Not a Coincidence

“Biru lagi?”, Anila mengernyitkan dahi melihat apa yang Ahmar pakai hari ini.

“Iya, beda model tapi”, Ahmar melihat Anila mengenakan dress warna biru juga. Lagi-lagi sama.

“Ya..aku tahu. Ini kan aku yang beliin. Haha”, tawa Anila lepas. Lagi, entah untuk keberapa kalinya, baju yang mereka kenakan selalu sama. Putih, hanya ada satu warna putih, tapi ada warna broken white, snow white, itu bisa membedakan kalau warna baju mereka sebenarnya berbeda. Tapi warna yang mereka kenakan selalu sama persis, putihnya seputih apa, ungunya seungu apa, birunya sebiru apa. Tidak heran, kalau di kantor mereka selalu sukses menjadi bahan ledekan teman-teman kantornya. Apalagi kubikal mereka yang bersebelahan, yang berbeda hanyalah Anila adalah staf kreatif dan Ahmar adalah sering bekerja di lapangan.

Seiring warna pakaian yang selalu muncul serasi, segala kebetulan itu menjadi lumrah, dan hati mereka pun mulai terbiasa. Anila dan Ahmar sudah bersama kala itu.

“Kamu ke lapangan lagi?”, Anila masih sibuk mengetik semua data-data yang belum sempat dikerjakan selama lima hari ini, cuti panjang yang diambilnya membuat semua pekerjaan keteteran, untuk lima hari itu, mereka absen berpakaian dengan warna yang sama, sampai akhirnya hari ini, mereka mengenakan pakaian dengan warna yang sama lagi, tanpa janjian.

“Iya”, jawab Ahmar singkat, yang sibuk membawa peralatannya ke site apartemen yang belum di rekonstruksi.

“Ah kamu mah..”, Anila merengut, dalam hatinya masih kangen, lima hari tidak bertemu membuatnya untuk hari ini Ahmar bisa meluangkan waktunya untuk makan siang saja dengan dirinya.

Ahmar mendatangi meja Anila yang tidak jauh dari dirinya, ia duduk menghadap Anila dengan sandaran kursi di bagian depan, Ahmar menumpu pada senderan kursi tersebut, melihat gadisnya yang mulai merengut.

“Hayoooh ngambeg…”, Ahmar menyeringai usil.

“Ngga”

“Terus apa?”

“Ngga apa-apa”

“Ngelihat aku aja ngga sama sekali, hei..ini kerjaan, bukan jalan-jalan kayak kamu kemarin”

Anila sibuk mengetik. Tak tuk tak tuk, acuh tak acuh, namun wangi parfum Ahmar yang ia rindukan menyeruak ke seluruh area kubikalnya, sehingga ia tidak mampu jual mahal mendiamkan Ahmar.

“Aku kan juga kerja disana”

“Kerja apa?”

“Urusan keluarga kan? Jadi pager ayu, kan kerja”

“Idih..beda”

“Biarin”

“Sampe lima hari, lama banget, kan..kangen..”, satu kata terakhir yang tertahan di bibir  Ahmar membuat Anila terkikik sendiri, ‘sama pacarnya aja masih gengsian loh

“Ya udah, kamu berangkat dulu sana. Sampai jam berapa?”

Ahmar melihat jam tangannya, “jam tujuh kayaknya”

“Oke, kita bisa makan malam kalau begitu ya”

“Oke”, Ahmar menyegerakan dirinya untuk berangkat, namun langkahnya tertahan, seperti ada sesuatu yang lupa dikatakan kepada Anila.

“Se..bentar”, Ahmar mundur lalu t erduduk lagi, kali ini, dengan posisi duduk yang normal.

“Kenapa lagi ,Ahmar Anargya?”, Anila berhenti menyelesaikan pekerjaannya, memegang tangan Ahmar, mengamati seksama.

Ahmar menggaruk kepalanya yang Anila yakin tidak gatal, gelisah, itu asumsi pertama Anila.

“Kalau suatu hal sudah menjadi biasa, terus tiba-tiba hal yang biasa itu hilang, untuk sementara waktu, atau…malah selamanya gimana?”

“Hem..contohnya?”, Anila menarik diri mendekati Ahmar

“Ya..misalnya simpel aja, kita pakaiannya sama kan ngga Cuma sekali-dua kali, dari sebelum pacaran juga udah sering sama walau ngga janjian”

“Lalu?”

“Terus tiba-tiba kita ngga pernah sama lagi warna pakaiannya?”

Anila bingung, “loh, kita juga pas gini ngga tiap hari, kan? Tapi ada aja waktunya tiba-tiba kita bisa pas aja warnanya.”

“Iya sih..”, komentar Ahmar, menggantung

“Terus?”

“Aneh ngga tiba-tiba nanti kita ngga ditakdirkan lagi bertemu dengan warna pakaian yang sama?”

“Ngga,biasa aja”, jawab Anila, cuek, namun ada rasa khawatir juga, mereka yang sudah terbiasa tertawa bersama karena bisa berpakaian dengan warna yang sama, tiba-tiba menjadi canggung karena selama beberapa lama warna pakaian mereka tidak pernah sama lagi. Itu akan jadi aneh, pikir Anila.

“Iya sih, bener juga. Sugesti kali ya?”

“Iya,Sayang. Sugesti. Kita udah terbiasa sama suatu yang sebenarnya kebetulan itu. Jadi pas nanti yah..ada saatnya kita ngga pernah kayak gini lagi, ya..jadi canggung aja, sementara. Lama-lama juga biasa”

“Ngga salah deeeh aku milihnya Anila Tavisha ya buat jadi pacar aku”

Anila terdiam, tapi pipinya yang bersemu yang mewakili, malu akan pujian sederhana dari Ahmar.

“Kamu tahu ngga kenapa aku memilih kamu?”, kepala Ahmar lagi-lagi menyembul dari luar

“Iya, tauuuu.,. Anila Tavisha, artinya Angin Surga”, jawab Anila dengan enggan, sudah sering Ahmar bertanya hal itu, dengan alasan karena arti nama Anila yang indah, Ahmar memilih Anila.

Angin Surga, mungkin memang itu harapan Ahmar, Anila menjadi angin surga bagi Ahmar, kelak.

 

***

‘Benar kata kamu, Ahmar. Terbiasa sama dan bersama memang tidak selalu menyenangkan jadinya. Yah..sekali dua kali tidak sama ya ngga apa-apa, tapi hari ini aku mengalami yang pernah menjadi perbincangan kita kala itu. Canggung, tidak terbiasa bila berbeda. Yah..sekarang kita berbeda, dan aku berada di titik ini. Titik dimana aku tidak bisa bertahan dengan pemikiran positifku, kalau..ditakdirkan bertemu dengan warna pakaian yang berbeda aku bisa cuek aja. Aku ternyata ngga bisa yah, Ahmar. Ternyata itu bisa jadi pukulan keras buat aku, sangat keras. Maaf kalau aku pernah bohong, aku cuma ngga mau kamu cemas’

 

Malam itu, Ahmar dan Anila betemu, tidak ada acara makan malam yang sudah dijanjikan tadi siang. Tidak ada lagi kebetulan yang menyenangkan. Anila, memakai pakaian berwarna hitam, menangis pilu dalam diamnya. Ahmar, dengan kain putihnya, berbaring kaku di depan Anila.

 

4 Comments Add yours

  1. maksudnya ditinggal mati? *lagi lemot*

    1. @mba vika, hayo tebaaaak *ngga solutif*,hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s