Kerudung Merah

#15HariNgeblogFF2 #4

 

“Kamu harus hati-hati, kasus ini terlalu besar walau berada di kota kecil”, team leader Rendra memperingatkan sebelum ia berangkat ke tempat kejadian.

“Mengapa harus sehati-hati itu, Pak?”

Bapak Awan mencari-cari ordner tentang kasus tersebut, lalu menyerahkannya kepada Rendra.

“Kamu mungkin sudah baca kronologi kejadian kebakaran tersebut, tapi ini data tambahan yang diberikan oleh saksi secara  diam-diam”

Rendra scanning tumpukan supporting document tersebut dan terkejut atas apa yang baru dibacanya, ia menganggukkan kepalanya.
“Saya berangkat, Pak”, Rendra beranjak dari tempat duduknya dan membawa perangkat Safety Equipment dan Investigation Tools menuju Bandara.

***

3 hari kemudian.

Atap pom bensin terkena imbas ledakan, dan terdapat banyak keretakan pada lantai semen juga mobil-mobil di sekitar tempat kejadian yang terkena dampak dari ledakan dan kebakaran tersebut. Korban masih dirawat di ruang ICU, satu pengendara motor yang naas menyalakan handphonenya saat sedang mengisi bensin. Dan ledakan pun terjadi.

“Bagaimana dengan pers? Dan Polres yang juga meminta uang ‘gono-gini’ agar investigasi ini tidak

dicampurtangani oleh Puslabfor?”, tanya pihak asuransi terburu-buru mengejar Rendra.

For money thingy is out of my scope. Thanks”, Rendra menatap tajam lelaki tersebut, yang tidak bisa dibalas dengan kalimat lain. Rendra benar, tugas dia adalah menganalisa kejadian tersebut adalah disengaja atau tidak dari pendekatan sains. Tidak lebih.

Setelah investigasi kebakaran di Pom Bensin Rantau Prapat selesai, Rendra pergi ke tempat ia bisa melepaskan rasa lelahnya setelah seharian melakukan investigasi dan pengambilan sampel juga berjuta pertanyaan dari para wartawan, asuransi dan pemilik pom bensin.

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam dengan menggunakan mobil rental, Rendra mengikuti insting navigasinya agar sampai ke tujuan. Hingga tibalah ke tujuan akhir melepas kepenatan karena kasus ini, Danau Toba.

Rendra meminggirkan mobilnya dan matanya menatap sekeliling, ia menarik nafas panjang, merasakan udara segar di pinggir Danau Toba memasuki paru-parunya lalu dihembuskannya perlahan. Matanya menangkap keindahan Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah dan monyet liar yang masih terlihat bergelantungan di sekitar pohon-pohon tersebut. Bergegas Rendra keluar dari mobilnya dan duduk di bangku panjang.

Rendra merenung, ia tahu persis apa yang membuat kasus ini terlihat berbeda. Seseorang yang terlibat di dalamnya.

***

“Hai”. Rendra menengok ke sumber suara, wanita cantik berpakaian rapi dan berkerudung merah menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku mengikutimu”, lanjut wanita tersebut. Rendra berusaha memalingkan pandangannya, sungguh ia mengakui betapa menghipnotisnya wanita tersebut.

“Untuk apa?”, ia mengalihkan ke pemandangan alam di depannya, namun tetap mendengarkan suara renyahnya.

“Menurut kamu, kebakaran apa penyebabnya?”, wanita itu duduk di sebelah Rendra, namun tetap menjaga jarak.

“Kesalahan lay-out. Sangat fatal”

“Hm..”, wanita tersebut berpangku tangan, seperti berpikir keras.

“Kesalahan kamu yang sangat fatal, Fana”, Rendra menatap tajam Fana, nama wanita tersebut.

“Tolong bantu aku”

“Untuk apa? Kamu dan aku berbeda fungsi. Tugasku selesai, kamu yang akan aku salahkan. Semua akan tertuang di laporan nanti”

Fana bungkam, ia menggigit bibirnya keras, raut ketakutan yang terpendam dari wajahnya, namun ia masih bisa mengontrol emosi.

“Kita selesaikan semuanya, Ren. Tolong hilangkan barang bukti itu, atau kamu bisa cari cara lebih pintar. Salahkan pengendara sepeda motor tersebut”

“Tidak bisa”

“Hah…”, Fana menghela nafas panjang.

“Serius Ren, bukan karirku yang terancam, Pertamina pun juga akan disalahkan nantinya karena memenangkan kita sebagai tender. Satu kesalahan kecil ini akan berefek pada top management. Percaya, Ren”

‘Jangan libatkan perasaanmu, Rendra’, hati kecil Rendra berbisik pelan. Namun bagian lainnya berfikir lebih logis, apa yang Fana katakan tidak salah, ia akan menghancurkan sebuah perusahaan besar.

“Kamu bisa katakan apa yang kamu mau, setelah itu, selesai”

“Apa saja?”

“Ya”

Bahkan dirimu kembali?’

***

Rendra memberikan belasan sampel yang sudah susah payah ia kumpulkan dalam penyelidikan selama 10 jam tersebut kepada Fana.

“Terima kasih. Kamu akan dapatkan yang kamu mau”, tiba-tiba Fana membuang semua sampel tersebut ke arah danau, mungkin tidak akan sampai danau, tetapi Rendra yakin akan nihil bila ia mencarinya kembali. Fana sukses menghilangkan barang bukti.

“Aku pergi dulu, Rendra”, Fana berlalu, kerudung merahnya berkibar pelan karena angin yang bertiup cukup kencang.

‘Fana..’, Rendra menyebut lagi nama itu, desir yang sama masih ia rasa, namun menariknya kembali adalah kesalahan.

Rendra meraih ponselnya dan menghubungi team leadernya.

“Pak, saya akan segera ke Jakarta. Barang bukti sudah saya bawa”

“Saya harap kamu melakukan langkah yang tidak keliru, Rendra”

Rendra menuju mobilnya. Sampel kebakaran yang asli yang sudah ia sembunyikan di dalam mobilnya, Fana berhasil dikecoh oleh belasan sampel duplikat sudah ia sediakan saat itu.

***

Ketika perasaan yang lebih terhadap seseorang wanita harus dikalahkan oleh kejujuran dalam suatu pekerjaan, perang batin yang dirasa sangat kuat. Danau Toba, adalah saksi, aku memilih kejujuran itu’

3 Comments Add yours

  1. titi esti says:

    Like this yo.. Ceritanya asyik. Di luar duniaku. Bikin takjub

    1. terima kasih udah berkunjung ya, jangan bosan 😀

  2. adichal says:

    Ada unsur pengalaman pribadinya ya? Ceritanya ngalir yang ini nih. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s