Cinta Itu Menyembuhkan

 Jangan terpatok dengan probabilitas dan logika

Aku menatap lagi wajah itu.

Nit..nit..nit..

Bunyi elektrokardiogram yang perlahan stabil, berdetak pelan, tidak memburu. Aku selalu ingat hari itu, ketika sebuah doa harus lebih keras dari biasanya, di saat keputusasaan menyelubungi harapan.

***

“Ngga ada lagi jalan yang bisa ditempuh?”, aku memburu dokter Aufar, yang sudah berada di titik finalnya. Dokter Aufar hanya bisa melihatku, aku  benci tatapan simpati seperti itu.

“Saya yakin ada,Dok”

Dokter Aufar terdiam, berfikir, matanya mengarah ke bawah, seakan berbicara dengan dirinya sendiri.

“Ada”

“Lalu beritahu saya segera”

“Mari ke ruangan saya”, dan kami  berjalan sejajar menuju ruangan tersebut, ruangan tempat aku mendapatkan semua obat yang Ayah butuhkan, obat yang selama ini selalu diberikan di titik akhir perjuangan sang pasien, dan keraguan sang kerabat, aku mendapatkan semuanya.

***

Piroxycanitrilopregna ?”, aku memasukkan obat itu perlahan ke mulutmu

“Apa itu? Saya dengar tidak ada obat itu”, sudah ditelannya obat itu, namun muncul pertanyaan itu, aku tahu, pertanyaan ini tidak bisa disangkal dengan janji ala tukang obat ‘semua pasti sembuh’, tapi harus dijelaskan secara ilmiah, detail.

Aku melihat Safa dan Dika, yang sedang asik berusaha mengajak bermain Ayah, bertukar cerita, Ayah mendengarkan seksama, walau masih lemas. Sudah sebulan pasca masa kritis Ayah, aku mengajak mereka membesuk kakeknya sendiri.

” Gugus piroxy dan nitrilo, berkerjasama membuka sumbatan di jantung Ayah, pregna, biasa ditemui di fosil minyak bumi, membantu mengeluarkan kolesterol Ayah. Ayah percaya sama Nika, Ayah akan sembuh”, aku menggenggam tangan Ayah,erat.

Dalam lemahnya keadaan Ayah, beliau masih memberondongku dengan sejumlah pertanyaan. Yah, bukan Ayah namanya jika tidak kritis bertanya, sebagai dosen sains, aku mewarisi darahnya, kritis. Tidak  bisa menerima jawaban yang singkat atau bias, semua harus jelas. Kita sama. Tidak percaya kebetulan, peruntungan, adan  hal lain sebagainya. Aku meyakinkan Ayah kalau obat baru dari dokter Aufar sudah teruji dan banyak pasiennya sembuh, diiringi bujukan manja Safa, Dika dan suamiku, Rifa, kita berjuang menyembuhkan Ayah, dengan Piroxycanitrilopregna ini, dengan doa, dengan cinta kami.

Sampai akhirnya, Ayah boleh pulang ke rumah, walau kesehatannya harus selalu dipantau. Kami selalu memberondonginya dengan senyuman, semangat, dan cinta, tentu saja.

***

Ada hal yang bisa kita  kaitkan dengan logika, banyak hal

Sampai lupa dengan namanya mukjizat dan sugesti positif

Aku? Kapan pernah percaya dengan hal buram seperti itu? Yang tidak  bisa dijelaskan dengan logika dan rumus

Aku dan Rifa, harus berjuang keras memunculkan energi positif itu, untuk bisa membantu menyembuhkan ayah

Safa dan Dika? Tidak perlu. Mereka selalu tulus dengan senyum anak kecilnya, celoteh lugunya.

Sampai ada hal yang Rifa tanya ke aku

Piroxycanitrilopregna itu obat darimana?”

“Anggap saja obat itu tidak ada,Fa”

Rifa menatapku heran, “maksudnya?”

“Cinta itu menyembuhkan, karena kita, Ayah bisa sembuh”

“Lalu, Piroxycanitrilopregna itu?”

Aku tersenyum, mendaratkan kecupan lembut di bibirnya

“Itu hanya placebo*, Sayang”

* placebo = istilah medis untuk terapi baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Placebo bukanlah obat palsu, tetapi obat atau tindakan medis yang “dipalsukan” oleh dokter yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek placebo menunjukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika, efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.

8 Comments Add yours

  1. windi teguh says:

    Mantalebo, jadi nambah pengetahuan nih 🙂

  2. Bagus ini….
    Masukin sedikit unsur kedokteran, jadi tulisannya kaya…

  3. unye28 says:

    nulisnya ekspres tapi tetep kece. 🙂

  4. mba windi, mas benny, mba unye. Hayuk ah, geng #FFHore ditunggu juga Cintanya, aku mau blogwalking-an juga ^^

  5. kayaknya patutu dicoba itu istilah placebo..
    buat mama yg sakit2an..
    heheheheheh..
    FF cerdas.. 🙂

    1. wah,mamanya lagi sakit mbak?
      semoga lekas sembuh ya, semoga energi positif dari orang2 yang mencintainya membuat beliau lebih kuat berjuang melawan sakitnya. :’) terima kasih ya udah datang

  6. plut0saurus says:

    Baguuussss. Selalu suka dengan cerita fiksi yang kalau dibaca ada tambahan ilmu 🙂 keren.

    1. terima kasih juga ya mbak udah kunjung 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s