Sang Minoritas

#20HariNulisDuet dengan tema “Bhinneka Tunggal Ika” bersama @idur , walau agak susah tapi semuanya cukup lancar. Sila Baca ah

 

Kita sama, dalam perbedaan.
Yah, kita masih di Negara ini, di satu tanah yang sama, selama puluhan tahun disini.
Apa aku salah kalau aku menganggapmu satu?Sama denganku? Walau sebenarnya kamu berbeda, kamu belum lama ada disini, kamu ada disini karena aku.
‘Cinta yang membawaku kesini’, katamu, dulu.

Plek.
Aku menutup layar laptop yang sudah 14 jam lebih menyala, bekerja keras menyelesaikan seluruh laporanku. Mataku melirik ujung kanan layar sebelum tega mematikannya, menyuruh laptop ini beristirahat, jam 3 pagi. Aku meregangkan badanku lagi, sampai semua bunyi krak di seluruh punggungku dan leher.
Insomnia bagaikan teman sejalurku saat ini, menemani setia, walau sindrom itu murni hanyalah simbiosis parasitisme. Hei, aku tidak bisa tidur, iya, apalagi dengan asupan bergelas-gelas kafein, tapi otakku berontak, berusaha sekeras mungkin menyuruh badan ini beristirahat.
Kamu disana, sedang menikmati makan malammu, kapan bertandang lagi kesini?Menikmati ke-Bhinneka-an kita?

Sial! kenapa masih belum nutup juga nih mata!

don’t sleep away this night my baby please stay with me at least till dawn’  seperti biasanya sambil menunggu mata ini terpejam secara alami, lirik ini selalu menjadi dialog rutin dan favorit aku dengan gitarku.

Kampus, Rabu pagi

Mata ini masih terasa berat karena keengganan mataku untuk menutup beberapa jam lalu, ditambah, sang kafein yang setia menemani, huhh, harusnya ku sudahi sedari dulu kebiasaan ini, tapi apa boleh buat old habits die hard.

Mataku tertuju pada gazebo didepan kantin, ‘sepertinya memulai kenyamanan dengan mata yang berat ini akan sangat cocok disana’ pikirku. Masih jam 8 pagi, kulihat para mahasiswa dan mahasiswi baru berlalu lalang dengan repotnya membawa setumpuk laporan dan catatan kuliah, belum lagi diktat-diktat. ‘dasar mahasiswa baru, emangnya ini SMA semuanya harus dibawa’ protesku dalam hati. Tidak berhenti disitu, sepertinya hatiku masih terus protes aja melihat cara mereka berdandan, berpakaian dan bergaya hampir seragam serupa dan ikut-ikutan , ‘ini mau pada ke mall apa kuliah seh’, tapi untungnya hati ini juga yang memberhentikan semuanya. sepertinya sedang PMS, jadi semuanya aku nilai dan komentari.

Aku kadang berpikir keras tentang mengapa orang lebih memilih untuk menjadi sama dengan orang lain sementara menjadi berbeda adalah hal yang sulit dan ditentang banyak orang. Berbeda itu adalah cinta dan sekaligus benci, atau sepertinya mungkin salah, lawan kata cinta itu apa yah?benci sepertinya kurang tepat, tidak cinta belum tentu benci kan ? ah, biarlah toh tidak ada bedanya bagi kebanyakan orang, buktinya kebanyakan temen yang nembak cewek pasti bilang ‘aku cinta kamu’, ntar kalo ketauan dia selingkuh pasti bilangnya ‘aku benci kamu’

“woiiii, nahhh lagi bengong apaan loh??laporannya udah belom?”

“eh kamu Ber, udahlah, gak liat neh mataku” sambil menarik kelopak mataku .. “kamu udah belum?”

“belum, hahaha….kan masih besok deadlinenya!” katanya sambil merebahkan badannya disampingku.

“Yeh, kamu tuh ..kata pepatah jangan kerjakan besok apa yang bisa kau kerjakan sekarang” ungkapku sambil menunjuk-nunjuk pipinya

“sorry, itu pepatah kuno .. kalo gw neh jangan kerjakan besok apa yang bisa kau kerjakan lusa, hahaha” tawanya makin menggelegar, walau aku tidak suka dengan apa yang dia katakan, tetapi kelakarnya selalu saja bisa membuatku tersenyum. Ya, si Gober memang salah satu temanku yang ‘beda’, ngeyel, pandai berkelakar, ceplas-ceplos. Nama aslinya Alvin Bong, Yap dia keturunan Tiong Hoa, Ayahnya asli dari Tanjung Pinang, salah satu daerah di Pulau Bintan. Aku juga udah lupa kenapa dia disebut Gober, yang pasti dari sejak ospek hingga sekarang, semester delapan kami cukup sering bersama, walaupun sekarang sudah agak disibukkan dengan rencana skripsi masing-masing ditambah dia sibuk ngurusin usaha fotokopian didepan kampus.

“cuy gw cabut dulu yah .. mau ke pak Darsono dulu, pendekatan dulu buat skripsi ..” pamit Gober sambil terus cengar-cengir gak jelas.

“sipp.. semoga sukses yah broww”

Jujur aja, sebelum kenal Gober, aku menganggap semua orang keturunan Tiong Hoa kayak dia tuh pasti belagu deh, sok sok kaya, dan gak mau bergaul sama orang pribumi. Aku kurang faham juga apakah si Gober yang beda dari orang cina kebanyakan atau memang kita sendiri yang salah persepsi. Ah mungkin, ini hanya mungkin, Bhinneka Tunggal Ika itu hanya doktrin nasionalisme saja, sebuah verbalisasi idealisme agar terlihat lebih artistik dan heroik dalam sebuah teks-teks kenegaraan, sehingga romantisme Indonesia sebagai Negara Kesatuan ini tetap bisa terjaga.

***
Malam
‘Lagi dimana?’, Gober mengirimkan BBM ke aku malam itu
‘Kosan?Kenapa?’
‘Aku udah ada di depan. Bisa ke depan?’
‘Siap!!’

Aku menuruni tangga dengan semangat. Gober, yang tidak malu akan sisi dari dirinya sebagai kaum minoritas, masih bisa tersenyum ketika semua berkomentar akan matanya, perutnya yang tambun, bahkan nama keluarganya. Gober. Apa adanya. Tidak perlu berpura-pura mencari muka menjilat ludah siapapun agar bisa diterima. Bagi yang konservatif, semua melihat Gober sebagai ancaman. Bagi yang terbuka, Bhinneka Tunggal Ika secara literasi, mereka akan menjadi pasukan terdepan yang membela Gober bila ia mengalami pelecehan SARA. Aku, contohnya.
“Kenapa mukanya lemes banget?”
Gober menyodorkan proposal seminarnya. Aku sudah siap dengan proposal, dan siap menghadapi skripsi sekuat apapun. Tanpa pertanyaan yang berarti dari membimbingku, persetujuan begitu lancar.
“Makna Bhinneka Tunggal Ika dari Sisi Kaum Pendatang”, aku membaca semuanya. Sangat bagus, aku kagum dengannya, judulnya sangat menarik.
“Ditolak oleh Pak Darsono”, Gober menghela nafas panjang, suaranya memendam, tapi pilu.
“Kok bisa?”, aku kaget, please jangan karena alasan itu,batinku.
Gober terdiam, lama. Lalu saat mulai kuat,dirinya siap bercerita.
“Kata beliau, judul bagus, sempurna. Lokasi pengamatan sangat tepat, semuanya sempurna”
“Ya?Tapi..”, aku akan selalu tahu, di setiap pujian dan nilai positif, hal yang jelek akan disebut belakangan.
“Aku ingat kata dia, satu. ‘Sayangnya, kamu bukan orang Indonesia asli. Judul ini tepat untuk manusia pribumi asli, bukan pendatang seperti kamu’”, Gober mengucapkan dengan berat, kemudian tersenyum

“Tenang, gua masih banyak Stok judul skripsi, lo mo mesen satu sekalian gak … hahahaha”

2 Comments Add yours

  1. idur says:

    berhasil mengacaukan cerpennya ray …. 🙂

    1. iya, berhasil kok, berhasil sekali!hahaha
      kok kirim imel ngga bisa ya ke jimelnya mas idur, balik lagi ke ray loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s