Luka II

Kita bertemu, namun untuk terluka. Iya, untuk sebuah luka. Ketika bersalaman dan sebuah senyum kecil  pembuka menjadi satu tanda bahwa kita sudah mengenal, bukan hanya mengetahui. Aku tahu itu hanya sebuah gerbang yang mengantarkanku pada satu rasa yang paling aku hindari saat ini.

Lalu aku terikat rasa yang salah, yang seharusnya harus teralihkan oleh hubungan yang sedang dijalani waktu itu. Terlalu salah, hingga aku resah dan mencoba membalikkan badan setiap ada sosok dari dirimu yang mulai datang dengan senyum yang kurasa tak pernah lekang terhapus di memoriku.

Kita bertemu, namun untuk terluka. Ketika aku mencoba memperjuangkan segala hal untuk menentang semua perasaan yang ada.  Kamu semu, kamu maya, kamu tidak ada!! Lalu kamu menyentuhku seakan menegaskan kalau kamu tidak semua, kamu nyata, dan kamu ada. Kamu salah, segala hal yang kamu lakukan untukku saat ini adalah salah.

Jangan bertemu lagi.

Aku akan membentang jarak jauh agar kita menjauh. Aku rentangkan sampai tidak melihat satu bayangan terpanjangmu di senja hari.

Friksi.

Kita membuat friksi saat itu. Lalu ketika kau menyudahinya, aku masih menginginkannya kembali, lebih.

Aku tahu itu luka. Yang kemudian aku menjadi kebal dan resisten akan rasa itu. Ini salah kamu. Dan aku berharap luka itu sakit. Agar aku tidak merasakan perasaan ini lain, bila itu bukan kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s