Things I’ll Never Say

Nih, makan yang banyak”, aku memberikan lagi Magnum kedua kepadanya. Ia menggelengkan kepala.

“Ngga, satu aja”, dia masih asyik dengan tabnya, tapi aku tahu apa yang dia lakukan sebenarnya, bukan chating atau menghubungi seseorang, dia hanya.. bermain. Yah, salah satu cara lelaki melepas rasa suntuk bahkan patah hatinya. Dan aku yang menemaninya, dengan 5 Magnum Choco Truffle kesukaanku, yah.. bukan kesukaannya, yang suka makanan manis kan kebanyakan perempuan, bukan lelaki seperti dia contohnya.

 

“Gue udah bawa 5 es krim nih”, aku menyodorkan es krim kedua kepadanya, ia masih menolak.

“Ya siapa suruh bawa 5 segala”, matanya tidak lepas dari tabnya.

‘Ngga kakak, ngga adek, sama aja’, aku menghempaskan badanku di kursi yang menghadap langsung ke padang rumput indah di depanku. Beberapa anak berlarian dan orangtuanya beristirahat sambil mengawasi.

“Yang penting lo udah ngga mikirin dia lagi”, aku berkata dengan spontan, dan reaksinya berubah saat itu.

 

***

“Nah gue jadi mikirin lagi kan gara-gara elo”, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, kesal dengan perkataanku tadi.

“Maaf..”

“Es Krim?”, ini usaha terakhirku membujuknya untuk mau menerima es krim ini. Setidaknya kalau dia mau mengambil es krim kedua, dua es krim terakhir yang tersisa bisa aku habiskan walau aku akan merasa eneg. Tiba-tiba aku mendapat ide, aku beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkannya. Dia hanya menatapku sebentar, tanpa tanya lalu kembali menunduk.

Gue tinggalin beneran kalo kayak gini’  , aku mendatangi dua perempuan kecil yang sedang meniup bunga dari ilalang, aku memberikan kepada mereka dua es krim yang masih utuh dan mereka menyambutnya dengan senyum yang lebar.

“Makasih kakaaaa…”, ucap mereka bersamaan dan berlari cepat mendatangi kedua orangtuanya disana.

Lalu aku mendatanginya lagi, yang masih terlihat suntuk wajahnya.

Aku ingin sekali memeluknya, meredam kesedihan yang terpancar terlalu jelas dari wajahnya.

 

***

Aku mendatanginya, dan memeluknya. Dan berkata “semua akan baik-baik aja kok, Dean”. Dan dia memelukku lebih erat, membagi rasa sedihnya denganku, hanya denganku.

“Jangan jauh dari aku, saat ini, dan selamanya”, kata-katanya lembut berbisik di telingaku. Aku janji tidak akan pernah jauh darimu, Dean.

 

Kenyataannya tidak. Aku hanya berdiri di ujung bangku panjang itu, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dari dia. Aku hanya melihat dari ujung mataku, yah, aku yang minta dia menemaniku, bukan sebaliknya.

“Terus sampe jam berapa mau disini?”, dia membuka pertanyaan.

“Sampai dia datang”

“Hmm..”

Aku gelisah. Berdua dengannya bukan acara yang tepat. Yang aku rencanakan adalah jalan berdua, menatap lembayung dengan berangkulan, menikmati semilir angin sore, segala macam hal yang romantis. Iya, mumpung dia sedang sakit hati, tunangannya yang meninggalkannya. Dan ini adalah awal baik untuk mendekatinya. Tapi malah seperti ini, aku meminta dia menemaniku ke padang ilalang ini, dan semuanya menjadi terlalu sunyi. Aku tidak bisa menjadi teman yang menghiburnya, tidak juga bisa menjadi seseorang yang siap menggantikan tunangannya.

***

 

“Maaf ya,  tadi terlalu kasar”, dia mendekatiku, kali ini aku melihat layar tabnya sudah menghitam. Permainannya sudah selesai.

Aku hanya bisa tersenyum, aku tidak bisa marah sama sekali kepadanya.

“Santai aja, Dean”, aku menepuk pundaknya pelan. Dan kita berdua kembali asyik menikmati angin sore yang sejuk.

 

If I could say what I want to say
I’d say I wanna blow you… away
Be with you every night
Am I squeezing you too tight
If I could say what I want to see
I want to see you go down
On one knee
Marry me today

 

 

Aku berlebihan membayangkannya. Tapi aku berjanji tidak akan meninggalkan dia kalau ia melamarku sekarang.

“Eh An, gue mau nanya sama elo deh. Serius nih”, dia sudah memosisikan dirinya menghadapku.

“Iya ada ap..”, ucapanku terhenti ketika seseorang menutup mataku, dan aku tahu itu siapa.

“Kamu sudah pulang, Sayang?”, aku memeluk erat sosok itu. Dan dibalasnya dengan erat.

“Udahan? Yuk pulang. Bang, ikut aja, gue bawa mobil kok”, Lucky mengajak dia, tadi memang kita berjalan kaki, bukan mengendarai motor atau menggunakan mobil. Dia berdiri, “yuk, gue aja yang nyetir, De”

Dia melangkah di depan, aku melihat punggungnya. Seseorang yang sudah aku harapkan lama, ketika ia bertunangan, aku membuka hatiku untuk yang lain. Dan itu Lucky, adiknya.

 

Berjalan pelan, Lucky memegang tanganku erat. Namun imajinasiku tentang seseorang yang bertekuk lutut dan melamarku, kurasa hanya pantas diperankan oleh dia.

 

Guess, I’m wishing my life away
With these things I’ll never say

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s