Ke(tidak)sempurnaan

Untuk #20HariNulisDuet dengan tema ‘Sempurna’ bersama @ohaiarti , ternyata cukup banyak yang menunggu isi cerpen ini karena isinya galau maksi. Oh ya, cerpen ini adalah sekuel dari duet gue sama Tobias, yang judulnya “Sebuah Celah“. Cusss… baca!

 

 

 

Siang itu di perkantoran Tangerang.

 

Alto sibuk membuka semua folder site surveynya, ‘masih banyak ya yang harus dikerjain ternyata’.

“Hhhh…”, Alto menghela nafas panjang, lelah dengan semua deadline yang ada. Empat jam lebih bergumul di dalam kubikalnya, Alto berjalan keluar. Ruko kecil 3 lantai terasa begitu sempit, tidak ada lift, harus menggunakan tangga. Alto tertatih menuruni tangga, terpincang, sesekali menahan sakit. Beberapa temannya menawarkan bantuan, Alto tersenyum dan menggeleng, ia bisa, dan ia tidak suka dikasihani.

 

Alto, lelaki rendah hati dengan segala keterbatasan pada kakinya, penyandang disabilitas, namun mempunyai otak yang cemerlang. Dalam scope pekerjaannya yang jauh dari design, Alto mempunyai selera dan pandangan yang bagus dalam hal design, bebas, tidak terpatok segala teori tentang bagaimana mendesign yang baik dan segala tetek-bengek literatur lainnya. Itu yang membuat Alto dengan mudah dekat dengan Kal, miss perfect yang selalu ingin segalanya sempurna, namun ia dengan mudah menerima ketidaksempurnaan Alto.

 

Lima belas menit menuju pukul tiga sore. Alto meniti tangga menuju teras depan kantornya, sambil membawa kopi yang baru saja dibuatnya. Sudah menjadi ritual bagi Alto untuk merokok dan ngopi setiap kali merasa jengah dengan pekerjaannya. Pasar Kemis seperti biasa, panas bukan main, batinnya. Tetapi pikirannya tidak seperti biasanya. Kalya. Matanya menerawang mencoba mengingat setiap detail yang terjadi tiga hari yang lalu. Bermimpi memeluk Kal pun Alto tidak berani. Tiba-tiba Kal mendekat, dan merengkuhnya, seperti tidak ingin melepaskan pelukannya. Aroma tubuh Kal, sisa wangi parfum di bajunya, rambut panjang terawatnya. Alto bergetar setiap kali mengingat dekapan yang hanya berlangsung tujuh detik.

 

Lalu apa maksud Kal dengan kata-katanya, ‘Kamu itu sempurna, dalam ketidaksempurnaan‘. Apa definisi sempurna untuknya? Apakah aku versi sempurna untuknya? Bagaimana bisa? Sempurna atas apa? Sempurna karena apa? Apa yang membuatku sempurna? Pernyataan Kal membuat jam tidur Alto berantakan, dihabiskannya dua pertiga malam untuk memikirkan pernyataan Kal itu.

 

Pertanyaan itu semakin menyiksa Alto. ‘Ah, lebih baik kutanyakan langsung saja’

 

‘Kal, jam 7, di tempat biasa.’  Singkat saja, namanya juga pesan singkat. Sent.

 

‘Okeeeeh!!!:) ‘,Kalya membalas,kilat. Bukan kebiasaan Kalya membalas pesan tidak penting-menurut Alto-secara cepat. Kalya terbiasa membalas semua chat,y!m,sms dan lain halnya dalam hitungan hari. Yah,hari,bukan jam malah. Alto memaklumi,bagi Kalya kehidupan kerjanya adalah prioritas utama.Alto? Walau sebagai sahabatnya, Alto tidak berani optimis bahwa ia ada di prioritas tinggi dari Kalya.

Jam 19:00 malam.
Kembali. Semua mata tertuju pada kekagumannya,bahkan lelaki yang sudah bersama seorang wanita di depannya menyempatkan matanya terpana selama lebih dari tiga detik. Ini bukan draft sinetron,tapi begitulah Kalya, auranya terlalu kuat untuk sekelilingnya, hanya dengan rambut panjang tergerai,wangi parfum yang wanginya menghipnotis,senyum tipisnya. Selesai. Tidak ada yang bisa mengacuhkan kehadirannya.
“Kamu kenapa ngga mau bareng aku?”,Kalya merengut,menaruh cluthnya,anggun, Alto berusaha fokus.
“Aku sama Pak Iman kok”, Alto menggunakan Pak Iman,sopirnya sebagai alasan. Ia jelas lebih memilih satu mobil dengan Kalya,siapa yang tidak mau? Namun rasa rendah diri harus seorang wanita yang mengendarai sedangkan Alto menjadi penumpang karena keterbatasannya, Alto jengah.
Kalya tersenyum, “oooh..”,lalu ia memperhatikan sesuatu,lalu membenarkannya.
“Kaaal,toh nanti kita akan makan itu”,Alto tertawa kecil,melihat Kalya merapikan susunan sendok yang kurang rapi,bagi Kalya.
“Aku ngga bisa lihat yang kurang sempurna di mata aku,walau hal kecil”
‘Loh?Kamu ngga liat aku,Kal? Kemeja modal beli di Senen,celana warna monoton,tas punggung biasa?Pake sepatu keds pula?Kenapa kamu ngga pernah kritik penampilanku?Barang sedikitpun?‘,pertanyaan Alto berhenti di dalam hatinya.
“Kecuali kamu”,Kalya melanjutkan kata-katanya,yang membuat Alto terkejut.

“Gimana?” Alto menanyakan lagi untuk memastikan dia tidak salah dengar.

Kalya tersenyum. “Begini Al, ada yang ingin aku sampaikan sebenarnya.”

“Mengenai?”, jidat Alto semakin mengerut.

“Kita.” Alto semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini berujung.

“Al, kamu membuat aku melihat hidup ini lebih luas ketika orang lain hanya melihat hidup ini sebatas materi, kamu melihat aku sebagai perempuan biasa ketika orang lain menilai aku seorang perawan angkuh yang bossy, kamu mengajari aku tentang kesederhanaan ketika orang lain sibuk mencari kemewahan.”

Pramusaji membuyarkan konsentrasi Alto. Dihidangkannya lassagna diarra dan spaghetti squash, yang masih hangat dan siap santap. 

“Selamat menikmati.”, ujar sang pramusaji ramah.

Malam itu selera Alto tidak tergugah sedikitpun oleh hidangan favorit di restoran favorit, bersama orang favorit di hadapannya. Apa maksudnya dengan ‘kita’? Alto menelan masih mencoba menerka ke arah mana Kalya akan membawa percakapan ini.

“Al, ko ngelamun?”, tanya Kalya heran.

“Oh, gak apa-apa. Ayo kita makan dulu.”

Satu jam mereka habiskan untuk menyantap makanan masing-masing diselingi basa-basi, tanpa ada satu pun yang menyinggung percakapan awal Kalya, mereka tertawa renyah, membahas kerjaan masing-masing, menanyakan kabar orang tua, sampai akhirnya percakapan mereka surut.

“Aku suka kamu, Al.”, kata Kalya secara tiba-tiba.

Hati Alto mencelos begitu mendengar pernyataan terakhir Kalya. Ini yang Alto takuti dari dulu. Gaya hidup Kalya,  penghasilannya yang jauh lebih besar, gelar pendidikannya sudah lebih banyak berentet di belakang namanya. Alto memang sayang Kalya, tapi tidak untuk dijadikan lebih dari saudara.Lebih tepatnya lagi,  Alto membatasi dirinya untuk tidak berharap lebih.

“Tapi, apa maksudmu dengan ‘kamu itu sempurna, dalam ketidaksempurnaan’ yang kamu ucapkan kemarin? Aku jauh dari sempurna, Kal.”, tanya Alto yang bersusah payah terlihat tenang.

“Alto, nobody’s perfect until you fall in love with them. And I fall for you.”

Alto tersenyum, tangannya sibuk memainkan garpunya membentuk guratan kasar dari saus pasta di piringnya. Jawabannya cukup jelas, fikirannya cukup jernih untuk menjawab pertanyaan ini. Alto tahu, akan ada yang memulai hal ini, baik Alto maupun Kalya. Nyatanya Kalya yang sudah melangkah duluan, menyatakan perasaannya.

Alto menatap mata Kalya tegas, ia tahu semua kesempurnaan yang Kalya anggap ada di dirinya akan meredup kalau ia tidak berani melihat lawan bicaranya. Bukan gentleman, itu yang akan Kalya katakan kalau Alto hanya melempar pandang ke arah lain pada saat Kalya butuh jawaban. Alto menahan nafasnya, siap menjawab.

“Maaf Kal, kamu terlalu sempurna untuk aku.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 Comments Add yours

  1. ichyfitri says:

    whuwaaaaaaaaaaa…..
    jleb!

    *reaksi terakhir pas abis baca* :p

    1. salahin temen gue, salaaahin chy, padahal gue maunya hepi ending!!!nyahahahah

      1. ichyfitri says:

        hahahahahaha….
        tapi kan hidup ga selalu happy ending :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s