja dibiarkan terbuka, menyilakan angin malam masuk dan mendinginkan kamar ini, mendinginkan pikiran gue.

Hujan, dini hari, terlalu kepalang sering bulan ini, tapi satu hal, gue selalu ingat dia.

Nandira.

Gue sangat merindukannya malam ini, hujan ini.

Cowok? Melankolis lihat hujan karena perempuan?
Hei, so what? Coba terangkan postulat mana yang menyatakan hanya perempuan yang boleh menjadi sendu di suasana hujan. Bahkan hujan pun tidak pernah memilih gender untuk menciptakan efek rindu.

****

“Randy, hei, belum bangun juga?” Mama membuka jendela. Cahaya matahari pun berebutan menyerbu, seperti mama, memaksa gue untuk bangun.

Dengan susah payah gue berusaha membuka mata. Agak perih, susah pula. Gara-gara Robusta dan hujan tadi malam. Gue beringsut, membalik badan, dan memasukkan tangan ke bawah bantal. Aduh, nyamannya kasur gue ini… perasaan gue yakin, hujan tadi malam pasti menyisakan basah di mana-mana, menyejukkan udara pagi ini, membuat keinginan bangun semakin sirna.

Tapi, bukan mama namanya kalau membiarkan gue melakukan apa yang gue mau, apalagi hal itu salah menurut pandangannya. Dia pasti memaksa, sampai akhirnya gue benar-benar bangun, berjalan gontai ke kamar mandi, kemudian berpakaian seperti yang ia mau.

Ngomong-ngomong pakaian, sebenarnya hari ini gue berharap semua orang di rumah gue ketiduran. Gue berharap seisi rumah minum bergelas-gelas kopi Robusta lebih banyak dari gue dan baru tidur pagi ini. Kalau perlu semua manusia di dunia begitu. Jadi, tidak ada yang bisa saling membangunkan. Gue mau tidur terus, sampai sore kalau mungkin. Perasaan gue semacam mengutuk hari ini untuk bangun pagi, mandi, dan berpakaian rapi. Serius, gue sangat tidak menginginkan adanya hari ini. Tolong semuanya dengarkan gue, buat hari ini saja, gue enggak akan KE MANA-MANA! Gue mau di rumah, melihat keluar jendela, dan menunggu langit hitam membawa hujan seperti hari-hari kemarin. Gue mau sendiri. Mau sepi.

“Mandi, Ran!” Mama mulai tak sabar. Dia melempar handuk tepat di muka gue, lalu pergi.

“Akad nikah Nandira 1 jam lagi!”

***
Damn! Kenapa Mama mesti ingat lagi hari itu?
“Boleh ngga ikut,Ma?”, gue masih mengumpul nyawa gue, dan gue yakin sebagian nyawa gue masih ditarik air hujan tadi, menelusup dalam ke tanah, bergabung dengan air tanah. Nyawa gue yang terasa hilang, sadar hari apa ini, sadar ada apa hari ini, hari bahagia buat Nandira, hari paling drop buat gue.
Mama melotot dan kaget, “Jangan bercanda kamu,Ran”. Dan keluar kamar sambil membawa beberapa pakaian kotor gue.
Gue menutup mata, matahari semakin silau, seakan semua sinar yang harusnya disebarkan ke seluruh dunia di belokkan ke gue.
‘Bangun heh pemalas, elo harus bangkit, mandi, berpakaian rapi. Ngga peduli ini akan menjadi hari paling pilu buat elo, elo harus bangun. Sinar ini ngga akan meredup kalau elo belum bangkit’,matahari mengejek, sial! Gue bener-bener harus berangkat.
Yang gue ingat tadi malam, gue menangis. Yah..kenapa?Ada yang salah?Iya, gue menangis, gue berpura-pura membasuh muka gue dengan air hujan dan membiarkan air mata gue bergabung dengan air hujan, kalau ada adik gue Anjar yang tiba-tiba masuk kamar gue bisa bilang ‘Gue abis basuh muka gue pake air ujan’.
“Kenapa ngga mau dateng,Ran?Kamu juga ngga mau kemana-mana,kan?”
“Ini, udah rapi, artinya mau datang kan?”
“Iya,tapi susah banget dibangunin, sampe lewat subuhmu,Nak”
Mama sudah berdandan dan menyodorkan kunci mobilnya ke gue. Mama memperhatikan wajah gue, iya..ibunda mana yang ngga kenal anaknya kalau lagi ada apa-apa, dan Mama menangkap itu.
“Kamu ngga kenapa-kenapa kan,Ran?”
“Ngga, Ma”. Gotcha, ngga ada yang ngga tau kalo gue bohong.
“Aneh kamu, nikahan sepupu deket sendiri aja males-malesan. Yuk ah berangkat”

***
Di rumah Nandira, langkah gue semakin tercekat dengan suasana penuh beraneka macam hiasan pernikahan. Kepala gue tiba-tiba pening, seperti tak mampu lagi menahan badan. Mama dan Anjar gue rasa berjalan terlalu cepat. Anjar berlari kecil, mama membututinya, sementara gue semakin merasa sesak, susah bernafas, begitu semakin dekatnya dengan lokasi akad nikah Nandira.

NANDIRA & INDRA

Dua nama yang serasi terpampang. Gue langsung terkesiap, kemudian meneruskan berjalan tanpa tahu lagi ke mana mama dan Anjar.

“Bang, sini, di sini!”

Anjar sudah duduk berdua mama di tengah kerumunan saudara-saudara gue. Om Andi, Om Fadil, Tante Peni, semuanya, nenek gue, dan tentunya kedua orang tua Nandira, Om Zanu dan Tante Wita. Nandira belum muncul. Tapi, melihat wajah Tante Wita pun dada gue sudah ribut lagi. Mirip, Tante Wita dengan anak perempuan semata wayangnya itu.

Lamat-lamat gue berpikir lagi kenapa nasib gue harus bersepupu dengan Nandira. Kenapa kita malah jatuh cinta. Kenapa gue duduk di sini, ditindas oleh kehadiran Indra.  Yang lebih parah, gue engga akan pernah bisa bercerita tentang semua ini. Engga ke mama, ke Anjar, apalagi Om Zanu dan Tante Wita.

“Mari kita sambut calon mempelai pria …”

Suara orang menggunakan mic mengudara. Dia berhasil membuat seisi ruangan serentak berdiri. Sosok bersih, segar, tampan, itu milik Indra. Dia diiringi rombongan lain, diiringi juga oleh semua mata. Setelah mencium tangan calon mertuanya dengan takzim, Indra duduk gagah dengan setelan jas hitamnya. Orang-orang serba mengulum senyum, gue menilik-pandang, mengecil di hadapan Indra. Sebentar lagi, Nandira datang.

Semua telah duduk lagi. Keadaan hening. Belum ada suara mic, malah suara Anjar berbisik dari belakang punggung gue, polos mengatakan.

“Sabar bang.”

Gue pun menangis. Kalau langit sedang mendung, itu rindu. Tengoklah Nandira.
    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s