Membenci, Namun Kau Tetap Menghilang

#20HariNulisDuet galau-kece dengan @PsychoPisko dengan tema “Hujan” dan tema tambahan “Galau”, enjoy

 

Apa yang kamu tahu tentang hujan? Air?Dari langit?Basah?

Kamu tahu semua tentang hujan, tapi apa yang kamu pikirkan tentang hujan? Dingin, melankolis, hangat, akrab?

Bagiku, hujan selalu mempunyai banyak cerita di baliknya. Dari saat aku melihat Cumulonimbus mulai menggantung berat di atas langit, sekelibat petir yang membuatku memejamkan mata sesaat, dan hujan pun turun, dan aku lalu mengenang. Sendiri.

Kalau kamu pernah melihat punggung seseorang yang kamu cintai menjauhimu, harusnya ia mendekat, melangkah ke dirimu, yang sudah menyambut dengan senyum, dengan harapan, dengan pelukan hangat. Lalu yang kamu alami hal yang sebaliknya, ia yang menjauhimu, berjalan pelan,  tanpa menoleh sedikit pun, kala hujan.

Maka bayangkanlah betapa aku membenci hujan, selalu

***

 

Memang kalau diingat baik2 dulu tak pernah sedikitpun membenci hujan, bahkan ketika masa itu aku slalu ingat kita sering berlarian hujan-hujanan di depan rumah kita. Fun…it was so much fun.

 

Bahkan hujan sering menyatukan kita dibawah lingkaran kecil berdiameter 1 meter tiap kita pulang sekolah hujan-hujanan. Dan kau tak pernah sedikitpun mengeluh menunggu kelasku bubar walau air sudah mulai merembes dibalik seragam putih mu itu.

 

Aku selalu ingat bahwa dibawah hujan itulah pertama kali aku merasakan bagaimana rasanya dicium seseorang, seseorang yang selalu kuinginkan untuk menciumku.

 

It was a long time ago….long time ago…

 

****

“Kamu ngga takut sakit?”, kamu berhenti setelah kita sibuk berlarian menadah hujan. Kita tahu, ini bukan hujan  biasa, karena ini bukan Jakarta, hujan dan angin. Kita di sini, dataran tinggi, our sweet escape, menyegarkan pikiran kita yang suntuk oleh rutinitas.

Aku menggeleng, “Ngga akan pernah takut sakit kalau sama kamu”

Rambutmu yang basah oleh siraman hujan, bajumu yang kuyup, tidak ada apapun yang bisa menurunkan rona cantikmu, bahkan air hujan.

“Ya udah, kita neduh aja, kasihan kamu”, kamu menggandeng tanganku, berlarian.

Asma, yah..aku mempunyai penyakit asma yang cukup berat, yang selalu menjadi kekhawatiran terbesarmu. Ya, tapi kamu selalu ada di sini, selalu peduli dengan semua kesehatanku, tanpa melihat kesehatanmu.

Kita disini, gazebo pandang yang sepi. Iya, di hari kerja kita malah mengambil cuti dan melarikan diri dari beban pekerjaan. Kita berdua, disini.

“Kamu bener..ngga sakit?”, kamu melihatku, khawatir. Kita tidak mampu mengeringkan diri, tidak membawa apa-apa, hanya kita dan tas kecil yang isinya bukan apa-apa.

“Asal kamu tidak pernah meninggalkan aku”, mataku terhipnotis oleh pemandangan di depanku, kabut yang berputar ditiup angin hujan, pepohonan yang berjuang keras melawan angin, dan pemandangan gunung Malangyang di depannya, indah, tidak berhenti aku berucap syukur dalam batinku. Atas pemandangan ini, atas hadirnya kamu di sisiku.

“Tidak akan pernah”, kamu memposisikan badanmu menghadapku, tersenyum. Ketika ciuman halus di kening lebih bermakna dari apapun, dan kamu mencium keningku, lama. Tidak ada yang lebih berharga dari waktu itu.

Itu dulu

***

 

“kenapa harus kamu yang pergi duluan sih? Kamu janji kamu bakal temenin aku tiap kali asmaku kambuh. Kamu janji bakal terus mayungin aku. Kamu janji mau terus menikmati hujan sama aku. Tapi kenapa kamu pergi tinggalin aku?”. Kamu hanya terdiam kaku dalam senyumanmu dibalik selimut putih itu.

 

Selama ini kamu tidak pernah membiarkanku tahu bahwa penyakit asma ku ini bukan apa-apa dibanding kanker yang menggerogoti paru-parumu. Kamu memang benar-benar hebat menyimpan rasa sakitmu dan membohongiku dengan berkata “Kamu baik-baik saja?”. Padahal seharusnya aku yang bertanya.

 

Kamu bahkan bukan seorang perokok, lantas dari mana kamu dapatkan penyakit itu? Apakah karena hujan ya selama ini kita nikmati bersama? Ataukah dari dingin dan lembabnya hujan? Apakah menyakitmu keturunan? Aku tetap tak bisa berhenti menyalahkan setiap tetes hujan yang pernah kita nikmati bersama.

 

Aku benci hujan…selalu mengingatkanku pada kamu…kamu yang pergi dan tak akan kembali…

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s