Aku Masih Ingin..

Selamat  Hari Pendidikan Nasional, semoga tidak lagi ada Anita lain yang mengalami hal seperti ini, terbentur sesuatu yang membuat mimpinya hancur

 

“ Kamu bisa antar ini ke rumah Bu Haji, Nak?”

“ Bisa, Bu? Jam berapa?”, Anita bersiap-siap, membagi-bagi dadar gulung dan lemper ayam yang harus diantarkan ke beberapa tempat sebentar lagi.

“Ini Ibu belum selesai bungkusinnya. Kamu bisa bantuin?”

“Bisa, Bu”, Anita bergegas ke dekat Ibu, membantu membungkus plastik lemper dan dadar gulung yang jumlahnya ratusan. Anita merasa kasihan terhadap Ibu, sepertinya Ibu sudah terbangun dari jam 2 pagi, dan niat Anita yang selalu ingin ikut terbangun agar bisa membantu Ibunya selalu galah. Rasa lelahnya mengalahkan niatnya untuk terjaga. Biasanya Anita sudah terbangun jam 5 pagi, dan mulai membantu Ibu di proses akhir, membungkus lemper dan dadar gulung dan mengantarkannya ke beberapa tempat.

Lantai tanah merah ini terasa begitu dingin, Anita menggigil, musim kemarau malah  menyebabkan suhu pagi itu begitu menusuk tulang. Enggan rasanya harus mengantarkan sambil jalan kaki. Anita melihat ke lemari pakaian dengan pakaian yang sedikit. Jaket tebal milik almarhum Bapak sudah mulai bolong-bolong di beberapa bagian, sehingga udara dingin bisa menyusup yang menyebabkan badan Anita yang kecil dan kurus semakin menggigil. Tapi Anita harus membantu Ibunya, setidaknya hari ini Anita harus makan nasi.

“ Kamu nanti ngga usah anter ke Mpok Ala ya”, Ibu mulai berpeluh, melihat ia begitu lelah, Anita ingin sekali pergi dari sini, mengantarkan semuanya dan membujuk agar selagi ia mengantar ke beberapa tempat, Ibu bisa istirahat dulu. Tapi Ibu pasti menolak, karena harus mempersiapkan makan siang untuk warung kecilnya. Anita bahkan bisa menerka bahwa dalam sehari Ibu hanya tertidur sekitar 3 jam.

“Kenapa, Bu?”

“Warungnya lagi tutup, anaknya sunatan. Nanti kita datang kesana kok”

“Lumayan ya, Bu, makan gratis, hehe..”, Ibu ikut tersenyum

***

Anita bersiap-siap mengantarkan kue basah tersebut. Anita melihat kalender yang sudah dipajang disana tiga tahun yang lalu tapi tetap dipasangnya. Bagi Anita toh hari akan sama, Senin sampai Minggu, sehingga ia tetap memasangnya.

Rabu’, gumam Anita.

Anita mengingat rute antaran makanannya pagi ini, Bu Haji, SD 4, Bu Nana, SD 8.

Anita kembali resah, selalu ada rasa tidak nyaman dan gelisah ketika melewati tempat itu. Selalu ingin menangis, tapi Anita berhasil menahannya dan menyembunyikan di depan Ibu, Cukup beban menjadi kepala keluarga yang ditanggung Ibu, tidak perlu air mata Anita.

Sampai ia melihat sepasang sepatu yang pernah ia kenakan tiga tahun yang lalu. Anita tidak sanggup lagi, air matanya berurai bahkan sebelum ia mengucapkan salam sebelum pergi.

Ibu memergoki Anita di luar sana, dan berjongkok di sebelah Anita.

“Naak.. tabungan Ibu insya ALLAH cukup, kamu bisa mulai tahun depan. Kita berdoa aja ya,Nak”

Anita menghapus air matanya, tapi cebikannya semakin keras karena rasa tangis yang tertahan.

Anita masih mau kembali ke sekolah lagi, Ibu. Anita kangen belajar, Ibu selalu menjanjikan itu tahun sebelumnya ‘, Anita hanya protes dari dalam hati, kesedihannya seperti bola salju, yang semakin membesar setiap harinya.

‘ Maafkan Ibu, Nak. Biaya sekolah semakin mahal’,  batin Ibu, sambil mencium kepala anak kesayangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s