Apa Dong?

Jam masih menunjukkan angka tujuh malam. Yah, sehabis kuliah bukannya aku diperbolehkan pulang dengan motor bebek kesayanganku, malah disuruh kesini oleh Ayah. Menemani wanita ini lalu makan malam bersama. Ah Ayah, masih aja berusaha mendekati aku dengan wanita ini, aku sudah kadung tidak menyukai dia. Ini yang dinamakan membandingkan, aku masih membandingkan dengan almarhum Mama.

Wanita itu sudah datang. Dewasa. Blus kerja putih dilapisi oleh blazer abu-abu, rok yang menurut aku cukup mini dengan warna senada. Dan satu lagi, lipstick merah menyala dan make-up di mata yang menurut aku terlalu berlebihan. Iya, tidak tahu terlalu berlebihan atau aku yang memang tidak tahu apa-apa tentang make-up seorang wanita dewasa.

“Hai, Bu”, aku mengambil posisi di depannya dan meletakkan ranselku secara kasar, padahal wanita itu sudah bergeser ke pojok, memberi area untukku duduk bersamanya.

“Hai, Inka. Sudah selesai kuliahnya? Motor kamu parkir dimana? Nanti kita kan makannya bukan disini loh”

Satu – satu aja please nanyanya.

“Hhhh..”, aku menyandarkan badanku ke sofa empuk, memperhatikan dekorasi etnik dan tempat makan yang terbuat dari pahatan kayu indah, beberapa wayang diletakkan di dinding restoran tersebut. Aku menyesal kenapa selalu bolos pelajaran Bahasa Jawa waktu sekolah kemarin, tidak tahu apa-apa tentang tokoh perwayangan.

Aku melihat wanita itu, dengan senyumnya yang dipaksakan sopan, mungkin masih menunggu jawaban.

“Kamu coba nasi timbelnya, ngga tahu kenapa enak banget nasinya. Mau?”

“Mau, Bu”, aku berpangku tangan di depannya. Ingat perkataan sahabatku tadi di kampus, coba untuk mengenal dulu, orang ngga ada yang sama, lo ngga bisa bandingin sama nyokap lo juga kan?

“Oke, Ibu pesenin ya?”

“Iy, Bu. Bukan Ibu”, wanita ini selalu salah sangka, panggilan ‘Bu’ bukan berarti aku sudah ikhlas dia menjadi Ibu aku, itu hanya panggilan sopan aja daripada ‘Tante’.

“Iya, Nak. Aku pesenin ya?”

Aku melihat Blackberrynya yang daritadi bergetar tidak jauh dari dirinya namun didiamkan.

“Ngga dilihat aja?”

“Ngga usah Inka, paling dari client. Ini kan udah di luar jam kerja”

“Kalau dari Ayah?”

“Dia pasti lebih suka menghubungi kamu duluan daripada aku”, wanita itu tersenyum lalu menyesap teh pocinya. Aku mau mencoba menggalinya sambil menunggu lama.

“Pertama kali ketemu Ayah dimana, Bu?”

Wanita itu meletakkan gelas pocinya, lalu seolah-olah memikirkan sesuatu. Gelasnya diputar – putar, jawaban ini terlalu ringan, tidak perlu berfikir keras.

“Hmm.. di suatu tempat”

“Ngga solutif, dimana?”, rasa tidak sukaku mulai muncul lagi, wanita ini mulai basa-basi.

“Di.. kantor”, aku melihat wanita itu mulai gelisah.

“ Kantornya dimana emang?”, aku sadar daripada mencoba mengenal ini lebih ke menginterogasi, tapi aku baru  bertemu dengannya dua kali, wajar aku menjadi terlalu kritis.

“Ngga jauh dari sini”

“Ya iyaa, dimannnaaa??”, kesabaranku mulai diuji. Nasi timbel yang sudah datang daritadi tidak aku gubris sama sekali.

“Hmm.. dimana yaaaa? Apa ya? Apa dong? ”, wanita itu mulai berlagak memikir, lalu melihatku tajam sekilas, dan mulai mengeluarkan rokoknya.

Apa? Ngerokok? Ngga!!!

“Ngerokok ya? Aku ngga suka wanita perokok”, aku memelototi dia.

“Apa pedulimu, Inka? Kamu terlalu bawel, banyak nanya”

Aku terkejut, kenapa terlalu mudah menemukan sifat asli wanita ini hanya karena perbincangan ringan semata.

“Kamu mau tahu aku kerja dimana, hah? Tempat dimana rokok, minum, dan hal seksi lainnya mudah ditemukan, aku menemukan Ayahmu tersayang disana”, lalu wanita itu menghembuskan asapnya ke mukaku. Habis kesabaranku, kenapa mulai berani bertingkah seperti itu?

Aku berdiri, siap untuk melabrak, ketika kudengar suara Ayah memanggilku, mengusap kepalaku sebentar dan wanita itu datang ke pelukan Ayah. Punggung Ayah menghadapku, dan wanita itu melihat aku dibalik pelukan Ayah, mengatakan sesuatu kepadaku tanpa suara. Aku berusaha menerjemahkan apa yang wanita itu katakan.

“Ke..lab.. ma..lam..”, lalu wanita itu mengedip padaku.

2 Comments Add yours

  1. 'Ne says:

    wah, syok ya si Inka, pastinya.. 🙂

    1. hehe.. terima kasih ya sudah menyimak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s