Pagi Kuning Keemasan

#15HariNgeblogFF2 #2

 

 

 

 

 

“Ayo sini!! Kita harus menuju ke atas, sebentar lagi pintu surga terbuka!!”, ajak kamu sedikit memaksa. Aku menggelengkan kepala, dari kejauhan kamu tahu aku punya caraku sendiri menikmati Pulau Lengkuas yang sepi ini.

Aku adalah short list penghuni neraka’

Aku berjalan cepat menuju batu granit yang berjejer indah, kadang aku iseng menerka bentuk apakah batu-batu itu, lalu aku melihat satu batu yang cukup lebar untuk aku berbaring disana.

‘Sial, lupa bawa selendangnya’, aku mengutuk diriku sendiri tapi tetap berbaring di bebatuan indah itu. Aku sangat menikmati udara sore ini dengan bikini 2 pieces yang baru aku beli dari Jakarta.

Bukan pertama kalinya aku berkunjung ke Pulau ini. Lagi, tidak pernah ada rasa enggan untuk kembali kesini. Mungkin inilah salah satu bentuk surga nanti, tenang, damai, hangat, ringan. Aku memejamkan mata menikmati punggung yang tersengat lembut oleh sang Matahari. Sudah berapa lama aku tertidur hingga kamu menghampiriku bersama teman-temanmu.

“Hai cantik, sendirian aja?”

Aku terbangun dan aku memasang pose yang cukup sensual. Yah.. aku masih mau menggoda beberapa teman-teman kamu.

“Sudah ke menaranya, Ka?”

“Iya, sayang kamu ngga kesana. Oke, kita mau jalan-jalan dulu ya. Kamu bener ngga ikut?”

No.. aku disini aja ya, Ka”

Kamu dan beberapa temanmu berkejaran dengan semangat, walau salah satu temanmu sempat mengedipkan matanya kepadaku. Aku kembali berbaring dan mengingat kali pertama aku berkunjung kesini, hanya berdua saja, dengan Syana.

***

Aku bermimpi yang sama. Syana menangis di depanku, ia berada di tengah laut yang jauh dari bibir pantai. Aku berusaha menggapainya tetapi tidak  bisa.

“Pegang tanganku, Kayla.. Tolong aku..”

Aku terdiam, usahaku yang pertama dan kedua untuk meraih tangannya terasa nihil. Usaha ketiga aku hanya terdiam dan memejamkan mata.

Maafkan aku, Syana…’, isakku sambil menutup mataku, tidak tega melihat wajah Syana yang timbul tenggelam diterpa ombak laut yang sangat besar.

***

Aku terbangun. Syukurlah itu hanya mimpi. Namun mimpi yang berkali-kali mendatangiku.

Yah, aku ingat hari itu. Di pagi kuning yang keemasan, semburat sinar matahari yang masih malu-malu menghantarkan sinarnya. Pagi itu, di pinggir pantai Pulau Lengkuas, aku membutakan mata dan nuraniku. Karena emosi sesaat, keributan kecil karena aku tidak menyetujui ia dengan kakakku.

Aku membunuhnya.

Ya, aku menenggelamkan kepalanya, hingga tubuhnya yang memberontak seketika lemas. Aku terdiam dan panik, aku menyeret tubuhnya jauh di tengah lautan, sampai tidak ditemukan. Tidak ada yang curiga. Aku berkata kalau Syana sudah pulang duluan dengan rombongan lain karena ada keperluan mendadak.

Nafasku sesak, lagi. Aku melihat sosok kakakku bersama teman-temannya. Aku yang paling tidak menyetujui hubungan kakakku dengan Syana. Sampai sekarang, kakak tidak mengetahui yang sebenarnya.

Pagi kuning keemasan, aku selalu ingat kejadian itu. Setiap sudut tempat ini sebenarnya adalah trauma bagiku.

Maafkan aku Ka, Syana’

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s