Semangkuk Baso Tahu

Challenge ke..berapa ini ya? Haha..lupa!! Dari #FFHore Horean. Enjoy!!

 

“Bang, masak lagi yuk”, sore itu Amira mengajak Majid memasak sendiri makan malam mereka. Lagi, Umi dan Abi sedang asik berbulan madu kedua tahun ini, tinggallah mereka berdua dengan Mbok.

“Apa sekarang?”, Majid melongok bahan-bahan yang sudah disediakan Amira dari siang, salah Majid sendiri, yang susah bangun pagi, sehingga Amira membeli bahan-bahannya sendiri bersama Mbok.

“Baso Tahu deh ya?”, Amira menata bahan – bahan basotahunya dengan rapih. Telur, telur puyuh, garam, merica, tentunya tanpa vetsin, tahu putih besar, udang dan tepung sagu.

Majid, sebagai lelaki dewasa, menikmati setiap luangnya dengan adiknya, dengan keluarganya, sejak hari itu. Hari di mana ia menjalani hukuman selama 3 bulan di tahanan. Kasus kurir senapan api ilegal. Umi, Abi, Amira rutin mengunjungi Majid, saat itu Majid sadar, ada orang-orang yang mencintainya lebih dari apapun.

Majid selalu menikmati memasak bersama adik satu-satunya, di sela waktu tersebut adalah waktu mereka berbagi cerita, kadang sampai hati ke hati.

***

Majid sibuk mencampur tahu dengan udang, sagu dan bahan- bahan lainnya. Sesekali tangannya dipukul oleh Amira karena tangannya suka tidak dibersihkan dahulu setelah menggaruk salah satu bagian tubuh Majid.

“Cuci tangan dulu, Bang!”, omel Amira

“Kan yang makan kita-kita aja”, cuek Majid

“Ngga, aku ngga mau makan kalau ngga bersih gitu bikinnya”

“Basodi pinggir sekolah kamu juga lebih jorok bikinnya,De. Tuh ada celana dalem di tiap pancinya tau”, Majid mencuci tangannya.

Majid tahu, ada yang tidak beres dengan Amira. Senyumnya dari bibir Amira yang tipis terkesan dipaksakan. Dan begitulah Amira, memasak adalah cara pengalihan dari masalah terburuknya. Bukan lagi Majid yang acuh tak acuh terhadap keluarga yang mencintainya, ia harus lebih peka dibanding dirinya beberapa bulan yang lalu.

***

“De, gimana sekolah kamu?”, Majid membuka percakapan

“Jangan sekolah dong, bosen”, Amira mulai sibuk meracih kuah basonya. Majid bersender di tembok dapur, tapi matanya tidak bisa berhenti memperhatikan ekspresi adiknya dari kaca dapur.

“Hem..apa nih? Oh ya, cowok deh..cowok..”

Amira yang sedang meletakkan adonan baso tahu di dalam kukusan terhenti, lalu melanjutkan dengan hati-hati.

“Aku sudah putus sama Edgar..”, Amira salah tingkah, membetulkan kunciran rambutnya dengan kikuk.

Majid maju membantu Amira meletakkan adonan baso tahu tersebut. Waktu seakan berputar cepat di sela waktu memasak mereka. Sebentar lagi semangkuk besar baso tahu akan siap menjadi teman makan malam mereka.

“Bang, aku membuat kesalahan!!”, Amira berbalik, sudah mata derai air mata saat itu. Majid sadar, emosi itu sudah tertahan sejak lama, ia tidak pernah sepeka ini sebagai kakak, kecuali hari ini.

Majid terdiam, tidak bertanya, ia tahu, tidak lama dari situ Amira akan mengatakan semuanya.

Amira menyenderkan punggungnya di tembok dapur, gadis kecil berusia empat belas tahun itu terlihat terpukul.

Majid berjongkok, menyejajarkan matanya dengan mata adiknya.

“Kamu kenapa, De?”

“Aku malu, Bang”, Amira mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan melihat mata Majid, malu dan sedih berkecamuk di dalam matanya, tidak bisa dihindari.

“Kenapa kamu malu?”

“Aku malu sama diri aku sendiri, Bang”

Majid mengusap kepala Amira pelan, meyakinkan secara fisik kalau semua akan baik-baik saja. Ada banyak hal yang kadang kita sebagai anak tidak mungkin mengatakan ke orangtua duluan, Majid pun begitu terhadap Amira. Amira yang tahu dari Majid kalau ia adalah kurir senjata api di pesisir Pantura, bukan melanjutkan pendidikannya saat itu. Tapi Amira, tidak berkurang rasa cintanya sedikit pun ke abangnya, tidak sama sekali.

“Kamu ngga perlu malu, De. Ada apa?”

***

Malam itu, Majid tahu semuanya. Kehormatan Amira direnggut oleh Edgar, bukan keinginan Amira, tetapi Amira yang dibuat tidak sadarkan diri siang itu. Dan semuanya terjadi, hingga Amira tidak tahu harus mengatakan kepada siapa.

Majid menuntun Amira ke ruang makan, ada ekspresi lega dari wajah Amira malam itu, semua beban yang ditahan berhasil ditangguhkan oleh kasih sayang seorang kakak. Majid kembali ke dapur, menyelesaikan masakannya.

Semangkuk baso tahu malam itu, menjadi saksi atas keberanian Amira mengakui segalanya, hal  yang tidak bisa dikatakan pertama kali kepada orang tuanya. Majid mengeluarkan ponselnya. Walau ia sudah keluar dan tidak kembali ke pekerjaan yang menjebloskan dirinya ke penjara, tetapi jaringan komplotan yang terbentuk sudah terjalin kuat. Majid berjanji untuk tidak kembali, tetapi setelah malam ini.

“ Jo, mau baso tahu pake daging manusia sama kuah darah ngga?”, suara di seberang sana terdengar begitu antusias, Majid menghela nafas saat orang tersebut menanyakan nama.

“Edgar”

 

 

FIN

13 Comments Add yours

  1. unye28 says:

    waaaaaaa.. kacau! serem!
    tp lebih serem lg klo d’awal ga d’bilang dlu klo genrenya thriller pdahal.. biar mkin kaget! hihihi.. lepas dr itu sih BAGUS! 😉

    1. Oh yaaa, bener banget!!!! >_<
      Baiklah, langsung saya edit. Terima kasih ya 🙂

  2. baguusss ^^ *dan setelah ini aku parno makan tahu bakso, curiga daging manusia hihiiyyy.

    1. @mbak dian, aku malah curiga sama celana dalem yang ada di pancinya, lebih nakutin, hihi. aku kesusahan komen d blognya mbak loh 😦
      @mas muiz, terima kasih ya sudah kunjung juga 🙂

  3. butirbutirhujan says:

    Mulanya biasa-biasa saja. Semakin dibaca, semakin menarik. Apalagi endingnya, serem banget. Keren dah. 🙂

  4. Si ray ini harus didemo para tukang bakso karena sudah membuat orang pada ngeri makan bakso…
    hehehehe…

    1. @benny, karena apa? daging manusia atau celana dalem di panci?hahahha
      @belindch, wah kok malah seneng?!?! :O
      @sweetdonath, terima kasih ya udah kunjung 🙂

  5. belindch says:

    haseeeek… akan ada yang mati malam ini!!!
    *tsaaaah.. kok gue yang serem yak.. hihihi.. 😛

  6. sweetdonath says:

    keren..!
    mantep 😀

    1. hehe..terima kasih sudah baca 🙂

    1. Gue banget? Suka bakso daging manusia? :O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s