Ramai

#15HariNgeblogFF2 #8

Sambungan dari ini nih.. Sehangat Serabi Solo

“Di pasar Beringharjo atau Malioboronya?”, Sara lebih segar pagi itu, setelah jam 7 tadi ia jogging sebentar di Graha Saba Pramana UGM lalu sarapan dengan gudeg Bu Hadi.

“Hmm.. katanya sih disini”, Hardi menghentikan langkahnya di depan Mirota Batik.

“Disini?”, Sara celingukan, tapi tidak menemukan seseorang yang dituju.

“Bukan, kita harus susur sampai ujung sana rasanya”

Sara terkejut, lalu keluar dari jalur belanja tersebut dan keluar, matanya memandang sekilas ke jalur andong, merasakan akan ada rangkaian flashmob dari anak-anak muda tersebut. Persiapan untuk menghibur para pemburu cinderamata di surga belanja di Yogyakarta ini. Andong, becak, sepeda motor, pejalan kaki yang berjalan pelan sambil melihat –lihat di jalanan Malioboro mulai berseliweran dan perlahan menimbulkan kemacetan.

“Kenapa? Masuk ke dalam aja”, Hardi menyeruak menyusul Sara dan menatap heran.

Oh no.. harus gue tekan sampai segimana lagi ini keinginan belanja gueee?!?!”, Sara histeris tetapi ditahan. Sungguh belanja adalah hobi keduanya setelah menulis, dan menyusuri Malioboro tanpa berbelanja apapun sangat menyiksa.

Hardi menghela nafas panjang dan menahan kesal, alasan yang sama saat berada di Solo kemarin.

“Mau nahan apa ngga?”

“Heuh.. iya”, Sara memasuki kerumunan lagi dan mulai menyusuri Malioboro.

“Kata ibu yang kemarin, dia ada di depan toko-toko terkenal”

“Ya toko terkenal itu apa?”, Sara melihat kanan-kiri secara seksama, me-recall wajah tersebut, ia masih ingat, sangat ingat.

Hardi mengangkat bahunya tanda tidak tahu, memang informasi yang ibu tersebut berikan di Pasar Beringharjo sangat minim. Sara hampir putus asa, memang sulit menemukan seseorang yang sudah 15 tahun tidak bertemu. Tapi secercah harapan muncul saat ada seseorang yang mengatakan bahwa ia masih hidup.

Sampai sudah di ujung, Sara tahu hasilnya nihil. Wajah yang ia cari tidak muncul, sampai ia tidak memperdulikan barang-barang menggiurkan yang pedagang tersebut tawarkan.

“Gue mau istirahat”, kekecewaan dan rasa pesimis hasil yang nihil seakan menyedot energi Sara yang kelelahan berjalan 1 km sepanjang Malioboro tersebut.

***

Sara ingat hari itu, 15 tahun yang lalu, ketika ia masih remaja yang bandel. Sara dan dua orang temannya pergi ke Yogyakarta. Ketika itu, jalanan sepanjang Malioboro masih lengang, mereka meminjam sepeda motor warga sekitar dan dibayar dengan harga kekeluargaan. Sara sendiri yang membawa motor dan kedua temannya berboncengan. Jalanan yang masih sepi masa itu karena bukan sedang musim liburan, ia gunakan untuk melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, membuat kegaduhan di lingkungan Keraton. Sara berada di depan, membalikkan kepalanya melihat kedua temannya yang tertinggal, dan tidak sadar ada seorang Ibu yang sedang menyeberang. Tidak ada yang bisa dihindari, motor itu melindas kaki si Ibu.

Sara yang tidak apa-apa walau terjatuh dari motor ikut panik membawa ke rumah sakit terdekat dan mengaku sebagai mboknya, beruntung tidak banyak massa saat itu sehingga tidak heboh. Kesalahan terbesar Sara dan kedua temannya adalah meninggalkan si Ibu tersebut, mereka pulang ke Jakarta. Dan berusaha keras menutupi aib masa lalu yang mulai menjadi biasa oleh kedua teman Sara. Tapi tidak Sara.

Hardi tahu ceritanya. Beberapa hari setelah tiba di Jakarta menceritakan kepada Hardi yang sedang pelatihan di SMAN 6 Yogyakarta. Bahkan Hardi sempat menjenguk si Ibu dan dari adiknya yang berjualan batik di Solo, Hardi tahu bahwa si Ibu biasa berjualan sate di sekitaran area Keraton Yogyakarta.

***

Sara dan Hardi duduk di pinggir jalan sekitaran Masjid Agung yang berada di Barat Alun-alun.

“Gue takut kesalahan yang gue tebus terlambat 15 tahun”, Sara kelelahan, tapi hatinya lebih lelah dan kecewa.

Hardi menatap Sara, “ngga, lo ngga terlambat”

Sara menatap Hardi, sahabatnya ini adalah orang pertama yang Sara hubungi 12 tahun kejadian itu, Hardi yang tahu persis perasaan bersalah yang berusaha ia hilangkan tidak akan pernah hilang di benak Sara, ketakutan dan perasaan khawatir yang ternyata membuat Sara tidak tenang. Meninggalkan seseorang yang ia celakai begitu saja? Sungguh hasil pemikiran pendek seorang remaja yang ketakutan karena berbuat salah.

‘ Elo bantuin gue cari informasi tentang si Ibu, elo yang menyemangati gue agar bisa menebus kesalahan gue, elo yang.. Ah lo Hardi, bener-bener’

Jalanan tidak kalah ramai dengan Malioboro, ketika ia mulai berjalan mencari semilir angin yang bisa menghilangkan butir-butir kecil keringatnya. Sara perlahan meninggalkan Hardi beberapa ratus meter di belakangnya.

Sara melihat beberapa penjual yang menjajakan sate dan lontong,  Sara berniat membelikansatu porsi untuk dirinya dan Hardi, dan terkejut ketika matanya menangkap satu sosok.

Seorang Ibu, dengan tongkatnya tersampir di sebelahnya, senyum ramah ketika melayani pembali. Wajahnya, Sara tidak akan pernah lupa. Sara gemetar, gemetar karena rasa senang, perjuangan yang tidak sia-sia. Sara menahan air matanya, ingin sekali kembali ke tempat Hardi menunggu namun ia takut kehilaangan lagi kesempatan ini. Sara mendekatinya,

“Bu, setunggal porsi pinten, Bu?”

Selanjutnya, Sara akan mengutarakan maksudnya selama ini, menebus dosa 15 tahunnya dengan cara terbaiknya.

5 Comments Add yours

  1. 15 tahun yang lalu…
    berarti Sara ini sekarang dah 30an ya?

    1. kita anggep aje udah 30 tahun dia belum kawin – kawin ye, hahah

  2. Wah, Saranya baik, mau menebus kesalahannya walau terlambat.

    1. iyah, karena dihantui oleh rasa bersalahnya
      terima kasih ya sudah berkunjung, jangan bosan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s