The Conservatives (part.1)

Dear readers and blog-walkers,sorry for posting in Bahasa. Here’s the Prologue, you may translate it into English or another languages, written here with formal structure. Enjoy!! 😉

A woman lives in a family that bind her in conservative traditions. She’s different. She refuses all of the family’s conservatives traditions. Until she has to experience that old-fashioned traditions by herself and has to choose that option no matter what.

“Pokoknya langsung beli yang ke Jogja ya nduk, jangan nancep di Jogjanya tapi. Berhenti di kotanya Eyang!!”, seorang wanita memperingatkan anak perempuannya, yah.. Ibunya yang tidak henti mengingatkan anak perempuannya untuk tidak beli tiket jurusan lain, lalu baru menuju ke tempat tujuan.

“Iya, Bu. Iya. Tenang aja sih”, Kay-nama perempuan itu. ingin menyudahi percakapan di telepon ini, klien besar ini enggan menunggu lama.

Ndak pernah tenang nduk kalo kamu jalan sendirian, pasti ndak langsung kesana soalnya. Wislah, Ibu sama Bapak jalannya baru besok pagi ya. Sampai ketemu disana”

“Iya Bu..”, Kay lekas menutup teleponnya, dan memasuki ruang rapat, proyek bernilai milyaran rupiah tidak akan pernah Kay sia-siakan.

Jam empat sore, sesuai perkiraan, Kay mengarahkan Bapak supir taksi ke daerah Pal, Depok, mengantarkan aku pada jejeran bangunan sederhana dari triplek yang menjajakan tiket dengan tujuan yang sama. Dengan backpack ukuran 20 L berisi pakaian seadanya, Kay membeli satu tiket jurusan Jogja yang berhenti di Temanggung. Yah, kali ini Kay yang harus mengalah, tidak membeli tiket jurusan lain, karena sepertinya keperluan disana cukup penting dan terburu.

***

Tidak asing lagi bagi keluarga Kay akan kebiasaan.. entahlah ini disebut kebiasaan buruk atau baik. Perkumpulan keluarga besar yang selalu diadakan di Temanggung selalu menghadirkan Kay sebagai ‘anggota’ terakhir yang datang. Iya, sebelum kesana, Kay akan berkunjung ke tempat lain dahulu, Magelang, Jogja, bahkan sampai Surabaya. Rute ternekat Kay yaitu ke Bali dulu sebelum ke Temanggung, ketika seluruh om dan tantenya juga sepupu-sepupunya bersiap pulang, ia baru datang dengan kepangan rasta dan oleh-oleh dari Bali, dengan muka tidak bersalah tentunya.

Yang sebenarnya, kebiasaan jalan-jalan sendirinya ini, mengundang kekhawatiran kedua orangtuanya, bahkan saudaranya.

***

Walaupun keperluan disana cenderung penting, namun Kay memilih untuk menikmati perjalanan dengan naik bus. Kay takut ketinggian, enggan naik pesawat, dan memilih untuk mengulur waktu sampai belasan jam namun ia merasa aman dan nyaman dengan perjalanannya.

Kay mengarahkan pandangan ke belakang, sepi. Bahkan Kay bisa memiliki satu bangku tambahan ini sendiri, setidaknya ia mempunyai dua selimut yang bisa melapisi badan mungilnya saat perjalanan tengah malam dan mesin pendingin mulai menusuk tulang.

“Bu, Kay udah di jalan. Hati-hati juga ya Bu, Pa”, Kay mengirimkan SMS ke Ibu yang sebentar lagi mungkin akan menghubungi kalau Kay tidak mengabarkan dimana rimbanya.

***

Jam 04:30, pagi. Ia sudah sampai, dan berjalan sekitar 1 km menuju rumah Eyangnya, Angkot berwarna kuning-putih sudah berkeliaran, namun ia menikmati perjalannya, sambil melempar pandangan ke sampingnya, siluet gunung Sindoro-Sumbing, yang belum diterangi semburat merah cahaya matahari terbit. Kay merapatkan jaketnya, dinginnya udara subuh membuat badannya menggigil. Kay melihat jam.

Sebentar lagi sunrise, tanggung kalo gue masuk ke rumah Eyang terus keluar lagi. Gue akan nunggu sunrisedisini’, Kay mengurungkan niatnya langsung menuju rumah Eyang. Ia mengambil posisi strategis di pinggir jalan dan berdiri di bebatuan dekat kali yang agak terpencil, dan terdiam.

Ketika semburat merah muncul menerangi gunung tersebut dan memerahkan gunung tersebut, ucap syukur Kay tidak berhenti terucap dari mulutnya, dan ia mengabadikan pemandangan yang menghipnotis tersebut dengan ponselnya. Dan mulai berjalan ke tujuan dengan suasana hati yang segar.

***

“Ibu sama Bapakmu kapan datang, Kay?”, tante Ifa memeluk Kay.

“Nanti siang Tan, naik pesawat, aku langsung dari kos soalnya, jadi ngga bareng”. Lalu Kay sibuk mencium tangan Om dan Tantenya yang jumlahnya belasan, juga bercipika-cipiki dengan sepupunya. Mereka selalu kelihatan antusias jika bertemu Kay.

‘Kalo gue datengnya pertama disambut heboh kayak gini juga ngga ya?’

Mungkin harus Kay sendiri yang membuktikannya dengan datang pertama ke rumah Eyang, hal yang agak mustahil Kay lakukan.

“Kamu masih kerja di tempat lama, Kay?”, tante Ulia, yang masih seperti dahulu, dengan jilbab rapatnya padahal sudah di dalam rumah, menghampirinya. Kay selalu merasa kurang nyaman dengan tantenya yang satu ini. Menurutnya, di keluarga besar yang cukup konservatif ini, ialah yang merasakan keberadaannya disini adalah suatu ancaman.

“Masih, Tan”

Tante Ulia menuangkan teh hijau ke gelas mungil Kay, gelas yang selalu dipakainya sedari kecil, tidak ada yang bisa menggunakannya kecuali Kay.

“Kamu.. ngga mau pindah kerja aja gitu? Orang kantoran?”

See? The same question from you, Tan. And I give you the same answer’

“Kay masih nyaman kok disini”, Kay mengalihkan pandangannya ke taman, menyesap teh hijaunya, menghindari tatapan tante Ulia.

“Ya.. ngga apa-apa sih. Tapi kalo kamu sudah menjadi seorang istri, sepertinya kamu harus berkorban ya.”, dan tante Ulia meninggalkan Kay tanpa menunggu jawaban dari Kay.

“Heh, jelek!! Biasa aja ngeliatinnya!!!”, seorang wanita yang sebaya dengan Kay menepok pundaknya kasar.

“Sakit, nyeeet!! Baru bangun lo ye!! Ngga subuhan!!”, Kay berdiri dan menoyor kepala wanita tersebut.

“Laki gue ngga bangunin, hahah. Apa kabar lo? Masih pendek aja badan lo!!”

“Sial lo. Hahah!! Kangen nyet gue sama elo!”, Kay memeluk Anwa, sepupunya yang paling dekat, namun jarang ditemui.

Anwa duduk di depannya, mengambil pisang goreng yang masih mengepul hangat, Kay tidak ragu mengambil juga, pisang gorengnya terlalu menggoda untuk didiamkan.

“Pas tante Ulia kesini gue ngga ngerasa pesona pisang goreng ini loh”, Kay berceloteh sebelum menyomot pisangnya dengan lahap.

“Eooo.. ngajaaa… yag sensi”, berbicara dengan mulut penuh pisang menimbulkan cipratan ke arah Kar.

“Jorok lo, An!!”, Kay langsung beranjak dari tempat duduknya, dan menuju ke atas, loteng kesukaannya, tempat Kay merenung dan membagi waktu dengan alam, terkadang menimbulkan inspirasi untuk pekerjaannya.

“Gue ke atas dulu, nyusul ya!”

***

“Gue mau kesana, An”, mata Kay tidak berhenti menatap kejauhan, pesona Merbabu yang terlihat jelas dari loteng.

“Lo kan udah ke Merapi”, Anwa menatap deretan pegunungan tersebut dengan enggan, minatnya tidak sama dengan sepupunya tersebut.

“Bedalah!!”

“Ah, sama-sama gunung”

“Ish..”, Kay jengkel. Menyadari darah konservatif sang Eyang sepertinya sudah mengalir kental ke dalam tubuh sepupunya tersebut, juga sepupunya yang lain. Kay mau menimpali, tapi lebih baik menjaga sikap. Kay tahu ujungnya, tidak akan

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s