Bantuan Terakhir

“Bagaimana kabarmu?”, Alika melihat lelaki itu, tidak pernah berubah, fisiknya, bahkan sifatnya.
“Ngga pernah sesenang ini..”
“..karena bisa ketemu kamu”, sambungnya, lirih dan menatap dalam.
Alika tidak tersenyum, bibirnya mencibir. Dan lelaki itu tertawa keras.
“Males dengernya”
“Gue juga males jawabnya tadi. Haha..”, Alika menempeleng keras kepala Ando. Lalu beranjak dari bangku merah itu, meninggalkan Ando namun tetap menjaga jarak. Semilir angin sore memilin rambut pendeknya, mengacak lembut, sesekali Alika menyisirkan rambutnya, memejamkan mata, rindu yang tertahan akhirnya mencapai ujungnya.
***
“Kenapa bisa ya kita ngga ketemuan lama gini?”, Alika berbalik ke Ando, yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.
“Hahhh.. another victim”, Alika memalingkan muka, sahabatnya belum berubah lagi, lama tidak bertemu dan dipertemukan di usia yang sudah matang, Alika mengharapkan Ando berubah, terutama kebiasaannya yang satu itu.
Ando tersenyum, matanya tidak lepas dari ponselnya.
Alika duduk kembali ke bangku tersebut, bahkan untuk melepas rindu ia tidak membawa apa-apa, hari itu harusnya hanya ada dirinya dan Ando, tidak ada siapapun walau tekstual.
“Semua akun sosial lo deactivate. Kenapa? Mau lari dari para korban lo?”, Alika menatap tajam.
Ando mendekat, hingga hangat nafasnya terasa di wajah Alika, mencoba menahan kupu-kupu yang mulai berterbangan, Alika tidak melepaskan pandangan matanya ke Ando. Tidak pernah ada cela dari sahabatnya, bahkan bila ia datang menemui Alika hari ini dan melamarnya, sepertinya tidak akan ada jeda waktu untuk Alika mengatakan ‘iya, aku mau’
“Lo harus bantu gue, Ka”
“Lari dari mereka? Ngga. Ngga lagi”, jawab Alika, sengit.
Ando memalingkan wajahnya, tengah berpikir keras, bahkan Alika tahu apa yang sedang ada dalam pikiran sahabat kecilnya.
“Ini yang terakhir”
‘Selalu yang terakhir’, cibir Alika.
Alika memegang tangan Ando, setidaknya ia bisa menyentuhnya sebelum Ando pergi lagi entah kemana selama beberapa tahun tanpa terlacak.
“Berubah, tetapi bukan dengan lari, Ndo”
“Dan gue ngga akan lari lagi kalau untuk terakhir ini lo bantuin gue, Ka”
Alika terdiam, membayangkan wajah korbannya yang sangat cantik, terawat, Alika tidak ada apa-apanya, membayangkan wajah mereka yang murka, dendam.
“Apa yang bisa gue bantu?”
***
Alika berdiri mematung, matanya seakan kosong, menatap tanpa mengerti apa yang tengah ia lihat.
Jauh meninggalkannya dan tersisa setitik siluet yang semakin lama semakin menjauh, Ando berlari meninggalkannya, dan entah menuju kemana. Alika tidak pernah tahu.
Penipuan berkedok Production House, menjaring wanita belia yang punya obsesi terkenal dengan cara praktis, tugas Ando karena perbuatannya hanyalah berlari dari kejaran polisi.
Dan Alika tidak pernah tahu kapan ia akan membantu Ando berhenti dari pelariannya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s