Satu Hal yang Terlewat

“Astagfirullah!!!”, Hana memekik pelan, meredam keterkejutannya, ia tidak mau Farhan ikut terkejut dan mengerem mobilnya terlalu dalam.

Farhan masih dapat mengendalikan mobilnya dengan baik, mobilnya hampir saja menabrak karena sedan  di depannya mendadak membelok ke kiri tanpa sen. Farhan terkejut sesaat, tapi masih bisa mengatur nafasnya, setidaknya mereka terhindar dari tabrakan beruntun di daerah Sudirman yang padat ini.

“Pantes tuh bumper belakang kanan penyok, aku yakin ngga cuma sekali tuh mobil kayak gitu”, Hana memalingkan mukanya ke kiri, melihat si pengemudi dengan tatapan kesal.

“Oh ya, aku ngga merhatiin”, Farhan sudah lebih stabil mengendarakan mobilnya

“Detail dong,Sayang. Perhatikan sekitar”

Farhan tersenyum masam.

Mereka menuju restoran dengan konsep saung yang terkenal di Jakarta Selatan. Farhan menggandeng tangan Hana, erat, dan masuk menuju tempat yang paling nyaman.

“Jangan kesitu, Farhan, kita ke tempat lain aja”, Farhan mengernyit, heran.

“Lihat daun pohon yang masuk sedikit ke saung itu, kan?”

“Iya, lalu?”, Farhan masih tidak bisa menangkap maksud Hana

“Makanan kita akan kebasahan kalo duduk disana, apalagi cuacanya lagi seperti ini”

“Aku..masih ngga ngerti”, Farhan menyerah, karena tidak bisa mengikuti jalan fikiran Hana

“Ada lap di ujung sana”, sembari Hana menunjuk lap kecil yang sengaja disembunyikan

“artinya meja ini baru saja kebasahan karena hujan angin besar, yang membuat daun pohon itu menyimpan air dan byur..membasahi meja itu, kita pindah aja yuk, sesekali aja kok”

“Hhh..oke”, Farhan menyerah dengan kepekaan Hana,  tidak heran, Hana berkerja di bagian yang sangat dekat dengan analisa lokasi kejadian.

“Kamu bisa ngga memerhatikan hal yang sepele?”

Farhan dan Hana duduk berhadapan di saung tersebut.

Hana menggeleng dan tersenyum, “Kalau aku kehilangan sense untuk memperhatikan sekitar, aku ngga boleh jadi detektif lagi”

“Ya jadilah ibu rumah tangga, aku mau kok kamu di rumah saja”

Hana tergelak, “Kamu udah sama aku tiga tahun loh, tahu kan seberapa besar cintanya aku sama pekerjaan ini?”

Tak lama mereka memesan makanan, pembicaraan mereka didominasi oleh Hana, yang sibuk menceritakan semua keadaan di restoran tersebut. Ikan gurame mereka yang terluka di bagian insang kanan, pelayan restoran yang tangan kirinya melepuh dan diolesi Bioplacenton, seorang perempuan yang sedang patah hati dilihat dari raut mukanya, dan sebagainya. Itu yang membuat Farhan nyaman, Farhan yang pendiam,dan Hana yang sangat aktif berbicara.

“Ngga semua ya ternyata kamu perhatiin”,Farhan terpaksa memotong pembicaraan Hana yang sedang mau bercerita tentang pesanan pelanggan ada yang terjatuh dilihat dari pecahan beling yang tidak tersapu sempurna.

“Hah, apa lagi emang?”, Hana merasa tidak terima sedikit, baginya, ketidaktelitian adalah kelemahan akan profesi dia. Bahkan Hana masih hafal merk kemeja yang dibeli Farhan, harga, lokasi pembelian, ukuran, dan beberapa kali Farhan fitting saat itu sebelum akhirnya membeli ini. Hana ingat semuanya.

“Ngga, kamu itu belum bisa jadi detektif yang baik”

Muka Hana panas, malu, kesal dengan ucapan Farhan yang tiba-tiba menjadi perhatian dengan satu hal, hal yang tidak diperhatikan Hana.

Farhan tersenyum sedikit, menunduk dan mengeluarkan sesuatu.

“Bisa-bisanya kamu ngga lihat ini,Hana”

Farhan mengeluarkan kotak cincin dan mengarahkan ke Hana, membuka kotaknya. Cincin indah terbenam mengkilau disana.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s