The Conservatives (part.2)

See the previous part here

***

“Kay, makan yuk sama-sama”, Ibu mengetuk pintunya pelan, Kay urung menjawab, ia berbaring tengkurap, pura-pura tidak mendengar. Perlahan Ibu membukakan pintunya.

“Kay?”

Kay tidak bergeming, ada perasaan marah yang terpendam terhadap orangtuanya karena tidak menginformasikan hal ini.

‘Tau gitu gue ke Surabaya dulu, ke Gili sekalian, naik pesawat!! Bodo deh selama di perjalanan gue gemeteran, yang penting gue datang pas mereka udah pada mau pulang!! Baru kesini seminggu kemudian!!’

Nafas Kay mulai memburu, namun ia tahan, saat ini usaha ia adalah mempertahankan posisi ‘pura-pura mati’nya sampai Ibu menutup pintu.

“Yowislah, masih kecapekan kali ya”, Ibu menutup pintu, dan Kay membuka mata.

Kay mulai merasa tidak nyaman dengan hal ini. Tapi ia sudah terlanjur disini, dan ia mulai berpikir positif, mungkin Anwa hanya bercanda, dan beberapa sugesti lainnya agar kemarahannya meredam. Sifat Kay yang temperamen masih sulit diredam, dan usahanya untuk meredakannya harus lebih cepat karena ia sedang berada di tengah keluarga besarnya.

Kay menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.

‘Biasa aja Kay, biasa aja.. Elo ngga akan mati kok kalo emang lo harus disidang’

Dan ia keluar dari kamarnya, mencoba bersikap seperti biasa.

***

Selalu ada satu orang yang berbeda, yang berani mendobrak tradisi yang sudah lama tertanam dalam sebuah keluarga besar. Banyak yang menurut, karena takut, dan memegang teguh ajaran yang sudah bersarang di otaknya, ‘nurut sama orangtua, karena pilihan orangtua ngga pernah salah’. Seseorang yang berani keluar dari tradisi tersebut akan terasingkan, setidaknya, perlakuan yang didapat tidak akan pernah sama dengan yang lain. Tapi sejauh ini, belum pernah ada yang mendobrak tradisi ini.

Baru Kay.

Kay Nafsya Sabilla, dari kecil sudah menentang tradisi tersebut sedari kecil. Kehidupannya yang lama di kota besar mampu membuka wawasannya, tapi ia masih mampu menyatu dengan keluarga besarnya walau selalu ada hal yang membuatnya tidak nyaman jika ada beberapa saudara datang kepadanya, mencoba membujuk Kay mengikuti tradisi lama keluarganya. Salah satunya tante Ulia tersebut, yang lebih ekstrim menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap pandangan Kay yang terlalu liberal tersebut, menurutnya.

“Sia-sia Bu, Kartini berjuang untuk emansipasi wanita kalau ujung-ujungnya kita harus manut dijodohin. Ngga semua jodoh dikasih sebelum umur 25 tahun, dan ngga seharusnya keluarga ini memaksakan seseorang yang belum mendapatkan jodohnya untuk dipaksa dijodohkan”

“Yah nduk, namanya juga keluarga Haduningrat, tradisi ini sudah kental mendarah-daging nduk. Ibu juga kan dijodohkan sama Bapakmu karena umur 25 tahun belum nikah”

“Loh kalo sampai umur 25 tahun nanti Kay belum niat nikah gimana? Atau malah.. ngga mau nikah?”

“Kita bisa memilih jalan kita sendiri karena sudah dewasa. Saat ini tugas orangtualah yang memberikan restu atas jalan yang sudah dipilih sang anak, atau kalau memang tidak merestui, doakanlah agar pilihan anaknya adalah yang terbaik. Karena restu Ibu tidak ada penghalangnya, kalau Ibu tidak menghendaki, akan diarahkan oleh Tuhan kok. Bener kan, Bu? Ibu yang mengajarkan semuanya”, lanjut Kay, kritis, tanpa bermaksud membangkang.

Perdebatan dengan ibu Kay beberapa tahun lalu hanya berujung pada doa Ibu untuk Kay agar diberi jalan terbaik. Kay tidak bisa dibantah, namun ia bisa menjelaskan semua alasannya menentang tradisi lama tersebut.

Kay yang berkerja di lapangan bukan menjadi pegawai kantoran yang diam di depan layar komputer.

Kay yang sering jalan-jalan jauh sendirian, kemana-mana sendirian. Ketika sepupu yang lainnya harus mendapatkan izin yang lama untuk bisa bepergian ke suatu tempat. Wanita bersuami yang sudah tidak bisa berkerja kantoran lagi, diam di rumah.

Kay yang masih bertingkah seperti anak kecil, hiperaktif namun temperamennya tinggi.

Kay yang hidupnya seperti tidak ada beban, masih bermain terus, seperti tidak punya masa depan.

Kay yang berbeda dengan saudara perempuannya yang lain.

Kay yang membuat resah keluarga besarnya.

***

Malam hari. Perbincangan hangat antar saudara yang berumur biasa dilakukan pada malam hari, jam 9 ke atas, ketika anak-anaknya yang masih kecil sudah tertidur, biasanya anak mudanya mulai keluar, mencari wedang ronde, atau hanya menikmati dinginnya Temanggung dengan berburu kuliner di alun-alun Temanggung. Namun saat itu Kay tidak diajak, Kay sudah tidak bisa protes. Persidangan dirinya benar akan dilakukan.

Nduk, bisa ke ruang tengah sebentar?”, Ibu menyapa Kay pelan yang sedang sibuk mencuci piring di dapur, Kay mengangguk pelan.

Kay menuju ruangan tengah, melewati lorong gelap yang diterangi dengan lampu petromaks di kanan dan kirinya, ia menyentuh dinding lorong yang terbuat dari kayu Gaharu yang berkualitas tinggi, menikmati teksturnya, melambatkan langkahnya.

“Duduk Kay, ngobrol yuk”, salah seorang Tantenya tersenyum ramah, Kay duduk di sebelahnya. Sejenak Kay melihat ada seseorang yang harusnya tidak disitu, yang berpura-pura tidak melihat kehadiran Kay. Kay mengernyitkan dahi, menahan kesal.

‘Pasti dia nih biangnya. Bangkek’, umpat Kay.

Kay duduk di bangku pinggir, tidak di tengah-tengah, namun Kay sudah merasa terintimidasi, ia melayangkan pandangan ke keduaorangtuanya, yang dibalas dengan anggukan tipis Bapak dan Ibunya. Kay harus menjaga sikap, menunjukkan sifat kekanakannya di hadapan sanak saudaranya kurang baik biarlah Bapak Ibunya dan Anwa yang tahu persis sifat ambegannya ini.

“Kay, kamu sudah memikirkan masa depanmu?”, bukan tante Ulia.

“Hmm.. sudah”, Kay duduk bersender, memosisikan dirinya senyaman mungkin, ia ingin ‘menantang’ Om dan Tantenya dengan cara yang sopan, menunjukkan bahwa ia sudah siap didebat atas pandangannya terhadap keluarga besar ini.

“Kami belum tahu, boleh dikasih tahu?”, adiknya Bapak bertanya.

“Saya mau jadi manager di perusahaan saya, jadi Project Manager disana, saya sudah diwawancara,

doain saja saya berhasil”

“Hmm..”

Kay menatap ke keduaorangtuanya, mereka tahu, penggunaan ‘saya’ pada tutur kata Kay bukan karena menjaga kesopanan, tapi karena ketidaknyamanan atas pembicaraan yang terjadi. Keduaorangtuanya tetap diam, dan melihat anak semata wayangnya disidang oleh saudaranya.

“Umur kamu berapa Nduk?”

“jalan 26”

“Kamu belum ada rencana menikah?”, Kay sedang menunduk sehingga tidak tahu siapa suara berat yang mengajukan pertanyaan inti tersebut.

‘Dang!! Finally.. This is it’

“Belum Om, Tan. Belum ada ren…ca…na”, Kay menekankan intonasi pada kata terakhir.

Seluruh Om dan Tantenya yang berjumlah belasan mulai melempar pandangan, mungkin menunjuk siapa sukarelawan yang siap Kay serang setelah ada satu orang yang mengajukan penawaran inti. Kay tahu, pilihan mencari calon dalam kurun waktu tertentu sudah dihapus dari daftar pilihan, ia tidak bisa memilih.

Kay tahu siapa sukarelawan tersebut.

“Kay, ada seseorang yang mau meminang kamu. Tidak perlu terburu, kalau kamu mengiyakan, ia akan setia menunggu sampai kamu siap. Tapi setidaknya kalian tunangan dulu. Ibu sama Bapak sudah setuju, kami sudah beritahu mereka lama. Setuju kan?”, mata tante Ulia melihat ke arah Bapak dan Ibu, menanti anggukan mereka.

Ibu mengangguk pelan, Kay lemas.

“Mungkin ini tradisi yang kamu tentang dari dulu, kami tahu itu. Tapi cobalah kamu mengenal dahulu pria ini, jangan tanpa pikir panjang langsung menolak. Tante tahu kamu sudah cukup pintar mencari alasan untuk menolak. Tapi, tolong.. pikirkan dahulu. Kami tahu kamu paling cerdas di antara saudaramu..”, tante Ulia menggantun kalimatnya.

“..dan paling bandel.”

Kay menunduk, bukan karena ia merenungkan kata-katanya, tetapi ia menjaga pandangan, karena lagi-lagi amarah sudah berkumpul di hatinya, ia tahan keras, menghindari serangan eksplosifnya yang akan melotot ke arah tante Ulia. Bagaimanapun, masih ada orangtuanya disana, kalau ia tidak bisa menghormati Tante Ulia, ia sangat menghormati keduaorangtuanya.

 

Kay terdiam selama beberapa saat. Bagi saudaranya, pertahanan Kay mungkin sudah runtuh. Tapi bukan, Kay sedang berpikir keras menawar apa yang sebenarnya bisa dibilang bukan suatu ‘pilihan’, tapi ‘keharusan’.

***

 Tante Ulia, sosok yang sangat gigih mempertahankan tradisi keluarganya, tidak seperti Tante dan Om Kay yang lain, yang bisa menunjukkan rasa kontra terhadap pilihan Kay dengan halus, tante Ulia sangat frontal.

‘Kamu ngapain masuk Teknik? Banyak cowoknya, banyak mudharatnya’

‘Kamu kerja jadi field engineer?  Kenapa ngga di kantor aja?’

‘Jangan jalan-jalan sendiri, bahaya, kamu itu perempuan. Ojo terlalu kendhal, Nduk’

Dan banyak hal lainnya yang tante Ulia katakan untuk menunjukkan rasa tidak suka terhadap apa yang Kay minati. Kay menikmati kerja di lapangan, solo traveling, namun tante Ulia tidak suka, dan seluruh keluarga besarnya, mungkin. Namun Kay selalu bisa menahan rasa tidak sukanya dengan rasa hormatnya, baginya menghadapi keluarganya yang konservatif dengan tidak bertingkah seperti anak kecil, karena sekali saja sifat kekanakan Kay muncul, akan jadi boomerang bagi dirinya.

***

“Kenapa dia tidak ikut duduk disini?”, Kay akhirnya tidak dapat menahan diri, ia menunjuk seseorang yang sedari tadi cermat memperhatikan, tetapi ketika Kay menatap tajam ke arah lelaki tersebut, dia hanya menunduk.

Pengecut’

“Jangan hanya duduk disana Mas, bergabunglah, dan berbicaralah”, Kay sedikit berteriak ke arah lelaki tersebut.

Bimo Santosa, berumur 27 tahun. Masih ada hubungan darah sebagai sepupu jauh Kay. Kay tahu, Bimo saat ini belum menikah karena jaminan yang ia tawarkan saat itu kepada Om dan Tantenya. “Beri saya waktu 2 tahun. Saya akan bawa gadis itu”. Belakangan Kay tahu, dirinyalah yang dimaksud oleh Bimo.

“Oh, hubungan darah? Lagi?”, Kay sudah mulai menguasai persidangan tersebut, kali ini dirinya siap menyerang.

Bimo tidaklah jelek secara fisik, ia pemuda yang berjalan tegap dengan kulitnya yang berwarna kecoklatan dengan lesung pipit di sebelah kanannya, Bimo menjalankan usaha kuliner orangtuanya di Temanggung dan sukses menjadi tujuan kuliner yang selalu dicari oleh wisatawan dari luar Temanggung.

“Bimo ingin meminangmu, dia menunggumu selama 2 tahun agar memastikan kamu belum punya calon sampai umurmu 25 tahun. Dan dia siap melamarmu”, tante Ulia melanjutkan.

“Om, Tante, bisakah kalian mencarikan calon di luar lingkaran ‘keluarga’? Untuk saya setidaknya”, Kay membuka mulut lagi.

“Tapi memang saya yang ingin meminangmu, Kay”, Bimo membuka suara. Keadaannya menjadi tidak nyaman. Kay menahan diri, benar kata Tante Ulia, walau tahu ia akan menolak Bimo, ia harus lebih cerdas. Kay tidak terkejut dengan kebaeradaan Bimo yang sedari tadi hanya di ujung ruangan, alih-alih ikut jalan keluar dengan sepupunya yang lain.

“Kamu tahu kan? Walau saudara, hubungan darah kita masih jauh? Dan itu diperbolehkan di keluarga ini”, Bimo melanjutkan.

Kay menyilangkan tangannya di dada, “Oke, setelah acara aneh ini selesai, saya mau berbicara denganmu, Bimo”

“Sudah selesai kok, kalian bisa berbicara sekarang, kami akan meninggalkan kalian berdua. Selamat malam”, tante Ulia menutup persidangan yang Kay yakin ia yang merencanakan ini semua. Kay tahu mungkin persidangan untuk dirinya harusnya tidak pernah ada, karena semuanya tahu ia berbeda, persidangan ini ditujukan untuk anak-anak yang berpotensi menuruti jejak orangtuanya, tunduk dan patuh pada tradisi lama, itu bukan untuk Kay harusnya.

Ibu menyentuh pundak Kay dengan halus, Kay tidak menatap Ibunya, matanya tertuju pada Bimo, orang yang belum bergerak dari posisinya semula.

Ketika semua sudah ke kamarnya masing-masing, Kay tidak peduli mungkin ada satu-dua orang yang sedang menguping pembicaraannya.

“Duduk sini lo, deket gue.”

***

“Seenggak laku apa lo mpe mau pinang sepupu lo sendiri?”, Kay mengambil satu gelas air mineral untuknya, tapi tidak mengambilkan untuk Bimo.

“Saya memang mau meminang kamu, dari lama”

“Kalo gue ngga mau?”

Bimo menjaga sikap, bahasa tubuhnya masih kikuk, namun bisa menguasai dirinya.

“Pertimbangkan, jangan langsung menjawab tidak. Saya tahu kamu cerdas untuk memperhatikan setiap keputusanmu”

Kay melihat jam sekilas, sudah tengah malam, dan anak mudanya belum juga pulang, ingin rasanya bergabung sama mereka, menggila bersama di alun-alun, meminjam becak dan mengendarainya, membonceng Anwa dan sepupunya yang lain. Di keluarganya, memang Kay yang mempunya ide-ide gila untuk menikmati kebersamaannya dengan saudaranya.

“Lo mau gue ajak naik gunung gitu?”

“Tidak”

“Lah, lalu?”

“Saya akan membuat kamu meninggalkan hobbymu itu”

Kay mulai naik pitam.

“Ya ngga akan bisa!!”

“Tugas saya adalah mengubah apa yang pantas dilakukan oleh seorang istri. Menemani suaminya, kerja di rumah, mengurus anak-anak. Dan saya yakin bisa mengubahmu menjadi seperti itu, seperti yang Ibumu sebenarnya kehendaki.”

Bullshit”

Kay menahan rasa terkejutnya, Bimo lebih tenang daripada yang ia kira. Ia mendapat lawan yang sama cerdas, sepadan dengannya.

“Gelar gue gimana? Sebagai sarjana teknik? Ngapain mahal-mahal  gue sekolah kalo balik lagi ke dapur?”

“Gelar itu akan terus ikut di belakang namamu. Gelar itu kau gunakan untuk bisa step-up ke posisi yang lebih baik dalam karirmu. Namun ketika kamu sudah mempunyai keluarga, hakikatnya kamu sebagai wanita, dirumahlah. Saya bisa buatkan usaha dirumah untukmu.”

“Cari calon lain sana, saya tidak menghendaki Anda”.

Bimo terdiam, perubahan kata ‘saya’ pada Kay sangat disadari olehnya.

“Izinkan saya untuk mengenal Anda, lebih dalam. Jangan anggap saya sebagai sepupu Anda, anggaplah saya adalah seseorang yang mencoba mendekati, mendapatkan hatimu, sama seperti lelaki lain di luar sana yang sedang mencoba merebut hatimu. Itu saja.”

Kay menimang kata-kata Bimo, ia membenarkan, hatinya memberontak secara frontal karena ada embel-embel ‘sepupu’ pada diri Bimo, padahal jika ia menganggap Bimo  sama dengan lelaki biasa, semuanya akan terlihat biasa saja. Bimo bisa masuk sebagai kontestan baru bersama lelaki yang lain yang sedang berjuang untuk mendapatkan Kay. Memang, harusnya ia tidak dibedakan karena statusnya sebagai sepupu tersebut. Kay bisa berpikir lebih jernih saat ini.

“Kegiatan apa yang biasa lo lakukan kalo ngga kerja?”, pertanyaan pertama terlontar dari Kay, tanda seleksi secara netral dimulai terhadap Bimo.

2 Comments Add yours

  1. adichal says:

    Hey Kay, go and get a cooking book!
    LOLOLOLOLOLOL!
    *menanti sambungan ceritanya*

Leave a Reply to adichal Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s