Sehangat Serabi Solo

#15HariNgeblogFF #6

Sara memicingkan mata, “udah sampe mana, eh?”

“Udah sampe, ayo turun”. Terminal Tirtonadi cukup lengang, ya Sara tahu, terminal di beberapa daerah di Jawa Tengah tidak bisa dibandingkan dengan terminal di Jakarta. Tapi tujuan ke tempat ini berbeda, yah.. Sara kesini dengan satu utang Sara yang belum terbayar. Hutang 15 tahun yang lalu.

“Iyee…sabar”. Hardi memburu langkah Sara siang itu, Sara minta ditemani oleh sahabat kental dari sekolah dasar dahulu yang memutuskan untuk tinggal disini.

“Kita naik becak aja kesana”

“Ya iyalah masa’ gue jalan kaki. Ogah!!”

Hardi menggelengkan kepala, persahabatan yang sudah berumur belasan tahun membuat ia kebal dengan segala sifat keras Sara, baik yang masih tertanam di badan ini maupun yang belum lama ini hilang. Iya, hilang. Yang Sara berharap untuk selamanya.

Sara menghembuskan nafas panjang, membuang segala beban yang Sara bawa beberapa hari yang lalu dari Jakarta. Suasana Solo siang ini tetap mendinginkan hati, becak-becak berseliweran, motor dan mobil yang menunggu sabar di belakang andong yang berjalan pelan. Kamu bisa membayangkan kalau itu kejadian di Jakarta, kuda andong pasti udah kepalang stress karena klakson mobil yang terus menerus berbunyi keras.

***

Mereka turun dari becak. Hardi selalu menjadi juru bicara karena Sara kurang fasih berbahasa Jawa. Pernah suatu kunjungannya di Semarang beberapa bulan lalu ia mengucapkan ‘Punten’ ke seorang bapak-bapak yang ingin ia salip jalannya. Sejak itu Sara mulai diam daripada sok tahu mengucap bahasa Jawa. Namun hari itu ia berbeda, terutama bila insting wanitanya mulai jalan.

“Pinten, Bu?” (berapa, Bu?) Langkah Sara terhenti ketika melihat Ibu penjual batik menggantungkan long dress batik fuchsia yang sangat indah.

“Wulung puluh ewu” (delapan puluh ribu)

Sara mengernyitkan alisnya, “Larang temen, tigang ndoso mawon nggih” (mahal banget. Tiga puluh ribu aja ya)

Ibu tersebut menggelengkan kepalanya, “Yo ora iso, ora entuk, Mbak’e” (Ya ngga bisa, ngga dapet)

“Pase pinten?” (Pasnya berapa?)

“Suwidak tak wenehi wis” (Ya udah, enam puluh ribu saya kasih)

Sara menimbang-nimbang, dress tersebut sayang untuk dilewatkan, namun prestasinya sebagai penawar-harga-terbaik akan runtuh kalau ia menyanggupi harga pas ibunya. Sara masih membelai halusnya serat kain batik cap tersebut hingga akhirnya..

“Lo ngapain belanjaaaa?!?!!?!”, Hardi tiba-tiba mengejutkan Sara dan langsung menyeret Sara.

“Satu ajaaaa!!!”

“Ngga! Inget tujuan lo”

Sara tidak bisa melawan, Hardi yang tahu kejadian itu dan Sara tahu harusnya ia mengesampingkan kesenangan ini untuk hal ini.

“Yah.. Maaf”

***

Sore mulai menjelang, dan mereka sudah lama keluar dari Pasar Klewer dan memutuskan untuk beristirahat. Udara menyengat siang mulai berganti menjadi teduh dan sedikit berangin. Sara menggerai kembali rambutnya dan terduduk di depan pohon yang teduh di pinggir jalan. Terdapat ibu-ibu penjual kue serabi .

“Silahkan, Mbak”, sang ibu memberikan serabi tersebut dengan senyumnya yang ramah.

“Terima kasih ya, Bu”

Tidak lama kemudian Hardi datang dari nowhere yang langsung membeli kue serabi tersebut.

“Ramahnya orang Solo itu, sehangat kue serabi ini. Manis, menenangkan, engh.. bikin kenyang”

Hardi tergelak, “bikin kenyangnya ngga kali, emang orang Solonya elo makan?”

Muka Sara memerah malu, untuk saat ini pengandaiannya berlebihan.

“Abis darimana?”

“Ngumpulin informasi aja. Kita harus udah ada di Jogja pagi. Sekarang istirahat aja dulu”

Sara menyuap serabi terakhirnya yang masih hangat. Matanya menatap lekat Hardi, bagaimanapun sahabatnya yang paling gigih mencari informasi tentang hal ini, tentang sosok ini.

“Ya udah, kita berangkat besok pagi aja ya, Di”

“Udah? Yuk pulang”

Hardi merangkulnya, Sara tahu hanya rangkulan seorang sahabat, namun rangkulannya terasa hangat, seperti serabi tadi yang ia makan.

“Eh, kok lo bisa nawar pake bahasa Jawa tadi, Sar?” (bersambung..)

Klik ini untuk lihat sambungannya 😉

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s