Down the Dark Alley

Dari seberang jalan, Arina melempar pandangannya ke sekeliling, matanya awas menatap kumpulan mahasiswa yang sedang bersiap pulang, berteduh sehabis hujan yang menyiram dengan derasmalam itu.

‘Satu.. dua.. tiga.. hm… sepuluh wanita dan tiga lelaki. Dua orang bukan mahasiswa’, Arina menyebrang jalan, melewati halte yang sesak tersebut dan menuju gang kecil menuju kosannya. Malam itu menunjukkan jam sepuluh namun jalanan Kelapa Dua masih tersendat karena efek hujan deras sampai malam. Arina mengurungkan dirinya untuk pulang ke rumah dan menundanya sampai esok pagi.

Kakinya melangkah dengan cepat, perasaannya kurang nyaman melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor saja. Gang tersebut sangat gelap di beberapa area dan hanya dibantu oleh cahaya dari bangunan tinggi dan hanya menghasilkan efek remang, beberapa orang lebih memilih untuk jalan berputar namun lebih jauh dan memakan waktu lama. Arina ingin lekas sampai kosan dan beristirahat. Pertemuannya dengan dosen pembimbingnya sore itu menyisakan revisi satu bab penuh.

***

‘Dan apa yang harus gue lakukan dengan revisi penuh itu?’, pikirannya masih tersita oleh kejadian tadi, ketika tiba-tiba…

“Siapa yang mengutus lo? Alveoli? Zeolit? Hah!!??!”, seseorang pemuda menekan rongga pernapasan Arina, tidak membutuhkan tenaga besar, lelaki itu sanggup melumpuhkannya hanya menggunakan satu tangannya. Lalu pemuda tersebut melonggarkan pernapasannya dan menekan tengkuk dan rambutnya, sehingga Arina bisa kembali bernapas tapi tidak bisa melihat ke sumber suara.

“Lo.. ngomong…  apa?!?!”, Arina berusaha tidak berteriak, berteriak akan membuatnya celaka karena pemuda tersebut bisa saja membunuhnya di gang yang gelap dan sempit ini.

“Lo utusan siapa? Cara lo masih amatir!!”, pemuda tersebut masih mengetatkan ikatannya ke Arina.

“Gue..ngga tau lo ngomong apa, tapi lo akan celaka karena stunt gun ini udah ada di bawah kemaluan lo!!”, Arina sudah mengarahkan peralatan self defense berbentuk stunt gun yang berbentuk ponsel, tidak ada yang orang yang ngeh bahwa itu adalah senjata.

Napas pemuda tersebut memburu, ia melonggarkan ikatannya dan mendorong Arina kasar. Arina terbatuk-batuk namun tetap siaga, tidak membelakangi pemuda tersebut. Arina menatap pemuda tersebut. Pemuda yang ditaksir kira-kira seumuran dengannya, yang sempat ia lihat di halte, pemuda yang paling ia anggap tidak mempunyai potensi berbahaya. Karena mimik diamnya seperti tersenyum, dan dari segi fisik ia sangat menarik. Arina tidak menyangka pemuda di depannya bisa berubah menjadi berbahaya.

“Oh, pertahanan yang bagus. Siapa yang ngajarin elo, eh? Mengamati diam-diam dari seberang, membaca wajah. Oh, you’re such an amateur, Dear..”, pemuda tersebut menjaga jarak.

“Gue ngga ngerti lo ngomong apaan gue bilang!!”, Arina setengah berteriak.

Pemuda tersebut terdiam, walau cahaya sangat minim, ia bisa melihat pemuda tersebut mengamati Arina, entah apa yang dilakukannya, membaca pikiran Arina? Menelaah setiap perkataannya apakah benar jujur?

Arina ikut memperhatikan wajahnya, lalu terkejut..

“Hafizh.. Mapres Nasional tahun ini…”.

***

Hafizh, nama pemuda tersebut tersenyum, sungguh, kalau pemuda tersebut bukan mesin pembunuh Arina akan sangat tertarik pada Hafizh.

“Ya”

“Diberitakan sebagai otak rencana pembunuhan rektor kampus kita?”, Arina memegang erat stunt gunnya, alat pertahanan satu-satunya menjadi salah satu perlindungannya.

Well.. elo percaya?”, Hafizh menyilangkan tangannya, memiringkan kepalanya dan masih menjaga senyumnya.

“Ngga”

“Kalo gitu lo salah”

“Maksudnya?”

Hafizh mulai menyalakan rokoknya, jarak yang mereka bentangkan sekitar 2 m, tidak jauh bagi Hafizh untuk menyergapnya kalau Arina mencoba untuk lari atau berteriak.

“Gue memang mau membunuh rektor tersebut.  Wanna join?”

Arina menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak akan pernah”

Come on, Arina. I know you. Walau lo udah angkatan akhir, lo juga pemimpin aksi propaganda menentang kebijakan rektor kan? Gue udah mengamati elo lebih dari apa yang elo tau.”

Shit, siapa pemuda ini? Gue bener-bener ngga nyangka orang yang gue kagumi karena prestasinya adalah pembunuh’.

“Elo jujur, gue tau. Elo ngga tau apa-apa ternyata. Payah”

“Tapi gue tau apa itu Alveoli dan Zeolit. Organisasi gerilya kan? Yang dibentuk dari mahasiswa dan alumni, jasa mata-mata?”, Arina mulai mengendalikan pembicaraan.

“Ya, siapa yang berani kasih tau itu? Dosen lo? Bu Dharma?”

Arina terdiam, menyesal telah mengatakan itu.

No problem. Gue akan membunuhnya nanti, sebagai kado ulang tahun lo nanti, seminggu lagi kan?”

Dia tahu. Dia sudah tahu sejauh itu..’, kedua kaki Arina terasa lemas. Ia berharap ada satu-dua orang melewati gang ini dan membubarkan segalanya, melindungi Bu Dharma, melindungi dirinya.

***

“Kerjasamalah dengan gue, kemampuan lo membaca situasi dan membaca micro expression bisa gue pertimbangkan”

Arina bungkam. Apa yang ia perjuangkan selama 4 tahun menentang kebijakan rektorat membuahkan ancaman yang massive. Ia tidak menyangka akan terjebak dalam posisi seperti ini.

Semua akan selamat kalo elo ikut”, Hafizh melihat keraguan Arina.

Lalu Hafizh meraih tumpukan map plastik yang Arina jatuhkan saat Hafizh melumpuhkan Arina.

 Gain Self-awareness as Your Internal Beliefs ? Judul yang terlalu simpel. Ngga heran kalo lo dapet revisi total, kan?”

Arina sudah tidak merasa terkejut lagi oleh keserba-tahuan Hafizh, ia mata-mata , ia seharusnya tahu segalanya.

“Demi skripsi lo, perjuangan 6 tahun lo, eh? Gue bisa buat yang lebih dari ini. Gue bantu.”

“Dan elo ngga akan gue libatkan ke lapangan, tangan lo ngga akan berlumuran darah seperti pekerjan gue.”, lanjut Hafizh, dan merapikan semua map plastik yang terjatuh dan memberikannya ke Arina, dengan senyum manisnya.

Arina meraihnya, dengan tangan gemetar.

Hafizh beranjak, tapi kepergiannya membawa Arina mengikutinya.

***

Semakin mendekati akhir dari gang sempit dan gelap, 50 meter lagi. Hafizh berhenti. Arina menahan napas.

‘Oke, dia akan membunuh gue, sebelum gue mendapatkan titel sarjana gue’.

Hafizh kembali beberapa meter dan berhenti di celah sempit yang cukup muat digunakan sebagai tempat bersembuyi. Arina ingat pernah ada celah seperti itu, tapi tidak pernah melihat celah tersebut digunakan oleh seseorang. Kecuali..

“Kamu menguping pembicaraan mesra kami, gadis manis?”

Perempuan yang ia kenal sebagai junior Arina bersembunyi, dan gemetar. Arina yakin ia tidak sengaja menguping dan menyaksikan kejadian tadi, ia menyembunyikan diri.

Arina sontak menarik perempuan tersebut dan mengeluarkannya dengan cepat. Perempuan tersebut panik.

***

Arina menggenggam tangan perempuan tersebut.

“Jangan sakiti dia, Hafizh!!”, Arina menantang Hafizh, namun nada yang keluar terkesan memohon.

Hafizh mendekati Arina, tapi Arina tak gentar.

“Lepaskan dia, Arina. Tidak apa-apa”, Hafizh mundur selangkah, lalu Arina melepaskan juniornya. Perempuan tersebut melewati Hafizh, namun Hafizh memegang erat pergelangan tangannya.

“Lewat jalan sana, Nona. Dan jangan beritahu siapapun”, lalu perempuan tersebut yang mencoba tidak menangis berlari ke arah jalan besar. Meninggalkan mereka berdua. Hafizh memalingkan pandangannya ke Arina, lagi, dengan senyumnya, “ Gue ngelepasin dia, kan? Gue ngga seberbahaya itu, Arina”.

“Bohong. Hafizh, elo bohong”, Arina menunduk, menahan kemarahannya.

***

Langkah Hafizh terhenti dan membalikkan badannya. Ia melepaskan sarung tangan PVCnya ke selokan kecil, lalu menatap Arina.

“Maksudnya?”, nada bicara yang mulai Arina benci. Nada tanpa berdosa dari Hafizh.

‘Gue lihat semuanya. Gue lihat lo menggenggam tangan junior gue dengan sarung tangan tersebut, membuat pergelangan tangan junior gue menjadi basah. Harusnya gue langsung membiarkan junior itu pergi tanpa harus melewati elo. Harusnya gue langsung mendorong junior gue ke arah jalan besar, bukan malah harus melewati pembunuh ini.’, pikiran yang semakin tidak menenangkan Arina berkecamuk di benaknya.

“Cairan apa tadi, Hafizh?”

Lalu Hafizh mengangkat bahunya, seperti tidak tahu. ‘Munafik’, umpat Arina.

Dan Hafizh memulai langkahnya lagi, melambatkan sampai Arina sejajar dengan Hafizh.

“Dia tahu segalanya, dan akan membocorkannya. Jadi tadi.. yah.. hanya larutan kimia yang langsung meresap ke intravenanya, menyebar ke pembuluh darahnya. Dan junior kamu yang tercinta akan tertidur, Sayang. Selamanya..”

Arina tidak kuasa menahan airmatanya.

“Tidak sakit, Arina. Ia tidak akan merasakan sakit sampai..”

Bug!!

Dari kejauhan Arina mendengar bunyi tubuh seseorang berdebam.

 

 

 

 

 

 

 

15-07-2012. Rumah.

 

 

2 Comments Add yours

  1. Lanjutannya apa, kakakkkkk?

    1. Ngga semua cerita harus diselesaikan secara jantan diiik :S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s