Selamat Ulang Tahun, Kamu

 

 

Tahun Pertama

” Selamat Ulang Tahun “, Devia meniupkan lilin di atas satu cupcake lucu di depan Hilal. Lelaki tegap dengan rahang yang keras namun mempesona tersebut ikut tersenyum. Aku hanya mlihat kelakuan mereka dari jauh, tapi apa yang Devia katakan sesuai rencana, tidak terjadi kegagapan atau keteledoran Devia karena rasa groginya.

Hilal menerima cupcake dan kadonya dengan hormat. Ada beberapa kalimat yang Hilal ucapkan dan Devia hanya mengangguk, sambil mempertahankan senyumnya. Sekembalinya dari sana, Devia menuju tempatku, melompat kegirangan.

“Ashaaaa!!!”, peluk Devia erat, aku tahu ini bukan tanda kalau mereka resmi jadian hari itu. Gadis SMA mana yang tidak histeris melihat gebetannya sendiri, aku pernah merasakannya, dan Devia sedang mengalaminya. Aku tahu persis rasanya.

***

Tahun kedua

“Selamat Ulang Tahun, Kamu”, Devia meniupkan lilinnya, ada satu lilin tambahan disana yang menandakan usia Hilal yang bertambah, kali ini senyumnya saja yang tersungging di bibirnya, senyum tipisnya. Dan menerima hadiah dari Devia sambil tetap mempertahankan senyumnya. Tidak ada kata-kata hari itu, karena aku di sebelahnya, persis. Tidak ada pelukan erat dari Devia, tapi genggaman tangannya ke tanganku menandakan ada banyak rasa senang tersisa disana, yang dialihkan ke tangan aku saat itu.

***

Tahun ketiga

“Selamat Ulang Tahun, Kamu”, Devia meniupkan lilinnya, setelah sebelumnya meminta Hilal yang meniupkannya sendiri, tapi Hilal lebih banyak diam saat itu.

“Aku harus nyiapin nafas panjang nih buat niupin lilin yang sesuai sama umur kamu yang sudah kepalang tua itu”, cengir Devia. Sosok itu, masih dengan senyumnya yang tipis namun tegas, menatap Devia. Devia meletakkan hadiahnya.

“Aku pulang dulu ya, Dev”, aku langsung berbalik melihat pemandangan itu, tapi Devia mencegahku.

“Sebentar aja, please”. Tidak ada yang bisa menolak permohonan seorang sahabat.

***

Tahun Keempat

“Selamat Ulang Tahun, Kamu”, Devi lelah, ia memadamkan lilinnya sendiri tanpa meniupnya. Senyumnya terlihat dipaksakan, tapi masih ada gurat cinta di kedua matanya, aku yakin itu. Aku enggan melihat respon Hilal, sama, akan selalu diam. Sejak kejadian itu.

Aku menarik Devia keluar tanpa memberi kesempatan ia memberikan kadonya, aku yang saat itu berjanji akan memberikannya sendiri. Devia tidak bisa menolak, untuk saat ini ia yang harus mendengarkanku.

***

Menuju Tahun Kelima

Aku mendatangi ruangan itu, merindukan suara ceria Devia dan cara Devia mengucapkan ulang tahun ke Hilal. Masih besok, tapi aku yakin sudah tidak ada lagi kejadian konyol seperti itu.

Aku memasuki  ruangan itu, kado – kado yang tercecer mulai kususun rapi. Kado Devia untuk Hilal  di tahun ketiga dan keempat, sosok Hilal dengan senyum tipis tegasnya yang tertempel di dinding kamar Devia. Aku tidak kuat, aku memilih meninggalkan, lalu menguatkan diri untuk esok. Tahun kelima.

***

Tahun Kelima

“Selamat Ulang Tahun, Kamu”, aku meniupkan satu lilin kecil ke depan foto itu, mewakili Devia. Sendiri. Yah kamu Hilal, lelaki yang telah membuat sahabatku tergila-gila padamu hingga harus menjalani perawatan intensif karena gangguan kejiwaannya.

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. hmm, udah curiga ada sesuatu yg ga beres,
    soalnya ngerayainnya kenapa bertiga coba
    tapi ga nyangka kalo Hilalnya cuma foto,
    kirain udah mati gitu tinggal palanya doang
    (hehehe malah tambah psycho)

    1. Brarti baca FF gue = belajar skeptis ya, ngga percayaan sama alur yang akan normal :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s