Sepanjang Jalan Braga

 

Dua porsi rainbow cake masih utuh tidak tersentuh, wanita tersebut masih sendiri, menunggu seseorang yang sudah lama ia rindukan. Tangannya mulai sibuk mengetik terburu, seakan tidak sabar menunggu orang tersebut untuk datang.

‘Lekaslah, kamu tidak tahu betapa aku merindukannya’, hati wanita tersebut semakin gelisah. Wanita tersebut meredam rasa tidak sabarnya, menyesap segelas besar nutty macademia yang sedari tadi belum disentuh. Rasa rindunya meredamkan rasa lapar dan hausnya, ia sangat ingin seseorang yang ditunggu lekas datang, dan menemaninya malam ini.

Sebentar lagi, ia sangat menikmati suasana Jalan Braga, wanita tersebut tersenyum setelah membaca teks singkat tersebut, kacamatanya dilepaskan, mengambil tisu untuk menghapus sedikit air mata yang tidak sengaja keluar di pelupuk matanya.

Lantunan jazz klasik mulai jelas mengalun, indera wanita tersebut sudah lebih terbuka dengan keadaan sekitar, tidak segelisah tadi. Matanya melempar pandangan ke sekeliling bangunan kafe Braga Huis yang kental dengan bangunan khas Belanda. Bata dengan cat putih, foto-foto klasik. Tempat ia menyusur lagi kenangan lamanya, sedih, senang dan amarah pernah terlibat di dalamnya. Bagaimanapun, rasanya seperti kembali ke rumah, Bandung. Daerah yang beberapa bulan sengaja ia tinggalkan untuk suatu alasan. Dan meninggalkan dengan tujuan melupakan adalah efek bumerang baginya, semakin jauh ia meninggalkan malah semakin ingin ia kembali berkunjung ke tempat ini. Pada satu hari, batinnya menyerah, wanita tersebut kembali ke Bandung, dan tujuan pertama adalah Jalan Braga.

***

Suasana Braga Huis semakin hangat, sesekali wanita tersebut menatap dari jendela kecil, apakah seseorang tersebut sudah datang atau belum, entah ada siluetnya dari jauh. Namun yang ia lihat masih orang-orang yang lalu lalang, atau melambatkan langkah dan berhenti hanya untuk  mengambil gambarnya dengan teman-temannya.

“Hai, kamu bisa keluar saja dulu?”, suara seseorang menyambut wanita tersebut di telepon.

“Tapi rainbow cake ini belum aku makan sama sekali”

“Tidak apa, dia tidak mau  masuk ke dalam”

Wanita tersebut beranjak, dan seseorang yang sangat ingin ditemui sedang asyik menari-nari, dan melompat girang di sepanjang Jalan Braga, hingga ia melihat wanita tersebut..

***

“Mamaaaa!!!”

Wanita tersebut memeluk erat gadis kecil tersebut, air matanya ia tahan sekeras mungkin, ia tahu gadis kecilnya tidak suka melihat mamanya menangis.

“Aku masih mau jalan-jalan, Ma”

“Oke, tapi disini dingin, kamu harus pake jaket kamu, ya”, wanita tersebut memakaikan jaket kecil ke gadis kecil tersebut.

“Mari kita jalan, Ma”, gadis tersebut menggandeng erat tangan wanita tersebut.

“Aku antar sampai sini saja, aku harus pulang”, lelaki tersebut pamit, menjaga jarak. Wanita tersebut mengangguk pelan dan tersenyum.

“Kesempatan yang kau berikan padaku sangat berharga. Terima kasih”

Lelaki tersebut mengalihkan pandangannya , “hanya sampai Rabu”

“Iya, Rabu”

Dan lelaki tersebut, mantan suami yang mempunyai hak asuh penuh atas gadis kecilnya berlalu.

‘Setidaknya selama dua hari aku bisa memilikimu, Nak’

Sepanjang jalan Braga, gandengan tangan wanita tersebut dengan gadis kecilnya begitu erat.

 

 

 

3 Comments Add yours

  1. AA.Muizz says:

    aaa..keyen qaqa…aqu cuqa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s