And my name is Mulan

The Emperor of China: The flower that blooms in adversity is the most rare 
and beautiful of all. 
Shang: Sir? 
The Emperor of China: You don't meet a girl like that every dynasty.

“Jadi, kapan kau turun perang lagi?”, Ling menyikut Mulan

“Hei, aku perempuan! Ingatlah itu!!”, Mulan menonjok pelan lengan sahabatnya. Ling dan Yao tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan.

Cri-Kee menghampiri Mulan dan meloncat ke pundak Mulan. “Hai kau, si jangkrik pembawa keberuntungan, apa kabar?”, Cri-kee melompat kesenangan, lalu melompat ke kepala Ling dan Yao bergantian.

“Dia ceria sekali ya? Menurut aku kehadiran dia memang membawa keberuntungan”, Ling memegang sungut Cri-Kee dengan lembut dan menaruhnya di daun pohon jeruk di sebelahnya.

 

“Ngomong-ngomong, Shang mana ya?”, Mulan merapikan rambutnya, dan merasa kurang nyaman dengan pakaian yang sedang dikenakan.

“Sepertinya sedang rapat koordinasi dengan Kaisar Morita”, Ling mengintip ke ruangan di sebelahnya, dengan posturnya yang tinggi tidaklah sulit melihat keadaan di dalam.

“Yah, sepertinya sedang rapat”, Ling meyakinkan apa yang dilihatnya.

“Kalian, tidak masuk ke dalam?”, Mulan mulai resah, pasti akan ada perang lagi, bukan dengan bangsa Hun, sepertinya bangsa Kai yang sudah mulai mengusik ketenangan negeri ini.

Jangan sampai terjadi seperti peperangan kemarin..’, batin Mulan dan berdoa kepada leluhur agar tidak terjadi apa-apa.

***

“Dimana Shang?”, nenek Fa tiba-tiba datang sambil membawakan rangkaian bunga yang penuh.

“Nek, itu untuk siapa? Untuk Mulan?”, Mulan mencoba merebut bunga tersebut namun nenek Fa lebih cekatan, “Hei, ini untuk suamimu! Shang? Mana Shang?”, Nenek Fa celingukan mencari Shang.

Mulan memutar matanya, “Nenek, bunga itu harusnya untuk cucunya, bukan untuk suami cucunya. Wow.. wangi sekaliiii”, Mulan menunduk mengendus bunga-bunga tersebut.

“Ini untuk Shang, yang berani menyelamatkan rakyat China, kalau dia kembali, tolong kasih tau Nenek, bunga ini akan Nenek simpan dahulu”. Nenek Fa berlalu ke dalam.

“Apakah dia tahu kalau aku yang mendapatkan pujian lebih daripada suamiku sendiri oleh Kaisar Morita?”, Mulan bertanya kepada dua sahabatnya yang hanya dijawab dengan angkatan pundak mereka.

***

Kapten Li Shang keluar dari ruangannya bersama dengan kapten Morita. Mukanya menahan emosi yang sebenarnya mudah dikeluarkan kalau di depannya tidak ada sang Kaisar. Kaisar Morita, menjaga kewibawaannya, berdiri tegak menatap Kapten paling pemberani yang pernah ia temui, namun sorot matanya begitu khawatir.

Mulan, entah sudah berapa lama mengenal Shang bahkan sampai sudah menjadi suaminya, menatapnya menimbulkan desir-desir aneh di dalam dadanya. Mulan mendatangi suaminya dan tersenyum sambil menggandeng tangannya, “Semua baik-baik saja, Shang?”

Shang tersenyum, “aku tidak bisa berbohong kalau dengan istriku sendiri ternyata”. Pipi Mulan menghangat, bersemu merah mendapatkan pujian sederhana dari suaminya sendiri.

“Yah.. serius, ada apa?”

Shang menghembuskan nafas panjang, “Sepertinya akan ada perang lagi dengan bangsa Kai”

“Oh, tidak. Jangan lagi..”, Mulan menyesal kenapa ketakutannya menjadi kenyataan. Mulan menguatkan dirinya, begitu lekat dalam ingatannya penyamaran bangsa Hun dibalik perayaan kemenangan bangsa Han saat itu. Ia begitu kenal dengan karakter bangsa Kai yang cerdas tapi kejam.

***

Mulan kembali ke kamar setelah berbicara dengan kedua sahabatnya. Mulan melihat kuil, Mushu belum bisa diganggu hingga  matahari terbenam nanti, tugasnya melayani leluhur masih harus diselesaikan sampai petang nanti.

“Aku akan ikut”,

Shang membalikkan badan, “Mulan.. jangan membuat aku memaksa”

“Aku akan ikut, dibalik pasukanmu, aku ada disana, atau di depan kudamu untuk menjadi tamengmu, aku siap”

“Kamu membuat semuanya menjadi sulit, Mulan”

Mulan tahu, Shang begitu khawatir, khawatir karena ia sebagai perempuan, dan juga sebagai istrinya.

“Shang, percaya padaku, aku harus ada disana”

“Kenapa? Karena kecerdasanmu mengalahkan fisikmu? Ini akan berbeda”

Mulan menatap Shang tajam.

“Ini akan sama. Perang akan selalu sama!!”, Mulan tidak bisa diam saja menunggu suaminya berperang sedangkan ia hanya di rumah, menunggu kabar.

Shang terdiam, banyak pertimbangan memenuhi benaknya saat itu.

“Jangan hanya khawatirkan aku, Shang. Khawatirkan rakyat China., Aku, kamu, Ling, Yao, semuanya, untuk rakyat China. Kita berjuang bersama, lagi”

Tidak ada yang bisa dikatakan oleh Shang, penolakan darinya akan membuat Mulan semakin maju. Shang menyiapkan posisi untuk Mulan pada pion strateginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s