Cinta sang Putri

Siapa yang tidak kenal dengan Putri Axella? Putri satu-satunya dan kesayangan Raja Avraham dan Ratu Cellia sangat dicintai rakyatnya. Keceriaan dan keramahannya terkenal seantero negeri.

***

“Ulang tahun yang ke-20, apa yang kamu inginkan, Putri? Seorang Pangerankah?”, Putri Lila yang sedang bertandang ke istananya sibuk menyisir rambut panjangnya. Jika Putri Lila dan Putri Axella bersama, tidak ada seorang pelayan pun yang boleh masuk. Hari itu adalah hari khusus untuk mereka bersenang-senang.

“Hem.. apa ya?”, Putri Axella asik bermain dengan kucing liar yang  memanjat masuk ke kamarnya

“Pangeran? Ayolah.. sudah waktunya kamu meminta doa itu”

“Oke, baiklah. Seorang Pangeran. Puas?”

“Haha.. seperti apa?”

“hmmm…”, dahi Putri Axella mengernyit seperti berpikir keras, Putri Axella sadar, selama ini ia belum memikirkan tentang Pangeran siapa yang akan meminangnya nanti. Dirinya masih mau bermain, sekolah, berburu, jalan-jalan, dandan dengan sahabatnya Putri Lila. Berbeda dengan Putri Lila yang sebentar lagi akan dipinang.

“Aku berharap kamu bisa lekas jatuh cinta dengan seseorang”, Putri Lila kembali menyisir rambut hitam panjangnya.

***

“Kamu yakin sama pilihanmu?”, Putri Lila menatap sahabatnya dengan pandangan yang tidak yakin.

“Yakin, aku mencintai dia, sangat”

“Tapi..”

“Heuh…”, Putri Axella menghela nafas panjang. Musim gugur sudah mulai, daun-daun mulai berjatuhan dan menimbulkan gemeresik dan angin yang cukup membuat mereka berdua menggigil.

Putri Axella melihat beberapa penjaganya mencuri dengar, dibalik posisi tegapnya mereka tahu besar apa yang sedang terjadi. Dia acuh tak acuh, mereka akan tahu, semua rakyatnya tahu, ia mencintai lelaki yang salah.

“Aku hanya..”, kata-kata Putri Lila urung dilanjutkan, ia sangat tidak tega menyinggung sedikit pun dari perasaan sahabatnya.

Putri Axella termenung, gaun panjangnya ia singkap sampai dengkul dan mengesampingkan adat keputriannya sebentar, ia menyilangkan dengkulnya dan termangu. Hatinya sungguh gulana.

***

Pangeran Baram, adalah putra dari Raja Benoni yang kejam dari negeri tetangga. Sayangnya, karena suatu hal yang sudah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, kedua negeri tersebut bersitegang, sampai saat ini mereka tidak pernah mengadakan hubungan bilateral, bahkan masing-masing rakyatnya tidak diperbolehkan bertandang ke negeri tersebut, Jika satu rakyat terlihat datang ke negeri itu maupun sebaliknya, tidak akan ada yang selamat. Permusuhan itu seakan tidak pernah ada akhirnya.

 

Pangeran Baram bertemu dengan sang Putri secara tidak sengaja, saat itu Pangeran Baram menyamar menjadi rakyat biasa untuk melihat kelemahan geografis dari negeri Atha, negeri yang ditinggali oleh Putri Axella. Pangeran Baram dan pasukan berniat menjajah negeri kecil tersebut. Tetapi saat penyelidikan ia bertemu dengan Putri Axella yang sedang berburu sendirian dan sang Putri jauh dari pengawasan Raja dan penjaganya. Dengan waktu yang sempit mereka berkenalan dan saat itu mereka sadar dengan perasaan mereka.

***

Surat dari negeri seberang telah diterima oleh Raja. Surat permohonan untuk meminang sang Putri. Raja Avraham resah, surat itu bisa menjadi ancaman dan perang kalau ditolak, tapi bagaimanapun jawaban ada di tangan sang Putri.

Butuh waktu satu bulan untuk memikirkan jawaban tersebut. Dalam hati yang paling dalam ia sangat mencintai Pangeran Baram, walau ia tahu Pangeran bisa berpotensi sejahat Ayahnya. Tapi ia berusaha berpikir positif mungkin permusuhan yang sudah lama terjalin akan menjadi perdamaian jika ia menikah dengan Pangeran Baram. Tapi di sisi lain keamanan rakyatnya pun akan dikorbankan.

 

“Kami siap berperang untuk Putri kalau penolakan Putri akan berujung peperangan”,  ujar salah satu rakyatnya ke Putri Axella saat itu.

 

Hari ini adalah tenggat dari surat tersebut, kertas perkamen sedari tadi digenggam erat oleh sang Putri, dan jawabannya harus ia ungkapkan di tempat ini, di atas balkon ini, di depan rakyatnya.

 

Sang Putri menahan nafas panjang, dihadapannya sudah ada ribuan rakyat yang menunggu jawabannya.

 

“Saya.. tidak akan menikah dengan Pangeran Baram, rakyatku!!”, teriak sang Putri lantang. Dan jawabannya disambut dengan tepukan dan sorakan riuh untuk rakyatnya.

 

‘Karena kalian adalah harta terbesar dalam hidupku, rakyatku..’, sang Putri menitikkan airmata, tinggal ia yang harus belajar melupakan Pangeran Baram, mengubur semua mimpi  bersamanya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s